Selasa, 25 Jun 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Penghentian Rastra Picu Peran Bulog Berkurang

10 Februari 2018, 06: 00: 59 WIB | editor : Fa Fidhi Asnan

bulog

AKAN BERAKHIR: Tumpukan rastra di gudang Bulog. Ke depan rastra akan diganti secara nontunai. (M. Nurcholis/Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO - Peranan Perum Bulog dipastikan akan berkurang. Itu karena tidak lama lagi penyaluran beras sejahtera (rastra) akan dihentikan. Sebab, Kementerian Sosial (Kemensos) akan menggantinya dengan bantuan pangan non tunai (BPNT).

Wakil Subdivre III Bulog Bojonegoro Edi Kusuma mengatakan, belum mendapatkan kepastian kapan pembagian rastra akan dihentikan. Namun, dipastikan bulan ini dan bulan depan rastra masih akan keluar. “Masih ada karena belum ada instruksi dari Kemensos,‘‘ jelasnya kemarin.

Dia menjelaskan, jika tidak lagi menyalurkan rastra Bulog, dipastikan hanya akan melakukan sedikit kegiatan yaitu, sektor komersial. Sebab, kegiatan utama Bulog membagikan rastra akan dihilangkan. “Selain itu, kita nanti tetap melakukan stabilitas harga,“ ungkap dia.

Saat ini, petugas rastra sudah banyak yang dirumahkan. Sebab, kegiatan mereka sudah berkurang. Namun, nanti akan kita libatkan pada kegiatan bantuan sosial (bansos). Sejak Januari lalu, rastra disebut bansos. Sebab, beras diberikan gratis kepada masyarakat. Sebelumnya, masyarakat harus menebusnya senilai Rp 1.600 per kilogram. Bedanya, saat ini beras yang diberikan gratis hanya 10 kg.

Edi menjelaskan, saat dialihkan menjadi BPNT penyaluran beras benar-benar dihentikan. BPNT tersebut akan dirupakan beras dan telur senilai Rp 110.000 per bulan. Meskipun dirupakan beras, namun belum ada kepastian beras itu akan diambil dari Bulog. “Bisa juga diambilkan dari luar Bulog,‘‘ jelasnya.

Rencana hilangnya rastra membuat target pe­ngadaan Bulog Subdivre III Bojonegoro menurun dibanding tahun lalu. Tahun lalu Bulog ditarget 106 ribu ton. Tahun ini hanya 76 ribu ton. “Kalau kita ditarget seperti tahun lalu siapa yang membeli,’’ jelasnya.

Jumlah target tersebut dibagi tiga kabupaten, Bojonegoro sebanyak 19 ribu ton, Lamongan 33 ribu ton, dan Tuban 23 ribu ton. “Kami melakukan pembelian dengan harga sesuai inpres,’’ ujarnya.Inpres Nomor 5 Tahun 2015 menyebutkan bahwa harga gabah kering sawah adalah Rp 3.700 per kilogram (kg) dan kering giling Rp 4.650 per kg. Serta beras seharga Rp 7.300 per kg.

(bj/zim/rij/faa/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia