Kamis, 18 Jul 2019
radarbojonegoro
icon featured
Redaksi

Bangkit setelah Gagal di Dolly 

12 April 2018, 18: 57: 48 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

DISWAY - Saya sudah terkesan sejak mengenalnya. Tiga tahun lalu. Sejak dia menjabat Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Namanya agak sulit dieja: Dalu Nuzulul Kirom. Fakultasnya sulit dipelajari: Teknik Elektro. Aktivitas sosialnya sulit dimengerti: merehabilitasi bekas kompleks pelacuran terbesar: Gang Dolly. Surabaya.

Terutama membenahi aspek ekonominya. Agar para pelacur tidak kembali ke profesi tertuanya. Saya sudah membayangkan betapa sulit melaksanakannya. Masih mahasiswa tapi berani masuk ke persoalan yang begitu rumit. Tapi saya menangkap ada api di dadanya: anak ini militan. Penuh ide.

Badannya memang kurus dan kulitnya agak gelap. Tapi jalan pikirannya terang benderang. Mungkin karena dia dilahirkan di malam 17 bulan puasa. Malam peringatan turunnya kitab suci Alquran. Nama Dalu Nuzulul Kirom berarti malam turunnya kemuliaan.

Dalu pun menguraikan rencana-rencana mulianya. Penuh gejolak. Sesak idealisme. Seperti mau meledak. Dia lantas minta saran saya. Saya merenung sejenak. Perlukah anak muda penuh ide seperti Dalu diberi saran? Tidakkah nasihat hanya akan merusak idealismenya? “Lakukan saja apa yang ada di pikiran Anda. Saran terbaik akan datang dari lapangan,” kata saya.

“Tapi saya ingin ketemu Anda lagi. Enam bulan lagi. Ingin mendengar hasilnya,” sambung saya. Saat itu. Enam bulan kemudian saya kena perkara. Tidak bisa menemui Dalu. Juga tidak bisa menemui aktivis mahasiswa lain sekelas Dalu. Di bidang lain.

Bulan lalu Dalu menghubungi saya. Ingin bertemu. Saya pikir dia akan menceritakan perkembangan Gang Dolly. Setelah dua tahun tidak ketemu. Tapi rasanya tidak. Tahun lalu saya muter Gang Dolly. Mengunjungi taman-taman baca Alquran di kompleks pelacuran itu. Yang dibuka oleh aktivis pemuda di sana. Tapi bukan Dalu. Nama Dalu tidak berkibar lagi di Dolly.

Kami pun sepakat bertemu di rumah saya. Senin kemarin. Pukul 07:00. Kebetulan hari Senin pagi adalah satu-satunya hari libur bagi saya: libur senam. Saya kaget. Dalu membawa rombongan enam orang. Salah satunya wanita berjilbab. Mereka adalah para junior Dalu di ITS, Unair, dan UIN Sunan Ampel.

Status mereka baru lulus kuliah. Ada akuntansi, dokter hewan, teknik kimia, dan fakultas dakwah. Umur mereka antara 22 dan 23 tahun. Hanya Dalu yang 28 tahun. Dua tahun saya tidak ketemu Dalu. Tampilannya tidak berubah. Kurus, gelap, menggebu-gebu, dan penuh idealisme.

“Apa kabar Dolly?,” tanya saya.

“Itulah Pak, mengapa saya ingin ketemu,” jawabnya.

Dalu lantas menceritakan ruwetnya birokrasi di Dolly. Kehadiran orang seperti Dalu bisa saja dianggap pesaing. Bukan partner. Saya sudah menyangka. Tapi biarlah aktivis-idealis seperti Dalu mengalaminya sendiri. Mumpung masih belia. Benturan itu akan memperkaya jiwanya. Sekalian ujian. Apakah idealismenya karbitan.

Dalu ternyata segera bangkit. Itulah baiknya kejatuhan terjadi di saat anak masih muda. Mudah bangkit. Gampang “move on”. Setelah dua tahun tidak bertemu ternyata Dalu bukan karbit. Dalu, dan teman-teman mudanya itu sudah banting setir. Membuat start-up company.

Bidang garapnya masih sarat idealisme. Tapi sudah lebih memiliki roh. Sudah memiliki fondasi. Untuk kelak bisa berkembang. Ke samping maupun ke atas. Inilah jenis start-up yang berpijak ke bumi lokal tapi siap menjunjung langit nasional. (DIS/BERSAMBUNG BESOK)

(bj/*/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia