Senin, 27 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Advertorial

Khofifah Menyapa Nelayan Lamongan

16 Februari 2018, 16: 12: 32 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

PEDULI: Khofifah mendatangi kampung nelayan di Lamongan. Cagub nomor 1 ini juga mendatangi TPO dan pasar, kemarin.

PEDULI: Khofifah mendatangi kampung nelayan di Lamongan. Cagub nomor 1 ini juga mendatangi TPO dan pasar, kemarin. (Anjar D. Pradipta/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

ADVERTORIAL - Khofifah Indar Parawansa, Calon Gubernur (Cagub) Jawa Timur menyapa para nelayan di Kecamatan Paciran, Lamongan kemarin (15/2). Cagub berpasangan dengan Emil Dardak ini juga mendatangi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan pasar tradisional. Cagub nomor urut 1 ini memilih wilayah Lamongan sebagai tujuan utama kampanye hingga melihat perputaran ekonomi para nelayan.

Khofifah berdialog dengan Rukun Nelayan Blimbing. Juga, melihat TPI Blimbing. Menyapa pedagang di Pasar Kliwon Blimbing, hingga kampung nelayan Desa Kandang Semankon, Kecamatan Paciran. 

Kali pertama, Khofifah menuju TPI kemarin pagi. Dan, heran pagi hari sudah banyak warga bekerja. Terutama, para ibu-ibu bekerja sebagai pemilih ikan segar atau korek ikan. ‘’Ibu-ibu rumah tangga, pukul 05.00 pagi sudah bekerja sebagai korek ikan (pemilih ikan, Red). Jangan lupa salatnya dijaga baru mencari rezeki,'' ucap Khofifah sambil berdialog bersama rukun nelayan. 

Khofifah mengatakan, kali pertama memilih kampung nelayan di Lamongan karena tertarik saat nelayan tidak diperbolehkannya melaut menggunakan cantrang. Larangan ini dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. 

Namun, di wilayah Brondong, kapasitas kapal nelayan 30 gross ton (GT) ke bawah juga tidak diperbolehkan menggunakan cantrang. Sebetulnya, kapasitas tersebut masih dalam toleransi diperbolehkan melaut. 

Dirinya sangat heran sekali, adanya pekerja di TPI Brondong setiap hari terdapat kurang lebih 4.000 ibu-ibu bekerja sebagai pemilihan ikan segar. Mendapatkan pemberdayaan ekonomi. Belum pekerja lainnya tentunya sangat banyak sekali. 

‘’Atau nakhoda kapal, bisa memperdayakan hingga 400 pekerja. Untuk kapal, kapasitas 30 GT ke bawah dalam satu hari menyandar di TPI terdapat 80 unit kapal,'' ujarnya. 

‘’Multiplayer effect sampai berdampak ke pasar tradisional hingga pedagang lainnya, karena saya lihat sendiri,'' lanjut mantan Menteri Sosial.

Usai dari TPI, Khofifah bergeser ke pasar tradisional, karena banyak keluhan dari warga sekitar. Kalau TPI sepi, tentunya pasar juga mengikutinya. Tentu, imbasnya perputaran ekonomi sangat menurun di wilayah tersebut. Juga berdampak sirkulasi perdagangan di Pasar Belimbing, tak jauh dari TPI.

‘’Saya juga sudah berbincang-bincang banyak sekali dengan ketua nelayan setempat terkait cantrang. Sebetulnya kapal 30 GT ke bawah, bukan membahayakan biota laut atau merusak,'' ucap Khofifah. 

Ketua Aliansi Nasional Nelayan Agus Mulyono mengatakan, sudah menyampaikan semua keluh-kesah para nelayan. Salah satunya, meminta diperhatikan adanya kebijakan memberatkan. Hingga bisa, mempermudah nelayan bisa beraktifitas kembali seperti semula.

Hal sama diungkapkan Mujiono, salah satu pemilik kapal. Dia meminta jangan sampai para nelayan Lamongan ini dipersulit terkait administrasi karena berdampak bagi semua pekerja hingga pedagang di TPI.

(bj/jar/mal/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia