Sabtu, 25 Jan 2020
radarbojonegoro
icon-featured
Features

Tak Punyai Firasat, ini Cerita Korban Selamat dari Ambruknya Jembatan

Oleh: Indra Gunawan

18 April 2018, 09: 06: 10 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

MOTOR DIEVAKUASI: Motor yang dikendarai oleh Ubaidilah, korban ambruknya jembatan sedang dievakuasi warga. Ubaidilah selamat dalam peristiwa tersebut.

MOTOR DIEVAKUASI: Motor yang dikendarai oleh Ubaidilah, korban ambruknya jembatan sedang dievakuasi warga. Ubaidilah selamat dalam peristiwa tersebut. (Anjar D. Pradipta/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

Selasa, 17 April 2018 bakal menjadi saat-saat tak terlupakan bagi empat korban selamat, dari kejadian ambruknya Jembatan Cincin Lama penghubung Lamongan – Tuban. Ubaidillah Masum dan Muhammad Rizal Afidudin berboncengan mengendarai motor. Sedangkan, Saiful Arifin dan Samsul Arifin sama-sama mengemudikan truk. Bagi mereka detik-detik saat kejadian nahas itu serasa berhadapan pada kematian. 

Ubaidillah Masum sudah menetapkan jadwal jika Selasa (17/4) menuju ke rumah rekan satu kerjanya Muhammad Rizal Afifudin di Desa Sumurgenuk, Kecamatan Babat, Lamongan. Dipikirannya saat itu hanya memikirkan untuk menuntaskan pekerjaan di hari itu. Mengendarai motor bebek nopol L 3466 DJ, Ubaidillah meluncur dari rumahnya di Kecamatan Palang, Tuban. 

Tak ada yang aneh ketika pria 24 tahun itu melintas di Jembatan Cincin Baru dari arah Tuban menuju Lamongan. Truk-truk besar selalu menghiasi jembatan sepanjang 260 meter (m) tersebut. Ubaidillah pun tiba di rumah Rizal. Tak lama mereka berboncengan menuju ke Widang. Awal melintas di Jembatan Cincin Lama tak ada hal yang berbeda. Melintasi bagian pertama dan kedua dengan mulus. 

“Sebelumnya ya gak memiliki firasat apa-apa yang menjadi petanda ada kejadian ini,” ujar Ubaidillah kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Tapi di bagian ketiga atau tepatnya 150 m tiba-tiba jantungnya berdebar sangat kencang. Jembatan yang dilintasinya ambruk. Lintasan yang semula tegak lurus, berubah menjadi papan seluncur yang membuat kecepatan motornya tak bisa dikendalikan. Detik-detik itu menghadapkannya pada kematian. Tak ada pilihan dan tak ada hal yang bisa dilakukan kecuali pasrah. Secara logika, pengendara motor bersama tiga truk besar terperosok ke dalam aliran sungai terpanjang di Pulau Jawa. 

“Hanya bisa pasrah saja. Tapi ada rasa takut yang luar biasa. Pikiran jika saya tak bisa berenang. Tapi untungnya tak terlalu dalam karena tertahan jembatan,” katanya. 

Mereka berhenti sejenak ketika sadar jika selamat dari kejadian maut tersebut. Dengan rasa shock yang masih menyelimuti, Ubaidillah dan Rizal mengumpulkan segenap tenaga yang tersisa untuk keluar dari tempat tak diinginkannya tersebut. Mereka berdua memanjat truk-truk sebagai jalan keluar, karena tak mengetahui jika sisa jembatan masih bisa dilintasi. Setelah mencapai atas, mereka berteriak sekencang-kencangnya untuk meminta pertolongan. 

“Yang terbesit ya bagaimana caranya bisa menyelamatkan diri,” tukasnya. 

Mereka tak peduli lagi dengan atribut yang dikenakan saat bekerja. Sepatu pantofel milik keduanya masih tertinggal di bak dump truk bermuatan pasir. Sepatu pantofel itu menjadi petanda yang sangat jelas, bagaimana perjuangan mereka untuk menyelamatkan diri. Motor inventaris di kantornya yang menjadi tunggangan untuk bekerja pun tak digubris. 

“Saya tahu motornya masuk di bawah truk,” katanya.  

Bayangan kejadian itu terus berputar-putar di kepala Ubaidillah. Pria berkulit sawo matang itu duduk di depan Puskesmas Widang, Tuban dengan tatapan kosong. Dia seakan tak percaya pada kejadian yang dialaminya. Selamat hanya beberapa detik saja dari kejadian maut. Ada kekecewaan dari kejadian itu. Tentang kondisi jembatan yang sudah usang, serta tak adanya pengawasan dari truk-truk bertonase besar karena masih ditutupnya jembatan timbang Lamongan. Tapi di dalam hari Ubaidillah masih tersimpan rasa syukur, dirinya masih bisa merasakan hidup. 

“Sangat bersyukur bisa selamat,” tukasnya. 

 Ubaidillah tak mengalami luka sedikitpun. Berbeda dengan rekannya yang tergolek di salah satu ruang di Puskesmas Widang, Tuban. Rizal tertidur lelap yang seakan menjadi pil ampuh untuk menghilangkan rasa sakit di tangan dan pinggangnya. Serta itu juga bisa menjadi obat mujarab untuk melupakan kejadian paling menakutkan dalam hidupnya itu. 

“Korban tidak apa-apa. Cuma masih sangat shock atas kejadian itu,” ucap Nur Kholik, perawat di Puskesmas Widang. 

Beberapa sanak saudara kedua korban tersebut datang menjemput. Salah satu keluarga membangunkan Rizal dari tidurnya. Tapi Rizal tak bisa melontarkan banyak kata, yang hanya bisa meringis kesakitan. Namun, Rizal tak bisa menutupi jika perasaan shock masih membelenggunya. 

“Ini di pinggang masih terasa sangat sakit,” ucap Rizal sakit sambil memegangi pinggangnya dengan mimik meringis. 

Rasa syukur juga menyelimuti Saiful Arifin. Meski terlihat cukup tenang, tapi ada rasa shock di wajahnya. Setelah menjawab awak media, petugas kepolisian Polsek Widang membatasi orang untuk menemuinya. Namun, wartawan koran ini belum mendapat informasi terkini terkait kondisi Samsul Arifin, sopir dump truk yang dirawat di Rumah Sakit Muhammadiyah Babat.

(bj/can/ind/nas/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia