Minggu, 26 May 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Bojonegoro

Temukan Penduduk KTP Luar Bojonegoro

24 Januari 2018, 10: 41: 01 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Ilustrasi Temukan KTP Luar Bojonegoro

Ilustrasi Temukan KTP Luar Bojonegoro (Ainur Ochiem/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Tahapan pencocokan dan penelitian (coklit) untuk persiapan pilkada serentak di Juni mendatang tak begitu banyak persoalan. Hanya, ada beberapa penduduk yang sudah lama tinggal di Bojonegoro tetapi masih ber-KTP daerah lain.

Komisioner KPUK Bojonegoro Ahmad Khudlori mengatakan temuan-temuan adanya penduduk yang tinggal di Bojonegoro tapi ber-KTP-kan kota lain itu berada di daerah perbatasan.

Daerah perbatasan itu diantaranya Kecamatan Padangan, Kasiman, Trucuk, Baureno, Kanor, dan Margomulyo.

Warga Padangan dan Kasiman ada yang masih ber-KTP Kecamatan Cepu, Blora.

Sedangkan, di Kecamatan Kanor dan Trucuk ada yang ber-KTP Tuban.

Sedangkan, ada warga di Baureno yang berdekatan dengan Lamongan.

Menurut Khudlori adanya penduduk yang tinggal di Bojonegoro tapi ber-KTP-kan luar daerah karena faktor pekerjaan.

Artinya, tinggalnya saja di Bojonegoro.

Namun, bekerja di luar kota. Ada pula, lanjut dia, penduduk yang sampai lupa mengurus KTP-nya.

Persoalan lain yang muncul yakni ada penduduk luar daerah sudah menetap lama di Bojonegoro tapi belum mengurus surat pindah.

Artinya, dia sudah beraktifitas di Bojonegoro tapi belum ber-KTP Bojonegoro.

‘’Ini tugas kami mendata itu.

Setelah ada data tersebut akan kami dorong untuk mengurus KTP atau surat pindahnya,’’ ujar Khudlori saat ditemui di kantor KPU, kemarin (23/1)

Dia menuturkan KPU juga akan menyarankan penduduk yang memang belum memiliki KTP untuk ke Dispendukcapil.

Sebab, tugas KPU dalam hal ini petugas yang ada di lapangan hanya melakukan pendataan saja.

Khudlori menambahkan, selain tentang penduduk ada juga persoalan tentang waktu pelaksanaan coklit.

Yakni, pencocokan itu terjadi kadang pagi, siang, atau malam.

‘’Kami berharap petugas bisa menyesuaikan.

Agar tidak terjadi miskomunikasi dengan masyarakat,’’ terangnya.

Dia mencontohkan, bila petugas datang malam hari karena pagi hari sampai sore penduduk yang akan dicoklit tidak ada di rumah.

 Karena itu, harus benar-benar bisa memahami psikologi warga.

 ‘’Jangan sampai warga terganggu saat didatangi malam-malam,’’ ujarnya. 

(bj/ai/aam/nas/bet/rod/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia