Minggu, 20 Oct 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features

Melihat Para PNS ketika Tanggal 15 Setiap Bulan Berbalut Pakaian Samin

16 November 2017, 10: 10: 59 WIB | editor : Fa Fidhi Asnan

Suku samin

KOMPAK: Para PNS memakai pakaian adat samin setiap tanggal 15 sesuai perbup (Amrullah A.M/Radar Blora)

Share this      

Setiap daerah kini mulai menonjolkan kelokalannya. Seperti di Blora, mereka tengah berbangga dengan ajaran samin. Termasuk mengenakan pakaian khasnya. 

-------------------------

AMRULLAH AM., Blora 

------------------------

MENDUNG masih mengintai kawasan perkotaan Blora. Namun, segera pergi setelah cahaya surya datang. Tak begitu lama mendung muncul lagi. Kompleks perkantoran di Pemkab Blora tampak berbeda hari itu. 

Tak banyak orang mengenakan pakaian dinas resmi. Justru mereka mengenakan pakaian hitam-hitam. Tidak sedang berkabung. Namun, mereka mengenakan pakaian khas warga Samin. Para abdi negara itu mengenakan pakaian serbahitam. Celana komprang dan pakaian hitam mirip pakaian perguruan silat.

Bagi yang laki-laki memakai ikat kepalanya. Setiap tanggal 15 memang para pegawai di lingkungan Pemkab Blora diwajibkan menggunakan pakaian kebesaran masyarakat samin. 

Kepala Bagian Organisasi Tata Laksana (Ortala) Riyatno mengatakan, seragam samin awalnya dipakai sebulan sekali pada hari Kamis minggu ketiga. Dan kini diubah menjadi setiap tanggal 15. Menurutnya perubahan jadwal pemakaian seragam samin ini akan ditetapkan dengan adanya peraturan bupati (perbup).

Pemakaian seragam samin ini bukan hanya sebagai simbol saja. Melainkan, nilai-nilai ajaran Samin Surasentiko harus benar-benar diejawantahkan. Terutama bagi kalangan PNS.

Jariman, penganut ajaran Sikep di Desa Tanduran, Kecamatan Kedungtuban, mengatakan, samin sejatinya merupakan laku kebajikan mudah dipahami. Hanya tataran praksis kehidupan sehari-hari, tidak mudah memahami kode etik-moral yang digariskan.

‘’Diarani Samin, merga sing takon ya wong, sing njawab yo wong. Dadi pada-pada, sami-sami amin,’’ ujar dia dengan logat khas bahasa Jawa. Dari kalimat itu terdapat makna bahwa masyarakat samin itu setara. Mereka tak membedakan kasta satu sama lain. 

Lasiyo, tertua masyarakat Samin di Desa Klopoduwur Kecamatan Banjarejo mengatakan, salah satu ajaran moyangnya itu adalah hidup rukun dengan sesama. Tidak boleh memiliki sifat dengki ataupun iri pada saudaranya sendiri. 

Mendalami ajaran Sedulur Sikep, termasuk menggunakan pakaian itu, adalah hal yang sederhana saja. Tidak bersifat berlebihan. Bahkan, harus bersifat ngalah meski tidak kalah.

(bj/aam/rij/faa/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia