Senin, 27 Jan 2020
radarbojonegoro
icon-featured
Features

Berkah, Cerita Pemilik Warung yang Untungnya Naik Tiga Kali Lipat

Oleh: Indra Gunawan

19 April 2018, 17: 48: 39 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

RAMAI: Warung kopi sekitar Jembatan Cincin yang laris dikunjungi para pembeli yang nonton proses evakuasi truk kemarin,

RAMAI: Warung kopi sekitar Jembatan Cincin yang laris dikunjungi para pembeli yang nonton proses evakuasi truk kemarin, (Anjar D. Pradipta/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

FEATURES - Cuaca panas menyelimuti Jembatan Cincin penghubung Kecamatan Babat, Lamongan – Kecamatan Widang, Tuban Rabu siang (18/4). Di ruas jalur yang di tutup police line ini terlihat ramai. Menuju 150 meter (m) ke utara terlihat tiga truk masih berada di kubangan air Sungai Bengawan Solo. Panas terik tak menghalangi petugas terkait untuk melakukan evakuasi bangkai tiga truk dengan cepat. 

Untuk berteduh, mereka memanfaatkan warung-warung yang berada di sebelah selatan jembatan yang memiliki panjang 260 m tersebut. Warung milik Sulikah salah satunya. Perempuan berkulit sawo matang itu makin sibuk pasca ambruknya jembatan di jalan nasional tersebut. Tak ada waktu untuk duduk. Perempuan berjilbab itu menaruh beberapa cangkir dan gelas di atas meja. 

“Lebih ramai dibanding hari biasanya mas,” tutur ibu enam anak itu sembari menyelesaikan pekerjaannya.

Tangannya tak berhenti menaruh gula, kopi, hingga minuman sachet. Sesekali dia memasukkan air ke dalam panci di atas dua kompor tungku disebelahnya. Belum juga air mendidih sudah ada yang memesan lagi. Ketika ada waktu senggang, Sulikah menggoreng tahu dan pisang goreng. “Biasanya yang mampir ke sini sopir, kernet, dan beberapa penumpang angkutan,” ujarnya. 

Warung panjang 4 m dan lebar 7 m, dengan dinding papan dan atap seng terlihat sesak dipenuhi orang. Pelanggannya tak hanya masyarakat sekitar. Tapi petugas kepolisian dan pegawai dari sejumlah instansi yang terlibat dalam evakuasi tiga truk terperosok di Jembatan Cincin Lama. Terlihat beberapa jurnalis dari beberapa media terlihat duduk di bangku panjang, sembari serius menatap layar laptop.  “Ada petugas kepolisian, wartawan, dan petugas yang menangani jembatan. Datangnya bergerombol jadi ramai,” tukasnya.  

Sembari membeli makanan dan minuman, sebagian pelanggan juga meminjam stop kontak. Sebagai isi daya smartphone, laptop, hingga power bank. Sejak insiden ambruknya jembatan Selasa lalu (17/8), Sulikah mendapat penghasilan tiga kali lipat lebih banyak dibanding hari biasa. Penghasilan terbesarnya dalam sehari Rp 200 ribu, tapi dua hari ini dalam sehari Sulikah mendapat sekitar Rp 600 ribu per harinya. “Itu hitungannya masih penghasilan kotor mas,” imbuh perempuan asal Desa Truni, Kecamatan Babat, Lamongan, tersebut. 

Biasanya Sulikah menghabiskan setengah kilogram (kg) gula dan kopi untuk tiga hari. Tapi dua hari ini, dia menghabiskan setengah kg hanya dalam waktu sehari. Sulikah menghargai secangkir gelas Rp 2.500. Musim kemarau yang datang membuat lebih banyak yang memesan es dibanding kopi. “Lebih banyak yang pesan es teh daripada kopi, karena cuacanya sangat panas,” imbuhnya. 

Biasanya Sulikah berjualan hingga pukul 21.00 WIB. Selasa lalu sebenarnya dia ingin membuka warung hingga dini hari. Tapi putri bungsunya memaksa untuk pulang ke rumah. Terpaksa dia pulang ke rumah yang jaraknya sekitar 3 kilometer (km) dari warung milik Sulikah di dekat Jembatan Cincin. Ketika berangkat dan pulang dari warung dia dijemput suaminya, yang sehari-hari menjadi penarik becak. Bagi Sulikah dengan ekonomi menengah ke bawah, penghasilan ini menjadi sangat berharga.

(bj/jar/ind/nas/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia