Rabu, 29 Jan 2020
radarbojonegoro
icon-featured
Peristiwa

Pilih Tambatkan Perahu, Trauma Korban Meninggal

12 Januari 2018, 19: 25: 21 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

MENGAIS PUING PERAHU: Salah satu nelayan Tambakboyo di antara perahu hancur yang ditarik ke pantai.

MENGAIS PUING PERAHU: Salah satu nelayan Tambakboyo di antara perahu hancur yang ditarik ke pantai. (Canggih Putranto/Radar Tuban)

Share this      

Cuaca ekstrem yang melanda wilayah pesisir pantai Tuban, tiga hari terakhir mencapai puncaknya. Kondisi ini memaksa nelayan tiarap untuk sementara waktu. Apalagi, ''teror'' di perairan Laut Jawa itu memakan 1 korban tewas dan 4 lainnya luka berat. 

--------------------------

A. ATHO’ILLAH, Tuban

--------------------------

MENDUNG tipis disertai embusan angin kencang dan gelombang tinggi di sepanjang pantai utara (pantura) Tuban, kemarin (11/1) menjelma  menjadi ''hantu'' yang menakutkan.

Utamanya, bagi warga yang tinggal di sepanjang garis pantai. Terlebih, cuaca ekstrem itu sudah membawa banyak korban.

Bahkan, salah satu nelayan Desa Pabean, Kecamatan Tambakboyo harus meregang nyawa akibat kepalanya terbentur bodi perahunya yang dihantam ombak.

Kondisi inilah yang membuat sebagian besar nelayan di sepanjang pantura trauma untuk melaut.

Utamanya para nelayan di Kecamatan Tambakboyo. Termasuk Jasmen. Seharian, nelayan 40 tahun itu berada di pantai.

Setelah bersama puluhan nelayan lain meminggirkan perahunya dan perahu-perahu lain, dia berjaga di pantai.

Tidak banyak yang dilakukan selain memandangi hamparan laut nan luas dengan ombak yang bergulung-gulung menerpa pantai. 

Dengan kondisi gelombang laut yang menyeramkan tersebut, nelayan asal Pabean ini mengaku tidak bisa berbuat apa pun.

‘’Sementara waktu harus berhenti melaut,’’ kata dia dengan logat Jawa-nya medok. 

Bagi Jasmen, tidak miyang (melaut, Red) adalah pilihan yang sulit.

Maklum, melaut adalah mata pencarian utamanya untuk menghidupi keluarganya.

Sejumlah tetangganya yang tidak memiliki perahu juga bergantung dari perahunya. 

Agar asap dapurnya tetap bisa mengepul selama tak melaut, dia mengaku tidak punya pilihan lain kecuali harus utang.

‘’Kita berharap, kondisi ini (cuaca ekstrem, Red) tidak bertahan lama,’’ tutur dia tanpa menyebut nama kerabat yang jadi jujukan utangnya. 

Tidak hanya Jasmen. Nasib yang sama juga dialami hampir semua nelayan  lain.

Utamanya, mereka yang menggunaan perahu kecil. Kasto, nelayan lain di Tambakboyo mengaku terpaksa kerja serabutan selama musim paceklik tersebut. 

Menurut pantauan Jawa Pos Radar Tuban, besarnya ombak tidak hanya mengancam perahu yang melaut. Perahu yang ditambatkan pun tak luput dari ancaman.

Tidak sedikit perahu yang ditambatkan di sepanjang garis  pantai terbalik dan pecah karena beradu dengan perahu lain.

Pemandangan nelayan yang membenahi perahu dan alat tangkapnya yang rusak diserang ombak terlihat di sepanjang pantai Tambakboyo.

‘’Kalau sudah seperti ini (perahu rusak, Red), ya harus diperbaiki dulu sebelum dipakai melaut lagi,’’ imbuh Wanto, nelayan lain Tambakboyo.

(bj/can/tok/ds/bet/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia