Kamis, 18 Jul 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Perlu Ciptakan Wisata Integrasi di Brondong

11 April 2018, 07: 05: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

MENYIRAMI DENGAN KAKI: Qomaruzzaman, petani melon asal Desa Sendangharjo yang tak memiliki kedua tangan tetap bersemangat menyirami tanamannya. Kebun melon diharapkan bisa menjadi andalan wisata desa setempat selain pohon trinil.

MENYIRAMI DENGAN KAKI: Qomaruzzaman, petani melon asal Desa Sendangharjo yang tak memiliki kedua tangan tetap bersemangat menyirami tanamannya. Kebun melon diharapkan bisa menjadi andalan wisata desa setempat selain pohon trinil. (Anjar D. Pradipta/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

BRONDONG – Potensi wisata di Desa Sendangharjo, Kecamatan Brondong mulai dikenal masyarakat luas. Selain pohon trinil, ada beberapa obyek wisata yang bisa dikelola warga. Di antaranya, kebun melon, klengkeng, dan penghasil cabai terbesar di Kecamatan Brondong.

Namun, selama ini harga hasil pertanian di desa tersebut jauh dari pasaran. Ketua Komisi B DPRD Lamongan, Syaifudin Zuhri, berharap pemerintah mampu menciptakan pasar hasil pertanian dan perkebunan di Lamongan. Selama ini, sudah banyak potensi yang ada, namun belum dikembangkan dengan maksimal. ‘’Pengunjung trinil sudah banyak, tapi belum ada oleh-oleh ketika pulang,’’ katanya Selasa (10/4).

Dia juga menilai selama ini banyak pengunjung wisata trinil yang belum mengetahui bahwa tak jauh dari lokasi tersebut ada banyak melon yang bisa petik sendiri. Harganya juga terjangkau.

Kebun itu lebih banyak dijadikan tempat wisata karena banyak petani melon di desa setempat yang mendapatkan harga kurang bagus saat dibeli tengkulak. Syaifudin mencontohkan harga melon milik petani maksimal Rp 10 ribu per kg. Padahal, di pasaran bisa mencapai Rp 20 ribu per kg. ‘’Ini tugas pemdes harus bisa mengintegariskan,’’ ujarnya.

Kepala Desa Sendangharjo, Kecamatan Brondong, Ahmad Kirom, menyatakan, selama ini petani melon masih tergantung pada pemilik modal. Sejak menanam, modalnya masih tergantung pada investor. Namun, dia menilai ide bagus bila kawasan desa itu bisa menjadi kawasan bisa yang terintegrasi.

‘’Ke depan, perlu dikonsep yang lebih matang,’’ katanya saat dikonfirmasi terpisah.

(bj/jar/msu/yan/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia