Rabu, 26 Jun 2019
radarbojonegoro
icon featured
Tuban

RSNU Tuban Jadi Rujukan Pendirian RS Cianjur

23 Januari 2018, 10: 57: 07 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

STUDI BANDING: Rombongan PCNU Cianjur saat melakukan kunjungan ke RSNU Tuban untuk belajar proses pendirian rumah sakit

STUDI BANDING: Rombongan PCNU Cianjur saat melakukan kunjungan ke RSNU Tuban untuk belajar proses pendirian rumah sakit (Yudha Satria Adhitama/Jawa Pos Radar Tuban)

Share this      

Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Tuban kembali menerima tamu istimewa. Kemarin (22/1), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cianjur, Jawa Barat secara khusus datang untuk studi banding terkait seluk-beluk rumah sakit.

Mulai tahap pendirian, pengurusan izin, manajemen, administrasi, hingga pelayanan.

Mereka disambut hangat jajaran manajemen dan pengurus PCNU Tuban di halaman rumah sakit tersebut.

Direktur RSNU Tuban Didik Suharsoyo mengatakan, ini adalah kali ketujuh tamu yang melakukan kunjungan dengan tujuan studi banding.

Sebelumnya,  yang melakukan studi banding  dari RSNU Banyuwangi, RS Syuhada Haji Blitar, RS Masito Pasuruan, RS Mabarot Bungah Gresik, RS Pura Raharja Surabaya, dan RS Asryi Lamongan.

‘’Sebelumnya, studi banding terkait manajemen rumah sakit yang sudah beroperasi.

Baru kali ini kunjungan untuk rencana pendirian rumah sakit,’’ tutur dia.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan PCNU Cianjur yang berjumlah 180 orang menilik bangunan fisik dan berbagai fasilitas penunjangnya.

Mereka juga menanyakan persiapan pendirian hingga tata kelola rumah sakit yang efisien.

Semua dikupas tuntas dalam diskusi hangat yang berlangsung di halaman belakang rumah sakit di Jalan Letda Sucipto tersebut.

‘’PCNU Cianjur mau membuat rumah sakit, salah satu tempat studinya di RSNU sini,’’ terang dokter senior Tuban tersebut.

Direktur PT. Bumi Damai Sentosa (BDS) selaku perusahaan pengelola RSNU, Wiwid Agung Wibowo mengatakan, sebagai rumah sakit pertama di Indonesia yang menggunakan nama Nahdlatul Ulama (NU), RSNU kerap menjadi rujukan PCNU se-Indonesia dan sejumlah pengurus rumah sakit lain untuk studi banding dan pembelajaran.

Mereka datang dengan tujuan mempelajari segala hal yang berkaitan dengan administrasi dan pelayanan. 

Dalam kunjungan tersebut, Wiwid juga mengupas tentang seluk beluk pendirian RSNU. 

Dijelaskan dia, pembangunan RSNU dimulai pada 23 Maret 2004 dan baru selesai 21 Februari 2009.

Saat itu, belum ada satu pun rumah sakit di Indonesia yang menggunakan nama NU dalam penamaan RS.

Setelah mendapat restu dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), akhirnya nama NU dipakai dalam pemberian nama.

‘’Setelah itu, nama RSNU diikuti kota-kota lain di Indonesia,’’ terang dia. 

Direktur Utama PT. BDS Nasrudin Ali menambahkan, hal lain yang dipelajari para tamu tersebut termasuk proses pendirian RS; apakah berbentuk yayasan atau perusahaan.

Hal itu dibahas tuntas hingga mereka memahami dengan detail.

Selain untuk studi banding, dikatakan Nasrudin, kegiatan tersebut untuk sambung rasa antar PCNU di Indonesia.

Sehingga bisa tercipta silaturahmi antar sesama anggota. ‘’Kami menyambut siapa pun yang ingin belajar manajemen rumah sakit, apalagi dari PCNU,’’ jelasnya.

(bj/yud/ds/bet/rod/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia