Sabtu, 15 Dec 2018
radarbojonegoro
icon featured
Hukum & Kriminal

Carnopen Meredup, Double L Merajalela

Jumat, 13 Apr 2018 05:30 | editor : Ebiet A. Mubarok

MERESAHKAN: Sejumlah tersangka peredaran obat-obatan terlarang yang diamankan Satreskoba Polres Tuban selama dua bulan terakhir.

MERESAHKAN: Sejumlah tersangka peredaran obat-obatan terlarang yang diamankan Satreskoba Polres Tuban selama dua bulan terakhir. (Yudha Satria Aditama/Jawa Pos Radar Tuban)

TUBAN –Pasar peredaran obat daftar G yang disalahgunakan di Tuban bergeser. Kalau sebelumnya carnopen merajai, kini peran tersebut diambil alih double L. Kedua pil koplo ini memiliki efek yang sama. Bila dikonsumsi berlebihan bisa membuat nge-fly. Terindikasi kuat tergesernya peredaran carnopen karena hukuman terhadap penyalahgunaan obat bersandi Mbah Karno ini lebih berat.

Sejak 20 Maret lalu, polisi menjerat pengedarnya dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukuman minimal empat tahun. Ancaman hukuman tersebut sama beratnya dengan pengedar psikotropika jenis sabu.

Bandingkan dengan pengedar double L. Pengedarnya masih dikenakan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Ancaman hukumannya jauh lebih  ringan. Rata-rata mulai 3 bulan hingga sekitar 1 tahun.

Tergesernya carnopen terlihat jelas dari tren penjualan obat doubel L di Bumi Wali. Selama dua bulan terakhir Satreskoba Polres Tuban mengamankan 3.393 butir double L. Jumlah tersangkanya delapan orang. Jumlah barang bukti tersebut jauh lebih banyak jika dibanding tangkapan carnopen. Dalam waktu yang sama, polisi hanya mengamankan 149 butir carnopen dari 3 tersangka. 

Kapolres Tuban AKBP Sutrisno HR didampingi Kasatreskoba Polres Tuban AKP I Made Patera terang-terangan mengatakan, tangkapan tersangka pengedar carnopen selama setahun terakhir menurun drastis jika dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, menurunnya pasar carnopen diambil alih double L. ‘’Pusat bandar double L ini banyak dari kota-kota besar, salah satunya Surabaya,’’ kata dia. 

Mantan Kasatintelkam Polrestabes Surabaya ini memaparkan, Kecamatan Palang masih mendominasi peredaran pil koplo tersebut. Posisi kedua Kecamatan Tuban. Dua kecamatan tersebut diakuinya masih menjadi incaran empuk para pengedar. Konsumen terbanyak kalangan remaja pengangguran. 

Sutrisno khawatir celah perbedaan ancaman hukum tersebut benar-benar menjadi peluang bagi para bandar untuk beralih dari carnopen ke double L. Padahal, dua obat tersebut mempunyai efek yang sama. Double L lebih diuntungkan dari harganya yang lebih murah. Terkait rendahnya ancaman hukuman terhadap pengedar double L, Sutrisno berencana mengkaji lebih jauh.

(bj/yud/ds/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia