Senin, 17 Feb 2020
radarbojonegoro
icon-featured
Bojonegoro
Cover Story

Limbah Popok Berdampak Besar terhadap  Lingkungan 

27 Februari 2018, 12: 28: 58 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Ilustrasi Bayi

Ilustrasi Bayi (Ainur Ochiem/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

COVER STORY - Tangis bayi pecah ketika seorang ibu menunggu antrean di salah satu klinik kesehatan ibu dan anak. Tangisan karena si bayi ngompol di celana. Tak pelak membuat ibu nya kebingungan. Maklum, saat berada di tempat itu, dia lupa tidak membawa pakaian ganti. Dengan bergegas dia meminta suaminya segera pergi ke toko terdekat untuk membeli popok sekali pakai.

Spekulasi membeli popok sekali pakai tentu tidak hanya dipilih ibu yang sedang menunggu antrean itu saja. Tapi, mayoritas ibu-ibu yang ada di Bojonegoro.  Terutama seorang ibu muda yang lebih memprioritaskan efektivitas dan efisiensi dalam mengganti popok anaknya.

Dengan popok sekali pakai, seorang ibu bisa langsung menggunakan tanpa mencuci. Masalah terjadi, ketika pembuangan popok sekali pakai dilakukan secara sembarangan.   

Kasi Pengendalian Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro, Nur Rahmawati menjelaskan, dari pengamatan yang dia lakukan, hampir 80 persen lebih ibu-ibu di Bojonegoro memang menggunakan popok sekali pakai untuk anak mereka.

Terutama pada anak usia di bawah satu tahun. Selain lebih efektif, penggunaan popok jenis itu lebih cepat karena tanpa mencuci dan bisa langsung ganti kapanpun. Tapi, dia mengakui jika masalah terbesar justru datang dari proses pembuangan limbahnya. 

“Karena bisa ganti-ganti dan langsung buang, tentu mudah. Tapi pembuangannya yang agak bermasalah,” kata Nur kemarin (26/2). Nur menjelaskan, selain susu bayi, popok bayi menjadi kebutuhan paling penting bagi keluarga yang memiliki anak balita.

Karena sekali pakai dan bisa langsung dibuang, tentu itu memudahkan orang tua. Tapi masalah terjadi ketika proses pembuangan dilakukan secara sembarangan. Dia tidak menampik jika mayoritas pembuangan bekas popok bayi dilakukan di sungai. 

Saat ini, kata Nur, karena tidak bisa menghentikan penggunaan popok, satu hal yang harus dilakukan adalah mengubah mindset masyarakat. Untuk lebih cerdas dan memperhatikan lingkungan dalam pola konsumsi popok.

Misalnya, mengganti popok sekali pakai dengan diapers (popok kain yang bisa dicuci dan dipakali lagi). Sebab, jika menggunakan popok sekali pakai, saat dibuang terurainya sangat lama. Butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun. 

“Diapers itu popok kain yang reuse, bisa dicuci dan dipakai lagi. Tentunya sangat sejalan dengan environmental issues di sini,”  Meski diapers sudah dijual di toko-toko, Nur yakin jika banyak masyarakat belum tahu.

Selain belum tahu, masyarakat saat ini juga cenderung memilih popok sekali pakai. Sebab, lebih instan dan lebih cepat dalam penggunaannya. Karena itu, jika pengalihan produk kurang maksimal dilakukan, cara lain adalah membangun pemahaman baru tentang pembuangan. 

“Misalnya, limbah tersebut bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang bisa menghasilkan nilai guna, seperti media tanam,” imbuh dia. Terkait proses pembuangan, untuk wilayah kota, memang ke TPA melalui tukang sampah.

Tapi kalau di kampung dan kawasan luar kota, bisa dipastikan larinya langsung ke sungai. Nah, menurut dia, ini menjadi masalah utama isu lingkungan. Sebab, menurut dia, banyak dampak buruk jika kebiasaan membuang sampah di sungai itu terus dilakukan.

Alasannya, dalam popok bayi sekali pakai, terdapat banyak bahan kimia. Selain kualitas kadar air bakal memburuk, tumpukan popok itu bisa menjadi penyebab macetnya arus air dan tidak menutup kemungkinan menyebabkan banjir.

Belum lagi, limbah popok dapat memicu berbagai pencemaran lingkungan yang berakibat pada munculnya penyakit seperti iritasi paru-paru dan kulit, sesak nafas. Tidak hanya pada manusia, tapi juga reproduksi ikan dan mengganggu senyawa hormon pada ikan.

Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro, Sally Atyasasmi mengatakan, terkait maraknya pembuangan bekas popok sekali pakai di sungai, memang harus mulai dikurangi. Sebab, kebiasaan buruk tersebut bakal memberi dampak jangka panjang.

Terutama dampak kesehatan bagi masyarakat yang menggunakan air sungai. “Belum lagi, itu jenis sampah yang susah diurai. Karena itu mindset masyarakat harus diubah agar tidak membuang popok di sungai,” kata dia. 

Sally mengakui jika masih banyak masyarakat, terutama di kawasan pedesaan belum ada tempat sampah, popok dibuang di sungai. Sebagai anggota dewan berlatar belakang sarjana kesehatan masyarakat, tentu kondisi itu membuatnya miris.

Sebab, betapa buruk dampak popok bekas itu pada ekosistem sungai. Belum lagi jika air sungai itu dikonsumsi masyarakat.Harusnya, masyarakat sudah diberi edukasi tentang cara memisahkan popok bayi dengan limbah rumah tangga yang lain.

Sebab memudahkan petugas pengolah sampah untuk mengolah limbahnya. Karena, popok bayi membutuhkan waktu ratusan tahun untuk dapat terurai sempurna. Karena itu, harus ditanam di tanah. 

“Popok bayi butuh waktu ratusan tahun untuk terurai, cara pembuangan terbaik adalah ditanam di tanah dan masyarakat harus diberitahu tentang edukasi tersebut,” pungkas dia.    

(bj/nas/zky/ai/yqn/yqn/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia