Minggu, 15 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Tuban

Cuaca Tak menentu, Petani Berharap Peran Maksimal Pemerintah

17 Maret 2018, 13: 11: 38 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

KURANG MAKSIMAL: Sejumlah petani saat menjemur gabahnya. Mereka mengeluhkan cuaca yang tidak menentu.

KURANG MAKSIMAL: Sejumlah petani saat menjemur gabahnya. Mereka mengeluhkan cuaca yang tidak menentu. (Canggih Putranto/Jawa Pos Radar Tuban)

Share this      

TUBAN – Cuaca yang tidak menentu dalam sebulan terakhir meresahkan petani. Pemicunya, tak maksimalnya terik matahari menjadikan mereka tak maksimal menjemur gabah pasca panen raya padi. Akibatnya, kualitas beras terancam menurun.Darwan, salah satu petani di Kecamatan Palang mengatakan, gabah yang tidak mendapat panas menjadi remuk saat proses penggilingan.

Dengan begitu, kualitasnya pun menurun. ‘’Kalau kualitas menurun, harganya juga ikut turun,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Disampaikan Darwan, hal yang paling dikhawatirkan  petani usai panen adalah cuaca yang tidak menentu. Sebab, meski hasil panen maksimal, tapi jika gabah tidak bisa dijemur secara maksimal, maka petani akan kembali rugi.

‘’Apalagi kalau setiap hari hujan. Sama halnya gagal panen,’’ ujarnya.Karena itu, dia berharap ada inovasi berupa bantuan alat pengering gabah dari Pemkab Tuban.

Sehingga, petani tidak perlu resah saat cuaca tidak menentu seperti saat ini. Kadang panas, kadang hujan. ‘’Kalau beli sendiri (alat pengering gabah, Red), petani jelas tidak mampu,’’ keluhnya yang berharap ada perhatian dari Pemkab Tuban.

Selain resah dengan kondisi cuaca yang tidak menentu, sejumlah petani juga dirugikan dengan harga gabah yang trennya terus menurun. Jika sebelumnya harga gabah masih pada kisaran Rp 4 ribu per kg, kini menyusut menjadi sekitar Rp 3.700 per kg.

Salah satu penyebab harga gabah yang tidak stabil itu karena minimnya peran pemerintah dalam melakukan penyerapan gabah dari petani. Sehingga, yang menentukan harga gabah adalah para tengkulak.

Seperti diberitakan sebelumnya, janji pemerintah melalui Bulog yang bakal menyerap gabah hasil panen petani dengan harga maksimal masih sekadar janji manis yang tak kunjung terealisasi.

Buktinya, sampai saat ini para tengkulak masih menjadi pemeran utama dalam menentukan ‘’kebijakan’’ harga gabah dari petani. Sementara itu, pemerintah tak hadir untuk ikut menstabilkan harga gabah.

Jangankan menstabilkan harga, jemput bola untuk sekadar melihat kondisi petani saat panen pun sepertinya tidak dilakulan.Seperti dirasakan sejumlah petani di Kecamatan Palang.

Mereka hanya hanya bisa pasrah dengan harga gabah yang ditentukan tengkulak. Sebab, selain tengkulak tidak ada yang membeli gabah mereka.

Bulog yang selama ini diharapkan kehadirannya tidak pernah muncul di tengah-tengah petani. Janji pemerintah melalui Bulog yang bakal membuat pos-pos pembelian gabah saat panen juga tidak jelas realisasinya.

(bj/yqn/can/tok/ds/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia