Selasa, 23 Jul 2019
radarbojonegoro
icon featured
Lamongan

Setahun Sembilan  Kali Inflasi

01 Februari 2018, 06: 00: 59 WIB | editor : Fa Fidhi Asnan

ilustrasi

Ilustrasi (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

KOTA - Laju inflasi kabupaten Lamongan cukup tinggi. Selama 2017 terjadi kenaikan inflasi sebanyak sembilan kali dengan deflasi tiga kali. Akibatnya, inflasi di Kota Soto tersebut pada 2017 menyentuh angka 3,12 persen. Naik 2 persen dari tahun sebelumnya sebesar 1,39 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Lamongan, Sri Kadarwati mengungkapkan, tren kenaikan inflasi itu dipengaruhi naiknya harga sejumlah komoditi secara terus-menerus, yang bersifat nasional. Akibatnya, biaya konsumsi masyarakat bertambah.  Sedangkan masyarakan miskin semakin miskin karena kebutuhannya tidak terpenuhi. ‘’Laju inflasi tidak bisa dikendalikan apabila harga barang dan jasa tidak stabil,’’ terangnya rabu(31/1). 

Menurut Sri, penghitungan inflasi mengacu pada indeks harga konsumen (IHK). Yakni ketika terjadi kenaikan agregat dari barang dan jasa yang menjadi kebutuhan masyarakat, secara otomatis biaya produksi akan bertambah. Sebab bahan baku dan upah naik. Dampaknya, ketika barang tersebut sampai ke tangan konsumen harganya cenderung lebih tinggi. “Kemampuan daya beli masyarakat berbeda, sedangkan perhitungan inflasi jelas menyesuaikan IHK,” tuturnya. Dia mengungkapkan,  selama 2017 pengeluaran rumah tangga, air, listrik, gas, dan bahan bakar menyumbang laju inflasi tertinggi, yakni sebesar 1,38 persen.  Diikuti dengan transportasi, komunikasi dan pendidikan. 

Menurut dia, pengeluaran rumah tangga memberi kontribusi besar dalam laju inflasi, karena berkaitan dengan pola belanja dan konsumsi masyarakat. Termasuk apalagi terjadi kenaikan tarif listrik dan pencabutan subsidi listrik 450 watt. Sehingga pola konsumsi masyarakat akan bertambah, ditambah harga komoditi pangan juga terus naik. 

Sedangkan transportasi dan komunikasi memberikan kontribusi inflasi sebesar 1,15 persen. Dengan adanya kenaikan pajak perpanjangan STNK maka biaya transportasi menjadi bertambah. Sedangkan penggunaan paket data juga berpengaruh terhadap meningkatnya inflasi dari sektor komunikasi. 

Sri menambahkan, jika pemerintah tidak bisa mengendalikan harga maka kenaikan inflasi akan terus terjadi. Karena tahun lalu, inflasi tertinggi terjadi pada Januari. Sedangkan harga yang paling bergejolak di pasar merupakan harga ketetapan pemerintah. Meski permintaan barang tidak terjadi kenaikan tapi karena ada kebijakan kenaikan harga, tetap menyebabkan inflasi. “Karena harga tersebut sudah menjadi perhitungan pemerintah,” ungkapnya.

(bj/rka/feb/faa/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia