Selasa, 25 Jun 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features

Hobi Grafiti, Belajar dari Pengalaman dan Teman

Oleh : Rika Rahmawati

27 Januari 2018, 12: 44: 58 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

SENI GRAFFITI: Taaliyatu Aayatillah dan hasil coretan di dinding.

SENI GRAFFITI: Taaliyatu Aayatillah dan hasil coretan di dinding. (Rika Rahmawati/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

Sedikitnya komunitas graffiti di Lamongan tak menyurutkan semangat Taaliyatu Aayatillah. Dia belajar ke luar kota agar bisa menjadi seniman graffiti. Gerimis mengiringi perjalanan wartawan koran ini saat menemui Taaliyatu Aayatillah. Dia salah satu anggota komunitas graffiti di Lamongan. 

Taliya, sapaannya, menemukan suka dan duka saat menyalurkan bakat mencoret – coret dinding tembok atau bangunan lainnya. Tidak sedikit yang menganggap hobinya tersebut mengotori tembok jalanan.

Padahal, dia hanya ingin meluapkan gagasan dan idenya melalui sebuah gambar dengan tema menarik. 

Awalnya,  Taliya tergabung dalam komunitas one soul art.  Komunitas ini berdomisili di Gresik. Meski berada di luar Lamongan, dia merasa dapat mengekspresikan bakat seninya.

Taliya memiliki kenangan saat bersama komunitasnya yang berjumlah 20 orang, diminta membuat graffiti bertema peace of colour di sebuah kolam renang Tirta Gresik.  

Kesempatan itu dimanfaatkan Taliya untuk menyerap berbagai ilmu graffiti dari teman-temannya yang lebih senior. Sebagai pemula, dia merasa ilmunya masih sangat jauh.

Sehingga, kerap melakukan kesalahan dalam corat – coret.Taliya berasa beruntung karena komunitasnya selalu memberikan kesempatan kepadanya.

Dia tetap diajak untuk mengerjakan graffiti di beberapa tempat. Salah satunya, kolam renang DSC Sembayat dan KUD Bungah. Selama proses menggambar, Taliya membutuhkan waktu sekitar lima jam.

Dalam kurun waktu tersebut, tembok berukuran dua meter berhasil dihiasi dengan karya seni graffiti. Tangannya sangat cekatan dalam memainkan pilok untuk menghiasi dinding dengan tema sesuai permintaan.

Tulisan-tulisan bernada semangat anak muda selalu menjadi cirri khas Taliya. Senada dengan temannya, selalu menunjukkan warna-warna mencolok yang menunjukkan semangat muda. 

Kelemahannya dalam menulis rapi saat di sekolah dinilai menjadi keuntungannya dalam komunitas seniman graffiti.

Karena tulisan yang jelek tersebut justru bernilai seni tinggi, sehingga dalam komunitasnya dia berperan untuk mencoret-coret dalam bentuk tulisan dibandingkan desain. 

Selama menekuni hobinya sebagai seniman graffiti, Taliya kerap mendapatkan penolakan dari lingkungan. Saat itu,  bersama komunitasnya, Taliya berencana membuat seni graffiti pada salah satu sekolah di Gresik.

  Izin dari pihak sekolah sudah dikantongi. Dia bersama teman komunitasnya dengan telaten menggarap detail demi setail tembok sekolah tersebut.

Setelah lima jam dikerjakan, ternyata kepala sekolah tersebut kurang tertarik dengan hasilnya. Akibatnya, gambar harus dihapus seketika. Tanpa rasa menyesal, gambar tersebut akhirnya dihapus.

“Karena seniman itu dibayar dengan kepuasan penikmat seni,” tutur dara berjilbab tersebut. Bersama komunitasnya, Taliya ingin merubah image buruk seniman graffiti.

Setiap coretan seniman graffiti mengandung maksud khusus karena seniman graffiti menggambar berdasarkan tema. Bahkan, seniman graffiti selalu mengandalkan warna-warna pastel dan ngejreng dalam setiap coretannya.

Warna tersebut sebagai bentuk modernisasi seniman graffiti, supaya masyarakat tidak selalu melihat bahwa seniman graffiti selalu mengedepankan kritik sosial. 

Sebagai seorang seniman graffiti, Taliya masih butuh banyak ilmu. Karena dia kerap salah dalam mengartikan tema sehingga coretannya kurang maksimal.

Beruntungnya, anak kedua dari pasangan Abdullah Asfar dan Imro’atun Hasanah ini mendapatkan dukungan penuh dari orang tua dan lingkungannya.

Sehingga dia bisa terus berlatih dengan memanfaatkan tembok di sekeliling rumahnya. Taliya berencana untuk menekuni hobinya tersebut sampai menghasilkan pundi uang.

Sehingga dia berencana untuk sekolah seni rupa agar bakat seninya semakin terasah. Karena bakat seni tersebut tidak diturunkan dari orang tua, melainkan tumbuh dari minatnya sendiri.

“Jadi harus terus diasah karena belajarnya dari pengalaman dan teman,” ujar siswi MAN Lamongan ini.

(bj/rka/yan/bet/ch/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia