Jumat, 21 Sep 2018
radarbojonegoro
icon featured
Hukum & Kriminal

Bikin KTP Palsu, Satu Jam Jadi

Kamis, 01 Feb 2018 12:49 | editor : Ebiet A. Mubarok

BARANG BUKTI: Kapolres Lamongan, SKBP Febby Hutagalung, menunjukan KTP palsu buatan warga kecamatan Babat.

BARANG BUKTI: Kapolres Lamongan, SKBP Febby Hutagalung, menunjukan KTP palsu buatan warga kecamatan Babat. (Gamal Ayatollah/Jawa Pos Radar Lamongan)

KOTA – Totok Murbantoko, 47, asal Jalan Sumowiharjo, Kelurahan/Kecamatan Babat, harus berurusan dengan polisi. Gara – garanya, dia melakukan pemalsuan kartu tanda penduduk (KTP).

Barang bukti yang diamankan polisi, satu unit komputer dan CPU, satu alat laminating, satu printer dan selembar plastik bahan pembuatan KTP, serta KTP palsu milik tersangka.

‘’Dia diamankan saat melakukan pencetakan KTP palsu di rumahnya,’’ kata Kapolres AKBP Febby Hutagalung kemarin (31/1) siang.

Ide membuat KTP palsu muncul ketika KTP tersangka hilang sekitar dua bulan lalu. Awalnya, tersangka ingin memproses KTP-nya yang hilang itu. Namun, proses pembuatan KTP ulang membutuhkan waktu lama. 

Tersangka kemudian berusaha mencari jalan sendiri. Dia yang memiliki pengetahuan tentang komputer, mencoba melakukan scanner KTP asli melalui salah satu aplikasi.

Setelah diotak atik, akhirnya tersangka bisa membuat KTP palsu. Untuk finishing,  dia menggunakan alat cetak laminating. 

‘’Jadi tersangka ini melakukan scanner milik istrinya dengan merubah nama, NIK, jenis kelamin, serta yang lainnya. Dalam pengakuan, KTP palsu miliknya belum pernah digunakan transaksi atau yang lainnya,’’ tutur Kapolres.

Berdasarkan pengakuan tersangka, lanjut dia, tersangka hanya menerima pesanan saat ada yang meminta. Dia tidak melakukan promosi secara terbuka. Sehingga, hanya sebagian orang yang mengetahui kalau dirinya bisa membuat KTP palsu. 

Tersangka hanya membutuhkan waktu satu jam untuk membuat sebuah KTP bikinannya. Dia tidak membutuhkan waktu terlalu lama karena alat untuk pembuatan KTP sangat mudah dicari.

Seperti kertas dan mika untuk laminating. Tersangka memasang tarif Rp 50 ribu untuk sekali cetak. ‘’KTP palsu ini, hanya berbeda dengan aslinya. Tidak ada logam putih di belakang berlogo garuda,’’ jelas Hutagalung.

Menurut dia, tersangka dijerat pelanggaran melakukan pemalsuan, bukan penggandaan KTP. Alasannya, tersangka hanya melayani saat KTP orang hilang. 

Namun, Kapolres sangat khawatir dengan adanya KTP palsu tersebut. Sebab, dalam waktu dekat digelar pemilihan gubernur. Sehingga, bisa memicu munculnya KTP ganda.

‘’Sangat khawatir dengan adanya pemilihan gubernur dalam waktu dekat ini. Anggota akan terus melakukan penyelidikan lebih lanjut. Jangan sampai adanya hal yang tak diinginkan seperti adanya KTP palsu atau ganda,’’ katanya.

Tersangka saat diperiksa, lanjut Kapolres, diduga belum membuka data seluruhnya berapa KTP yang dicetak selama dua bulan. Dalam pengakuannya, pencetakan hanya tiga KTP palsu.

Alasannya, pekerjaan sampingan saja. ‘’Menurut saya, pastinya sudah banyak sekali yang dilakukan pencetakan karena sudah dua bulan beroprasi. Hanya saja, pengakuan tidak terbuka sama anggota,’’ ujarnya.

Dia mengimbau kepada seluruh perusahaan, lembaga, instansi atau perkantoran yang berhubungan KTP agar lebih teliti lagi. Harus dilihat logam yang ada di belakang.

Kapolres khawatir KTP palsu sudah menyebar banyak. ‘’Pemilik KTP palsu tentunya juga bisa dilakukan proses hukum. Sebab, dia sudah mengetahui adanya  KTP tersebut palsu. Apalagi, tidak membuat di kantor pemerintahan setempat, dinas catatan sipil,’’ katanya.

Dalam kasus ini, tersangka dijerat pasal 96 A UU RI No 24 Tahun 2013 tentang perubahan UU RI No 23 Tahun 2006 tentang administrasi kependudukan. Ancaman hukumannya, kurungan penjara 10 tahun.

(bj/mal/yan/bet/dka/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia