Rabu, 26 Jun 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Bojonegoro

Dibor 1894, Dilakukan Setahun setelah Cepu 

17 Maret 2018, 13: 03: 54 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

ANGKUT MINYAK: Warga memikul minyak mentah dari sumur minyak tradisional Wonocolo.

ANGKUT MINYAK: Warga memikul minyak mentah dari sumur minyak tradisional Wonocolo. (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

JELAJAH SEJARAH - Deru mesin saling bersahut di lokasi produksi sumur minyak di Desa Hargomulyo. Mesin-mesin itulah yang mengendalikan semacam alat untuk menusuk lubang sumur hingga akhirnya keluar minyaknya. Setelah alat itu ditarik ke atas lantas dihempaskan ke lubang sumur, muncullah semburan air berwarna cokelat. Itu adalah air bercampur minyak. Kadang, hanya air saja. Kadang minyak bisa lebih dominan. Namun, itu jarang. 

Sejarah pengeboran minyak di Desa Wonocolo dan Hargomulyo tidak lepas dari sejarah pengeboran minyak di Cepu. Dalam buku 100 Tahun Perminyakan di Cepu dijelaskan pada tahun 1893 Adrian M Stoop melakukan pemboran pertama, dengan menggunakan Bor Canada Coring.

Selama pemboran, dia tidak mengalami kesulitan dan dapat mencapai empat sampai lima meter setiap harinya. Di kedalaman pertama mengeluarkan minyak, yakni pada 94 meter. Dengan produksi 4 meter kubik per hari. Lokasinya, di Desa Ledok, Kecamatan Sambong, yang tak jauh dari Kecamatan Cepu. Sumur Ledok-1 yang dibor pada Juli 1893 merupakan sumur pertama di daerah Cepu. 

Minyak mentah yang dihasilkan sebagian diolah di kilang kecil yang dibangun di daerah Ledok. Kilang Ledok inilah kilang pertama dan tertua di wilayah Cepu. Dalam buku itu pun disebutkan, konsesi minyak di daerah ini bernama Panolan. Peresmiannya pada 28 Mei 1893 atas nama A.B. Versteegh.

Tetapi, Versteegh tidak mengusahakan sendiri sumber minyak tersebut. Melainkan, mengontrakkannya kepada perusahaan yang sudah kuat pada masa itu, yakni perusahaan Dordtsche Petroleum Maatschappy (DPM) di Surabaya. 

Jauh sebelumn itu, pada 1886, Adrian M Stoop pergi ke Amerika selama satu tahun untuk belajar cara orang AS mengebor dan mengelola usaha di bidang perminyakan. Selain di Surabaya, Adrian M Stoop juga menemukan minyak di daerah Rembang.

Pada Januari 1893, dari Ngawi dengan rakit, dia menyusuri Bengawan Solo menuju Ngareng, Cepu. Dia menyimpulkan bahwa di Panolan, terdapat ladang minyak berkualitas tinggi dalam jumlah besar. Namun daerah itu sudah menjadi konsesi atau dikuasai oleh perusahaan lain, dan perusahaan itu belum melakukan kegiatan pemboran, hanya memiliki izin selama enam minggu. 

Sedangkan, Agus Rudi Purnomo yang mengkliping sebuah cuplikan buku tentang sejarah minyak Wonocolo tertulis bahwa dari peta BPM 1940 diketahui di daerah konsesi Tinawun (Dandangilo - Wonocolo) pertama kali dibor pada 1894. Jumlah sumur saat itu adalah 227 buah dengan kedalaman 50 – 784 meter. 

Bahkan ada yang mencapai 1000 meter. Pada tahun 1905, lapangan tersebut dikuasai oleh Dordsche Petroleum Maatschaappij (DPM).Pada halaman 128 di buku tersebut menyatakan diperkiraan pada waktu itu terdapat rembesan-rembesan minyak yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk lampu penerangan, setelah mereka olah dengan cara-cara yang amat sederhana. 

Nah, pada 1920 produksi Lapangan Kawengan (Dandangilo-Wonocolo) mencapai tingkat produksi tertinggi sebesar 79.886 meter kubik per tahun. Pada 7 Maret 1925, lapangan tersebut beralih menjadi wilayah kerja Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). 

“Sebagai subsidi (collection) kepada desa setempat, BPM memberikan F240 atau setara 240 –gulden per tahun kepada Desa Wonocolo dan Hargomulyo dengan catatan rakyat setempat tidak diperkenankan memanfaatkan rembesan-rembesan minyak di daerah tersebut,” tulis buku tersebut. 

Enam tahun kemudian, pada Februari 1929, hasil lapangan minyak di Hargomulyo-Wonocolo merosot tajam. Sehingga, sumur yang tidak berproduksi ditutup. Meski, ditutup tapi masih ada produksi berkala hingga 1938. “Sebenarnya sejak 1930 BPM sudah meninggalkan lokasi Wonocolo-Hargomulyo,” tulis buku tersebut. 

Pada 1942, sebagian besar sumur di serahkan pada administrasi lapangan Kawengan yang lokasinya dekat dengan Tuban. Sejak saat itu pula lapangan Wonocolo dan Hargomulyo dibiarkan BPM. Apalagi, saat itu Belanda sedang kececeran menghadapi serangan dari tentara Jepang. 

Jepang tak banyak mengoperasikan sumur tua kala itu. Namun, tetap melakukan patroli. Jika ada warga yang mencuri minyak akan dikejar bahkan ditembak. “Ya Jepang berjaga saat itu. Saya masih kecil dan ingat betul,” kata Mbah Nur sesepuh Desa Wonocolo tersebut. 

Dia mengatakan, saat itu pertempuran Jepang dan Belanda cukup sengit. Belanda memang tak berkutik saat Jepang datang. Saat Jepang pun meninggalkan Indonesia. Sumur minyak pun menjadi tidak bertuan. Dari situlah, masyarakat Wonocolo dan Hargomulyo melakukan pemanfaatan sumur itu kembali. 

Paring, 65, warga Hargomulyo menceritakan masyarakat memproduksi sumur dengan cara menimba. Setelah timba sampai ke bibir atas, kemudian isi timba yang terdiri dari air dan lantung dituang kedalam lubang tanah untuk kemudian dipisahkan antara air dan minyak.

Cara menimbanya dilakukan dengan cara memasang empat batang balok kayu berdiri dan bertumpu pada ujungnya. Pada ujung tumpuan balok tersebut digantungkan batang pengerek dan dipasang timba besi pipa memanjang dengan tali kawat untuk kemudian diturunkan dan ditarik ke atas oleh 8 sampai 12 orang setiap kelompoknya. 

Diperkuat dalam buku sejarah minyak Wonocolo, usai minyak ditimba kemudian minyak tersebut diproses secara sederhana di dekat lokasi sumur dengan menggunakan drum 200 liter atau lebih besar. Selanjutnya dipanaskan dan uap minyak yang terjadi didinginkan. Hasil distilasi atau distilat adalah campuran antara kerosin dan solar, dan dijual ke desa-desa sebagai minyak tanah yang bermutu rendah. 

Indonesia pun telah merdeka. Minyak di Wonocolo dan Hargomulyo pun seolah tidak dilirik kembali. BPM pun kembali ke Cepu dengan nama Shell yang berusaha memperbaiki kilang Cepu dan lapangan Kawengan, tetap membiarkan lapangan Wonocolo yang dinilai tidak ekonomis. 

Dalam buku itu dituliskan, pada 1950 BPM atau Shell yang tidak memanfaatkan sumur-sumur minyak di Wonocolo oleh Bupati Bojonegoro waktu  itu memberi izin secara lisan kepada masyarakat Wonocolo dan Hargomulyo melalui kepala desa untuk memanfaatkan sumur-sumur minyak di daerah Wonocolo dan Hargomulyo tersebut.

Izin lisan tersebut dimanfaatkan oleh Lurah Wonocolo dan Hargomulyo sebagai hak untuk memperluas usaha membuka sumur-sumur yang telah ditutup. Semakin hari usaha penambangan minyak Wonocolo makin meningkat karena sejak tahun 1950 peredaran minyak untuk memenuhi industri kapur serta kebutuhan rumah tangga makin meningkat tetapi persediaannya terbatas, meskipun produksi dan pemasaran minyak Wonocolo masih dalam skala kecil, tetapi permintaan terus meningkat. 

Tarik Ulur 

Pemerintahan Soekarno pun berjalan. Pada 1962, setelah Shell dibeli pemerintah melalui Permigan, maka lapangan Wonocolo saat itu menjadi daerah operasi penambangan dan produksi migas dan status beralih menjadi wilayah kerja penambangan PN Permigan.

Selama PN Permigan beroperasi belum ada perhatian untuk menangani masalah penambangan minyak rakyat di Wonocolo. PN Permigan dibubarkan pada 1966, lapangan minyak Cepu secara operasional menjadi wilayah operasi penambangan Pusdik Migas atau Lemigas Cepu. Dalam surat keputusan itu, Soekarno menjelaskan urusan minyak dan gas di bawah naungan Departemen Urusan Minyak dan Gas Bumi. 

Sampai tahun 1974, permintaan minyak mentah sebagai bahan bakar industri kecil dan menengah terus meningkat. Pada 1977, Menteri Pertambangan mengirim surat kepada Menteri Dalam Negeri dengan suratnya No.1084/M.200/ 1977 25 Maret 1977 menyatakan penambangan oleh rakyat itu dapat menimbulkan masalah seperti keselamatan tenaga kerja yang tidak terjamin dan berbahaya bagi lingkungan Perhutani. 

Menteri Pertambangan meminta kepada Menteri Dalam Negeri untuk menghentikan penambangan tersebut dan para pekerjanya agar dipindahkan ke daerah lain. 8 Januari 1981 berdasarkan laporan rapat desa, Bupati Bojonegoro mengeluarkan surat keputusan tentang penggunaan uang hasil penambangan rakyat sumur-sumur di lapangan Wonocolo.

Kepada kedua kepala desa yang telah mengoordinasikan menanggapi sebagai dorongan untuk meningkatkan usaha-usaha penambangan rakyat. Pada 1985, tercatat dari 150 sumur yang telah ditutup, di lapangan Wonocolo 35 sumur telah dapat dibongkar paksa dengan mencapai produksi 75.000 liter per hari dengan harga jual Rp. 750.000 per mobil tangki yang isinya 5000 liter. Pada 1986 jumlah sumur yang diproduksi naik menjadi 40 sumur dari kedua desa Wonocolo dan Hargomulyo.

Hal tersebut tidak dapat dibiarkan berlanjut, sehingga terbitlah surat Menteri Dalam Negeri No. 10/ 755.411 / 102 / B. V1/ 15 kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur, bahwa berdasarkan pemeriksaan Tim Inspektorat Jenderal 10 Desember sampai 14 Desember 1985 di jumpai : Bahwa kegiatan penduduk di Desa Wonocolo dan Hargomulyo dalam penambangan lantung dengan cara menimba, dalam keadaan terbuka dapat menimbulkan kebakaran di samping mengganggu pertumbuhan kayu jati muda di sekitar lokasi penambangan.

Intervensi pemerintah terus berdatangan hingga akhirnya sesuai hasil rapat 11 Januari 1988 di kantor Gubernur Jawa Timur dan persetujuan perpanjangan oleh Menteri Pertambangan dan Energi, penutupan ditunda sampai 1 April 1988 setelah selesai Sidang Umum MPR pada tanggal 1 April 1988 terjadi penyerahan lapangan Kawengan dan sekitarnya kepada Pertamina.

Sejak saat itu hasil produksi minyak lapangan Wonocolo diserahkan kepada Pertamina UEP III lapangan Cepu dengan imbalan Rp 89,30 per liter.

(bj/aam/nas/ch/bet/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia