Rabu, 29 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Peristiwa

Polisi Gadungan Peras Pemenang Lelang Truk

26 Januari 2018, 11: 04: 27 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

DIAMANKAN: Salah satu komplotan Saefullah yang diringkus Satreskrim Polres Lamongan Rabu malam.

DIAMANKAN: Salah satu komplotan Saefullah yang diringkus Satreskrim Polres Lamongan Rabu malam. (Anjar D. Pradipta/Jawa Pos Radar Lamongan)

Share this      

MANTUP – Polres Lamongan menangkap komplotan pemerasan terhadap Andika Setya Atmaja, 38, asal Kelurahan Payaman, Nganjuk di Desa/Kecamatan Mantup Rabu (24/1) malam. Saifullah, 45, salah satu pemerasnya, beralamat Jl Wibisana Denpasar, Bali. Berdasarkan keterangan petugas kepolisian, tersangka ini mengaku sebagai anggota polisi saat menjalankan aksinya.

Padahal, dia tidak tercatat sebagai anggota kepolisian.‘’Intinya korban dimintai uang sebanyak Rp 50 juta untuk lahan parkir truk milik korban yang selama ini sudah rusak hingga beberapa tahun,’’ kata Kasatreskrim Polres Lamongan, AKP Yadwivana Jumbo Qantason.  

Polisi juga menangkap tiga orang lain yang saat digeledah membawa ID card sebagai wartawan.

BUKTI: Polisi menyita beberapa ID card yang menyebutkan nama media massa.

BUKTI: Polisi menyita beberapa ID card yang menyebutkan nama media massa. (Anjar D. Pradipta/Jawa Pos Radar Lamongan)

Mereka adalah Sapai, 40, asal Desa Gundih, Kecamatan Bubutan, Surabaya; M Kwalit, 28, asal Desa Gundal, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang; dan  Ismanto, 48, asal Wonokusumo, Kecamatan Semampir, Surabaya. Ketiganya diduga ikut terlibat pemerasan tersebut. 

Selain itu, Slamet Lurniawan, 35, asal Desa Manggisan, Kecamatan Tanggul, Jember dan M. Mujahit, 30, asal  Dupak, Kecamatan Krembangan, Surabaya, ikut ditahan. 

Menurut Kasatreskrim, pemerasan itu berawal setelah Andika Setya Atmaja memenangi lelang yang diadakan salah satu leasing di Surabaya. Lelang itu terkait sejumlah truk bekas yang mangkrak dan diparkir di Desa Mantup. 

Desember lalu, Saifullah bersama lima temannya mendatangi desa setempat. Mereka menanyakan pemilik truk bekas tersebut. Alasannya, truk – truk tersebut tidak ada suratnya alias bodong.  

Beberapa hari kemudian, Saifullah dkk datang lagi. Kali ini, dia mengaku anggota Polri dan pemilik bekas galian yang dijadikan tempat parkir truk. Saat di desa tersebut, lima temannya memanggil dia komandan.

Saifullah  bertemu Andika dan meminta uang Rp 50 juta. Alasannya, biaya ganti uang parkir. Namun, korban keberatan.

Rabu lalu, Andika ingin mreteli truk tersebut dan diangkut menggunakan mobil. Saifullah dkk kembali mendatangi korban dan meminta uang Rp 50 juta sebagai ganti lahan  parkir.

Alasannya tetap sama, lahan tersebut  miliknya karena dulunya sebagai pemilik galian. 

Korban  tetap keberatan. ‘’Semua tersangka datang sampai tiga kali untuk menemui pemilik truk tersebut dengan alasan tidak ada surat – suratnya alias bodong,’’ ujar Jumbo.

Saifullah yang berkedok anggota polisi, membawa HT yang ditaruh di pundak kanan. Sementara teman-temannya memanggilnya dengan sebutan komandan. Karena takut, korban kemudian bernegosiasi.

Hingga akhirnya disepakati Rp 12,5 juta. Melihat tingkah tersangka yang mencurigakan, korban menghubungi kenalannya yang menjadi anggota reskrim.

‘’Peran tersangka Saifullah menjadi polisi gadungan untuk menakut – nakuti korban agar lebih mudah meminta uang parkir,’’ ujarnya saat ditemui di ruangannya. 

Unit Reskrim Polres Lamongan kemudian bergegas menuju tempat kejadian perkara. Menurut Jumbo, saat digeledah, anggotanya menemukan uang pemerasan tersebut di tas milik Saifullah.

Selain itu, petugas juga menemukan replika senjata api jenis revolver. ‘’Bisa saja, senjata tersebut digunakan untuk menakut – nakuti korban.

Entah itu dipakai di pinggir ikat pinggang atau bagaimana. Tapi belum sampai dibawa, hanya ditaruh di dalam mobil,’’ jelasnya.

Selain itu, lanjut dia, tiga tersangka lainnya memiliki  kartu wartawan tabloid mingguan hingga bulanan.

‘’Barang bukti yang ditemukan, satu unit replika senjata api jenis revolver, satu unit HT, uang tunai Rp 12,5 juta dan tiga kartu wartawan mingguan dan bulanan,’’ imbuhnya.

Jumbo menuturkan, saat bertemu korban,  tiga tersangka yang membawa ID card wartawan itu tidak mengatakan sebagai wartawan. Mereka hanya seolah – olah anggota bawahan dari Saifullah.

Apakah tersangka membawa baju polisi? Jumbo menyatakan tidak menemukan baju polisi. ‘’Anggota masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. Termasuk, senjata tersebut membeli dimana,’’ tuturnya. 

(bj/jar/mal/yan/bet/ch/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia