alexametrics
Kamis, 03 Dec 2020
radarbojonegoro
Home > Lamongan
icon featured
Lamongan

Wisata Pemandian Brumbun, Jadikan Wisata?

05 Februari 2018, 13: 01: 02 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

DIUSULKAN JADI WISATA GEOPARK: Wisata pemandian air panas Brumbun, Kecamatan Paciran, masih membutuhkan proses penelitian dari tim khusus.

DIUSULKAN JADI WISATA GEOPARK: Wisata pemandian air panas Brumbun, Kecamatan Paciran, masih membutuhkan proses penelitian dari tim khusus. (Anjar Dwi Pradipta/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

PACIRAN – Wisata pemandian air panas Brumbun, Kecamatan Paciran, masih membutuhkan proses penelitian tim khusus.

“Sebenarnya  batuan kapur bisa mengeluarkan energi panas, tapi ada peleburan kimia di dalamnya,” ujar Kepala Bagian Perekonomian Setda Lamongan, Munif Syarif, kemarin (4/2).

Dia mengklaim sudah melakukan riset secara pribadi kedinasan. Hasilnya, kandungan kimia yang ada dalam batuan kapur wisata pemandian air panas tersebut sudah terbukti.

Menurut Munif, usulan mengenai wisata geopark di kawasan pemandian Brumbun masih dikaji. Khususnya, memastikan tidak ada penambangan di kawasan tersebut.

Ketika kawasan tersebut sudah ditetapkan Kementrian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagai salah wisata geologi, maka tidak boleh ada kegiatan penambangan. Sebab, hal itu berpengaruh terhadap sumber mata air. 

Munif menduga banyak ajuan tempat wisata ke Kementerian ESDM. Akibatnya, usulan Pemkab Lamongan belum dipertimbangkan. Dia menjelaskan, sejak usulan dilayangkan pada 2015, pihaknya mulai mencari tahu sumber energi panas dalam kandungan air tersebut.

Terakhir, dia menduga sumber tersebut berasal dari batuan kapur. “Sejumlah turis asing juga pernah melakukan penelitian tapi hasilnya belum disampaikan,” katanya. 

Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan, Erdiana Renawati, menyatakan, pihaknya hanya mengusulkan untuk pengembangan wisata geologi di Lamongan.

Sedangkan persetujuannya, ada tim-tim ahli yang lebih berwenang. Sebab untuk pengembangan wisata alam harus melibatkan tim khusus dalam pengkajiannya.

Berbeda dengan wisata alam lainnya yang tidak membutuhkan penelitian untuk penetapannya. “Kalau wisata geologi mungkin ada prosedur lain,” tuturnya. 

Dina, sapaannya, menjelaskan, ketika daerah diminta mengajukan wisata alam, maka segera diputuskan usulan tersebut. Sedangkan mengenai tindak lanjut dari usulan, ada pihak lain lebih berwenang menjawabnya.

(bj/jar/rka/yan/bet/dka/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia