Senin, 27 Jan 2020
radarbojonegoro
icon-featured
Bojonegoro

Pengaktifan Jembatan Timbang Belum Jelas

20 April 2018, 19: 43: 11 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

TAK FUNGSI: Jembatan timbang di Baureno yang mangkrak tak digunakan oleh pemerintah pusat. Belum ada penjelasan dari pemerintah pusat alasan belum difungsikan.

TAK FUNGSI: Jembatan timbang di Baureno yang mangkrak tak digunakan oleh pemerintah pusat. Belum ada penjelasan dari pemerintah pusat alasan belum difungsikan. (M. Nurcholish/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO – Sejak jembatan timbang di Kecamatan Baureno diambil alih oleh pemerintah pusat, kondisinya mangkrak dan sangat disayangkan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Bojonegoro. Sebab, peran jembatan timbang sangat krusial bagi kelancaran dan keamanan lalu lintas di Bojonegoro. Namun, karena jembatan Widang-Babat ambrol, Kemenhub mengagendakan segera mengaktifkan jembatan timbang yang telah diambil alih tersebut.

Agenda tersebut disampaikan oleh Kepala Dishub Bojonegoro Iskandar, seusai mengikuti rapat di Dishub Provinsi Jatim. Dia mengatakan bahwa salah satu penyebab ambrolnya jembatan Widang-Babat yang menewaskan satu sopir truk tersebut diakibatkan over tonase tiga truk yang mencapai 120 ton, padahal jembatan tersebut hanya mampu menahan beban kendaraan hingga 45 ton saja. “Sehingga, peristiwa tersebut menjadi atensi dan untuk mengantisipasinya  akan segera diaktifkan kembali jembatan timbang, salah satunya di Bojonegoro,” tuturnya. Namun sayangnya, jadwal untuk memulai pengoperasiannya kembali belum jelas juga.

Iskandar merasa pemerintah pusat terlalu bernafsu besar, tetapi tenaganya kurang. Sehingga, selama setahun lebih jembatan timbang Baureno diambil alih, ternyata hingga sekarang masih mangkrak. “Padahal peralatannya sudah berfungsi, tetapi pusat belum siap SDM-nya,” jelasnya. 

Di sisi lain, apabila alasannya pungutan liar (pungli), seharusnya peran petugas pengawas harus lebih ketat dan tegas lagi. Biar bagaimanapun, jembatan timbang harus selalu aktif. “Pungli ya harus ditindak tegas, kalau perlu langsung dipecat apabila memang ada buktinya,” ujarnya. Jadi, lebih baik memecat satu orang untuk masyarakat banyak, daripada negara menelan kerugian. 

Mengingat, saat ini truk-truk yang melintas di Bojonegoro tonasenya sangat tidak wajar. Truk over tonase tentu bisa merusak jalan atau jembatan, bikin macet, dan sebagainya. Kini, Bojonegoro juga dijadikan jalur alternatif akibat ambrolnya jembatan Widang-Babat. Jadi, sedikit banyak akan berpengaruh dengan lalu lintas Bojonegoro. “Kalau jembatan timbang tidak segera diaktifkan, tentu tidak menutup kemungkinan jalur Bojonegoro akan padat oleh truk-truk bermuatan besar,” pungkasnya.

(bj/cho/gas/nas/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia