Minggu, 26 May 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features

Agus Budi Prasetyo, Selalu Tegang ketika Memakai Ban Kapten Persibo

Oleh: Wahyu Rizkiawan

11 April 2018, 18: 46: 44 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

SANG KAPTEN: Agus Budi Prasetyo saat berlaga membela Persibo dalam lanjutan Liga 3 tahun 2017 saat uji coba melawan timnas U-21. Agus menjadi kapten Persibo sejak 2017. 

SANG KAPTEN: Agus Budi Prasetyo saat berlaga membela Persibo dalam lanjutan Liga 3 tahun 2017 saat uji coba melawan timnas U-21. Agus menjadi kapten Persibo sejak 2017.  (M. Nurcholish/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

FEATURES - Senyum malu-malu Agus Budi Prasetyo merekah perlahan, ketika Jawa Pos Radar Bojonegoro bersambang ke base camp Persibo Bojonegoro di jalan Lettu Suwolo kemarin (10/4). Kesibukan lelaki akrab disapa Agus itu meningkat pasca dipilih sebagai kapten. Tidak hanya sibuk mengoordinir kawan-kawannya berlatih, tapi juga sibuk mengelola beban besar yang dia pikul: menjadi pemimpin skuad. 

Kepada Radar Bojonegoro, Agus meluangkan waktu makan siangnya untuk berbincang-bincang banyak hal. Selain target dan strategi bakal dilakukan pada pekan ke-4 melawan Perspa sore ini, dia juga bercerita tentang awal mula dia mengenal sepak bola dan perasaan tegangnya kala membebat ban kapten di lengan tangannya. 

“Awalnya dulu malah gak mengira kalau mau jadi pemain profesional,” kata lelaki 21 tahun itu. 

Tidak seperti pemain bola lain yang memang mengenal sepak bola sejak kecil, perkenalan Agus dengan sepak bola justru telat. Dia mengenal sepak bola ketika sudah masuk kelas VII SMP. Itu pun, pertama kali karena mengantar saudaranya belajar bermain bola di SSB Indonesia Muda (IM) Bojonegoro. Melihat saudaranya bermain, dia pun mencoba ikut berlatih. 

“Itu pertama kali saya main bola. Dan entah kenapa saya benar-benar merasa suka,” kata Agus. 

Pria kelahiran Tuban itu mengakui, meski terlahir dan berdomisili di Tuban, justru dia sangat dekat dengan Bojonegoro. Sebab, dia lahir di Kecamatan Soko yang berbatasan dengan Bojonegoro. Praktis, teman-teman bermainnya pun banyak dari Bojonegoro. Bermain bola yang awalnya hanya iseng dan mengantar saudaranya, dia benar-benar mulai menikmati. 

Puncaknya pada 2015 lalu saat dia terpilih ikut membela Bojonegoro pada Liga Remaja. Pada 2016, Agus juga ikut membela Persibo pada Dirgantara Cup di Jogjakarta. “Pada 2017 saya masuk skuad Persibo di bawah asuhan pelatih Putu,” ucap dia. 

Agus menceritakan jika sejak menjadi kapten, banyak perubahan dia alami. Terutama dalam berperilaku di lapangan maupun di luar lapangan. Lebih menahan emosi, misalnya. Sebab, jika emosinya tidak bisa dikendalikan, bagaimana bisa mengendalikan emosi teman-teman skuadnya. “Saya itu pendiam. Tapi sejak jadi kapten, pelatih menyuruh saya banyak omong. Banyak bicara untuk bisa mengoordinir teman-teman,” kata dia. 

Meski sudah menjadi kapten dalam 3 kali laga pertandingan, dia mengaku jika hingga kini masih kerap tegang. Terutama saat bermain di bawah pengamatan para suporter. Seolah-olah, apapun yang terjadi dengan kinerja tim, baik-buruk cara bermainnya, dia yang bertanggung jawab. Tapi, ketegangan tersebut, menjadi pemantik kesadaran jika dirinya harus bermain all out. Tidak hanya itu, dia juga harus mampu mengoordinir kawan-kawannya bermain bagus. 

Menjadi kapten tentu bukan pengalaman baru bagi Agus. Pada laga uji coba Persibo vs Persema 2017 silam, tepat pertama kali Persibo bermain setelah 6 tahun disanksi PSSI, Agus adalah kapten pertama yang dipilih Coach Putu Gede. Sebab, waktu itu, Habib Syukron dan Nugroho belum datang ke Bojonegoro. 

Baginya, itu pengalaman paling berharga. Sebab, kala itu awal kebangkitan Persibo dan dia dipilih menjadi kapten pada laga uji coba melawan Persema.  Meski begitu, dia tidak pernah mengira jika pada putaran kompetisi 2018 ini dia didaulat Djordi Kartiko menjadi seorang kapten. 

Pengalaman menarik selama bergelut bersama Persibo,kata dia, adalah saat laga melawan Blitar United pada laga final Liga 3 zona Jawa Timur tahun lalu. Baginya, bisa mengawal Persibo sampai final tentu mimpi yang kesampaian. Meski, pada akhirnya Persibo kalah dan hanya menjadi runner-up, baginya tidak masalah. 

Toh kekalahan Persibo melalui adu penalti. Karena itu, dari heroisme berbagai pengalaman itu, saat ini dia satukan lagu untuk membawa Persibo melewati Liga 3 zona Jawa Timur 2018.  “Satu-satunya harapan kami bisa membawa Persibo ke Liga 2,” tutupnya.

(bj/cho/zky/nas/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia