Rabu, 14 Nov 2018
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Sekitar 200 Pekerja Mogok Kerja

Minggu, 15 Apr 2018 06:25 | editor : Fa Fidhi Asnan

demo

AKSI BURUH: Para pekerja ketika berunjuk rasa. Mereka tetap meminta tuntutan dipenuhi. (Anjar D. Pradipta/Jawa Pos Radar Lamongan)

PUCUK - Sekitar 200 pekerja PT Superior Prima Sukses (SPS) Bless Con memilih mogok kerja mulai Jumat (13/4) hingga lusa (16/4). Aksi dilakukan Aliansi Pekerja PT SPS tersebut sebagai bentuk solidaritas pada 26 karyawan yang di putus hubungan kerja (PHK). Aksi dilakukan sejak Jumat lalu di perusahaan yang berlokasi di Desa Warukulon, Kecamatan Pucuk, belum ada titik temu. “Sejak berdirinya pabrik ini, sudah ada 26 pekerja dikeluarkan secara sepihak.

Walaupun kontrak kerjanya belum selesai,” kata Iwan Setiawan, koordinator aksi mogok kerja. Ada tiga tuntutan yang dilayangkan pekerja. Di antaranya PT SPS Bless Con kembali mempekerjakan 26 pekerja tersebut. Serta, menyusun perjanjian kerja bersama (PKB) sebagai perjanjian antara serikat pekerja dan perusahaan. “PKB harus tercatat di instansi bertanggung jawab pada ketenagakerjaan. Agar bisa dikontrol dengan baik,” imbuhnya. Selain itu, pekerja meminta agar perusahaan menimbang kapasitas HRD.

Setidaknya agar buruh yang mayoritas statusnya outsourcing tersebut tak mendapat perilaku tak adil. “Kalau sampai Senin nanti tuntutan kami tidak dipenuhi, maka kami akan melakukan aksi mogok lanjutan,” terangnya. Ratusan pekerja dan forum peduli masyarakat (FPM) Desa Warukulon kembali mendatangi pabrik yang memproduksi bata ringan sabtu pagi. Namun, manajemen perusahaan bersikukuh tak bisa memenuhi tuntutan para pekerja.

“Sudah ada negosiasi, bagaimana langkah baiknya.Tapi sampai saat ini masih belum ada titik temu,” ujarnya. Manajer PT SPS Bless Con Fanani dan Jarot Hendro Sucahyo, HRD PT SPS Bless Con menemui ratusan pekerja. Dihadapan para pekerja, Hendro meminta agar pekerja mogok tak menghalangi jalan masuk pabrik. Serta, siapapun yang ingin masuk dan bekerja dipersilakan. Selanjutnya, ratusan massa membubarkan diri. “Iya, kami belum bisa memenuhi tuntutan dari pekerja. Karena itu sudah menjadi keputusan bersama,” ujar Hendro.

(bj/ind/rij/faa/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia