Minggu, 15 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Imbau Truk Over Tonase lewat Jombang

23 April 2018, 18: 08: 32 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

PADAT: Jalan Ahmad Yani Bojonegoro sangat padat menjelang malam. Kepadatan karena pengalihan lalin pantura.

PADAT: Jalan Ahmad Yani Bojonegoro sangat padat menjelang malam. Kepadatan karena pengalihan lalin pantura. (M. Nurcholish/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO – Pasca ambrolnya Jembatan Cincim yang menyambungkan Widang, Tuban-Babat, Lamongan, Polres Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan berupaya mengurai kemacetan dengan cara pengalihan arus melewati wilayah Kabupaten Bojonegoro. Namun, kendaraan yang dibolehkan melewati jalur tersebut tidak termasuk bagi truk bermuatan (tonase) tinggi.

Kapolres Bojonegoro AKBP Ary Fadli mengatakan,  pengalihan arus kendaraan besar ke wilayah Bojonegoro otomatis akan menimbulkan eskalasi volume kendaraan yang ada. Apabila terus-menerus dan bolak-balik dilalui truk dengan volume besar, dia mengkhawatirkan jembatan di Bojonegoro akan cepat mengalami kerusakan. “Karena kontur jalan di wilayah Bojonegoro agak sedikit sempit dan terdapat tanjakan, khususnya di wilayah timur yakni Kecamatan Baureno,” ujarnya.

Selain itu, ada dua jembatan yang melintang di atas Sungai Bengawan Solo. Yakni, Jembatan Kaliketek Kota Bojonegoro dan Jembatan Padangan yang berbatasan dengan wilayah Cepu, Kabupaten Blora. Karena itu, dia mengimbau, khususnya kendaraan dengan volume besar, apabila dari arah timur bisa melewati Manyar, Gresik, lalu menuju jalur pantura atau langsung melewati Jombang. 

Adapun pengalihan arus tersebut diprediksi berlangsung hingga jembatan Widang-Babat tersebut selesai diperbaiki. Berdasarkan hasil rapat dengan jajaran terkait, dia mengatakan perbaikan jembatan darurat akan segera dilaksanakan. Saat ini tim dari Kementerian PUPR sudah mulai mempersiapkan jembatan cadangan sebagai pengganti jembatan yang rusak. “Diharapkan sebelum arus mudik Lebaran, jembatan tersebut telah selesai diperbaiki,” terangnya.

Kasatlantas Polres Bojonegoro AKP Aristianto Budi Sutrisno mengungkapkan, meski dijadikan jalur alternatif, jalanan Bojonegoro masih terpantau ramai lancar. Jumlah volume kendaraan yang melintas terlihat mulai ada kenaikan meski belum secara signifikan. “Intensitas volume kendaraan akan meningkat pada sore dan malam,” tuturnya.

Sementara itu, beberapa petugas Satlantas Polres Bojonegoro terus disiagakan di beberapa titik yang rawan macet dan rawan kecelakaan. Khususnya di wilayah perbatasan, di antaranya  dua jalur rel kereta api (KA) di Desa Tawang dan jalur rel KA di Desa Gajah, Kecamatan Baureno. “Anggota yang disiagakan untuk mengatur arus lalu lintas agar mampu mengurai kemacetan,"jelasnya. 

Meski demikian, perwira berpangkat tiga balok di pundaknya itu pun menambahkan bahwa pengalihan jalur tersebut tak hanya lewat Bojonegoro saja.  Terdapat tiga jalur alternatif, yaitu akses melintasi Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Jombang, dan Kabupaten Tuban. “Tumpuannya tak hanya Bojonegoro, bersama Satlantas Polres Tuban dan Lamongan, kami arahkan juga jalur alternatif lewat Jombang atau Tuban,” katanya.

Kendaraan dari Surabaya hendak ke Semarang bisa melewati alternatif jalur tengah, yaitu Babat-Bojonegoro yang berjarak sekitar 36 kilometer. Jalur inilah yang menghubungkan antara Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah lewat Kecamatan Cepu, Blora, hingga ke Rembang. 

(bj/gas/nas/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia