Senin, 27 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Pengemasan Paket Wisata Masih Lemah

13 Februari 2018, 06: 05: 59 WIB | editor : Fa Fidhi Asnan

wisata

MASI LEMAH: Pengemasan paket wisata di desa-desa masi lemah. (M. Nurkozim/Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO - Pengemasan paket wisata masih terlihat lemah. Harus diimbangi sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni mengemas wisata. Sedangkan, ragam objek wisata semakin bergeliat dan variatif. Tentu, ini menjadi pekerjaan rumah (PR) yang perlu diatasi, terutama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro. Serta, pemerintah desa yang memiliki objek wisata. 

Kabid Pengembangan Kelembagaan dan SDM Disbudpar Dyah Enggarini mengatakan, destinasi wisata, khususnya yang dikelola pemerintah desa perlu berkembang mengemas paket wisata. Agar wisatawan lebih nyaman dan tidak kecele ketika berkunjung di salah satu destinasi wisata. “Beberapa desa itu masih lemah pengemasan paket wisatanya. Keluhannya masih seputar kekurangan personel,” katanya senin (12/2).

Enggar, sapaan akrabnya, mengambil contoh destinasi wisata di Desa Mojo, Kecamatan Kalitidu. Di sana ada Wisata Bahari Mojo, namun kondisi wisatanya belum bisa dimanfaatkan wisatawan setiap saat. “Wisata Bahari Mojo itu periodik, kalau musim hujan tidak bisa beroperasi perahunya. Jadi perlu ditambahkan atraksi-atraksi lainnya,” ucapnya. 

Selain itu, perlu menyinergikan antardesa wisata agar bisa berkembang berkelanjutan. Misalnya, wisata di Desa Bendo, Kecamatan Kapas, bisa sinergi dengan Desa Wedi dan Desa Tanjungharjo. Sedangkan, di wilayah selatan, Wisata Atas Angin bisa bersinergi dengan Air Terjun Krondonan dan Bukit Tono di Kecamatan Temayang. 

Jadi, kata dia, juga didorong kerja sama dengan Asidewi sekaligus biro travel yang siap melayani wisatawan keliling Bojonegoro. “Pelatihan tetap harus dilakukan, karena agar bisa berkembang ke arah yang lebih bagus ke depan­nya,” jelasnya.

Sementara itu, tren wisatawan mengarah ke gaya living in. Sehingga, perlu adanya homestay, di wilayah selatan cenderung minim sekali tempat penginapannya. “Ada beberapa wisatawan ingin hidup bersama dengan warga setempat sembari menikmati alam. Sehingga wilayah selatan paling potensial dibuatkan homestay,” terangnya. Tetapi, imbuh dia, tidak bisa asal membuat homestay. Perlu adanya penentuan lokasi yang tepat dan pelatihan pemilik rumah.

(bj/gas/rij/faa/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia