Selasa, 10 Dec 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features

Angklung Kusuma : Dikenal hingga Bandung karena Rajin Upload YouTube

10 Januari 2018, 19: 41: 44 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Angklung Kusuma Bojonegoro

Angklung Kusuma Bojonegoro (Istimewa/Radar Bojonegoro)

Share this      

Seni angklung hadir memberi sentuhan musik. Terutama lagu-lagu masa kini diaransemen dengan alat musik tradisional. Selain bermusik, bermain angklung bagian melestarikan alat musik tradisional.

--------------------------------------------

BHAGAS DANI PURWOKO, Bojonegoro

--------------------------------------------

TERIK matahari begitu menyengat, dua hari lalu. Debu jalanan dan kepulan asap kendaraan tak terhindarkan ketika hendak menuju salah satu kedai kopi di Kelurahan Jetak, Kecamatan Kota. Seorang pemuda berbadan gempal dengan raut optimisme berada di kedai sederhana tersebut.

Dengan santai, pemuda bernama Antok itu pun terlihat renyah ketika diajak berkomunikasi.

Antok merupakan musisi angklung. Pemuda tinggal di Dusun Ngantulan, Desa Bulu, Kecamatan Balen ini, mengenalkan angklung demi melestarikan alat-alat musik tradisional. 

Antok mengenalkan sebagai musisi jalanan dan kerap ngamen di desa-desa dekat kampungnya.

Namun, komposisi pemain musiknya cukup berbeda. Bersama tiga kawannya, ia memilih memanfaatkan angklung dan alat perkusi tradisional. 

Alat musik bernada ganda dan terbuat dari bambu tersebut cukup menarik apabila dikembangkan di Bojonegoro.

Meskipun, dia menyadari alat musk itu tenarnya di Jawa Barat. ‘’Paling tidak kami ingin lestarikan alat musik Nusantara agar tidak punah.

Kami pun pesan satu set dari Jawa Barat,” ujarnya ditemui dengan memakai kaus dan celana hitam.

Grup angklung yang dibentuk pun diberi nama Angklung Kusuma Bojonegoro.

Nama Angklung Kusuma ini diambil dari cerita Angling Dharma, yang memiliki anak bernama Angling Kusuma.

Grup ini memiliki empat personel. Antok penabuh drum, Andik Purnomo penabuh bass 1, Edi Mulyo penabuh bass 2 dan pemain tamborin, sedangkan Edi Prasetyo pemain angklung. ‘’Seluruh personel seumuran antara 24-25 tahun. Kita ingin mencari kesibukan menghasilkan,” ujar pemuda kelahiran 1992 itu.

Antok mengakui, mencari pekerjaan susah, jadi selama masih menganggur mereka fokus bermusik angklung.

‘’Sebelumnya ada personel bernama Basir, tapi keluar karena sibuk bekerja,” ujarnya.

Jadwal ngamennya setiap hari. Biasanya di Kecamatan Sukosewu hingga Kecamatan Sugihwaras.

Menurut dia, momen kebersamaan dan bisa menghibur warga mampu membuatnya terus optimistis.

‘’Setidaknya, susah senang rayakanlah. Semua harus disyukuri,” jelasnya. 

Bahkan, dari hasil bermusik keliling, menurut Antok, bisa mendapatkan uang Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu.

Jumlah itu, lalu dibagi empat personel. ‘’Kami ngamen dari pukul 09.00 hingga 15.00,” ujarnya.

Kepiawaian bermusik dengan alat musik tradisional ini pun kian dikenal. Mereka pernah diundang ke Kecamatan Cepu, Blora.

Bahkan, mereka sebenarnya pernah diundang bermain ke Bandung. Namun, akhirnya terbentur karena banyak jadwal manggung. 

Antok memastikan, grupnya pernah diundang ke Bandung karena rajin mengunggah video ngamen dan manggungnya di YouTube.

Dari situ, ada orang Bandung berminat mengundangnya. “Kami sebisa mungkin menjangkau penonton dari luar Bojoengoro menggunakan YouTube,” terangnya. 

Ada salah satu keunikan musik angklung. Antok menjelaskan penyanyi diiringi musik angklung tidak bisa sembarangan

. “Penyanyi harus pengalaman, karena nadanya angklung itu tinggi. Sehingga, kerap membuat penyanyi tidak bisa mengikuti nada dilantunkan pemain angklung,” ujarnya. 

Kerap kali, kata dia, saat manggung di acara pernikahan ada penyanyi dadakan ingin menyumbang lagu, hasilnya pasti kesulitan menyesuaikan nadanya.

“Karena itu, kami punya penyanyi andalan sudah biasa diiringi musik angklung,” ucapnya.

(bj/gas/rij/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia