Kamis, 14 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Serapan Bulog Turun 30 Ribu Ton, Beras Lamongan Surplus 460 Ribu Ton 

20 Februari 2018, 17: 31: 06 WIB | editor : Fa Fidhi Asnan

ilustrasi

Ilustrasi (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

KOTA – Di tengah melimpahnya produksi beras petani Lamongan, serapan bulog justru turun. Tahun ini (2018) hanya ditarget 76 ribu ton. Turun 30 ribu ton atau 25 persen dibanding tahun lalu yang sebesar 106 ribu ton. Sedangkan produksi beras petani Kota Soto tersebut mencapai 700 ribu ton lebih atau surplus 460 ribu ton. 

‘’Pengadaan beras di Lamongan tahun ini sebesar 76 ribu ton. Turun 25 persen dibanding tahun lalu 106 ribu ton,’’ kata Kasi Pengadaan Beras Badan urusan logistik (Bulog) sub drive Bojonegoro, Sri Budi Prasetya senin(19/2). 

Menurut dia, penurunan tersebut dipengaruhi berbagai alasan. Salah satunya karena peralihan penyaluran bansos rastra menjadi bantuan pangan non tunai (BPNT).  ‘’Belum dipastikan apakah BPNT akan menggunakan beras bulog atau tidak. Sedangkan jatah serapan untuk Lamongan masih sama dengan tahun lalu sekitar 30 ribu ton,’’ ujarnya.

Budi melanjutkan, harga beras tinggi juga ditengarai menjadi penyebab serapan bulog bulan ini rendah. Sedangkan kebutuhan beras komersil bulog hanya 30 ton. ‘’Jadi bulog tidak melakukan pembelian dalam jumlah banyak, mengingat harga beras masih melambung,’’ tukasnya. 

Menurut dia, bulan ini bulog hanya melakukan penyerapan beras komersial. Selain sebagai penyedian cadangan beras pemerintah (CBP), bulog juga memiliki wewenang untuk melakukan penjualan berbentuk komersil. Salah satunya dengan mengirimkan beras ke berbagai daerah di wilayah Indonesia. 

Dia mengungkapkan, kebutuhan beras komersil bulan ini hanya 30 ton. Sedangkan harga beras di pasar masih sangat tinggi di atas harga pembelian pemerintah (HPP) yang masih Rp 7.300 per kilogram (kg). Karena itu, bulog menerbitkan harga acuan pembelian sendiri untuk gabah kering panen Rp 4.400 per kg, gabah kering giling Rp 5.400, beras medium Rp 8.200, dan beras premium Rp 8.800 per kg. “Harga ini hanya berlaku sampai 21 Februari. Bulog akan menetapkan harga baru mendekati panen,” ujarnya. 

Dia menambahkan, harga acuan pembelian akan berubah mengikuti harga di pasar. Sedangkan saat ini bulog masih fokus untuk penyerapan beras komersial bukan sosial. “Harga bisa menyesuaikan, karena bukan untuk bantuan sosial rastra,” terangnya. 

Sementara, Kepala Gudang Bulog Lamongan, Andik  Sunarto menyampaikan, serapan beras bulog di Lamongan tidak terpengaruh BPNT. Karena program tersebut belum berjalan maksimal. Sehingga target serapan `tahunan masih sama. Bahkan target tersebut bisa berubah apabila kebutuhan beras bulog masih tinggi. “Jadi petani tidak perlu khawatir, karena pengadaan bulog masih tinggi,” tukasnya.

(bj/rka/feb/faa/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia