Selasa, 25 Jun 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features

Ekah Nur, Pengusaha Kuliner yang Awalnya Belajar dari Orang Tua

Oleh: Rika Ratmawati

14 April 2018, 05: 40: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Ekah Nur, Pengusaha Kuliner

Ekah Nur, Pengusaha Kuliner (Istimewa/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

FEATURES - Berangkat dari hobi, membawa keuntungan bagi Ekah Nur. Salah satu penyiar radio di Lamongan tersebut memang gemar menjajal menu - menu baru. Sejak kecil, Ekah sudah membiasakan diri belajar memasak dari ibunya. 

Bahkan, semasa kecilnya, dia kerap dibelikan mainan alat memasak  dibandingkan boneka. Setelah beranjak dewasa, Eka semakin terbiasa dengan aneka macam peralatan dapur. “Kalau belanja perabot dapur, pasti selalu diajak,” kenangnya. 

Kemampuan memasaknya yang dirasa meningkat, membuat Ekah memberanikan diri membuka usaha di bidang kuliner. Menurut dia, hobi itu harus menguntungkan. Tidak hanya membuat badan lebih berisi,  juga memberikan kelonggaran kantong. 

Bagi Eka, memasak itu juga merupakan panggilan hati. Kalau tidak nyaman, hasilnya juga kurang memuaskan. Karena banyak motivasi dan arahan membangun untuk memanfaatkan peluang, maka Ekah semakin serius membangun usahanya.  

‘’Bumbunya tetap mengutamakan rempah Jawa, meski tidak dominan,” ujarnya pemilik salah satu resto di Lamongan tersebut.

Untuk menguji kemampuan memasaknya, Ekah mengikuti lomba penerus kuliner nusantara awal bulan ini. Dia bersama lebih 100 finalis dari seluruh Indonesia beradu menu masakan. Ekah mencoba membawa menu-menu khas Lamongan untuk disajikan dalam lomba tersebut. Beberapa pesaingnya merupakan pengusaha kuliner kenamaan dan sudah memiliki sejumlah cabang restoran di luar kota. 

Berbekal bakat dan kemampuan, Ekah akhirnya berhasil masuk 22 finalis lomba tersebut. Selama mengikuti lomba, dia banyak bertemu dengan pengusaha kuliner dari berbagai daerah. Ekah merasa berhasil menyerap sejumlah ilmu dari koki handal Indonesia. Salah satunya, Siska. 

‘’Ternyata pengusaha itu merintisnya dari nol semua, tidak ada yang instan,” jelasnya.  

Belajar memasak dari keluarga juga dilakukan Novita Wijayanti. Penerus depot di pinggir jalan nasional itu masih mendapatkan sebagian ‘’warisan’’ ilmu memasaknya dari sang ayah, Handy Alianto. Novi merasa belum sepenuhnya menguasai resep menu – menu depotnya. Dia masih perlu belajar banyak. Sebab, menu-menu depotnya selalu mengandalkan cita rasa leluhurnya. “Kalau anak muda biasanya lebih mengutamakan sesuatu instan,” ujarnya. 

Novi meneruskan usaha keluarganya sejak tiga tahun lalu. Karena usaha ini sudah dirintis dengan mengandalkan bumbu khusus, maka belajarnya cukup lama. Bahkan sampai sekarang, dia masih terus belajar, karena belum semua menu dikuasainya. “Jadi belajarnya harus satu - satu dulu,” jelasnya. 

Untuk memasak, dia lebih banyak belajar dengan sang ayah. Meski resepnya sudah ada, Novi kerap menemui kesulitan saat menyesuaikan rasa. Resep warisannya lebih mengutamakan rempah – rempah, sehingga akan sulit menyesuaikan takarannya. Proses ini memang butuh waktu lama. Bahkan, dia juga terus menggali banyak pengetahuan memasaknya dari beberapa daerah di luar Lamongan. “Meski sudah punya ciri khas menu, tapi  depotnya juga terus memberikan menu baru untuk merefresh menu lama,” jelasnya.

Novi menjadi generasi ketiga. Sebelumnya, Handy Alianto yang memegang kendali. Dia juga banyak belajar dari ayahnya sekaligus kakeknya Novi, Asikin. Dia yang lebih awal merintis warung makan dengan menyodorkan sajian gule kambing sebagai menu khasnya. Pada tahun 1993, warung itu berubah menjadi depot dengan pilihan menu lebih banyak. 

Menurut Handy, mempertahankan resep nenek moyang itu tidak gampang. Apalagi, bila menu tersebut sudah dikenal banyak orang dari berbagai daerah. Handy selalu berusaha untuk tidak meninggalkan resep dari ayahnya. Menurut dia, resep itu menjadikan depot bisa berkembang pesat. Selain itu, ditunjang pelayanan yang lebih baik. 

Hidup di tanah Jawa membuatnya sangat bersyukur karena bisa dengan mudah mendapatkan rempah-rempah untuk bumbu masaknya. Selain menyajikan cita rasa khas, bumbu rempah merupakan resep khas dari orang tuanya. Bahkan, Handy  selalu meracik bumbu setiap menu di depotnya. “Karena beda tangan rasanya akan beda, meski resepnya sama,” jelasnya. 

(bj/rka/yan/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia