Senin, 27 Jan 2020
radarbojonegoro
icon featured
Tuban
Lapsus

Dua Perempuan Melarat Ditahan karena Pertengkaran Kecil 

23 Oktober 2017, 07: 10: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

MERENGEK: Nurtitia memeluk bapaknya, meminta ketemu dengan Kamisih, ibunya yang ditahan di Lapas Tuban.

MERENGEK: Nurtitia memeluk bapaknya, meminta ketemu dengan Kamisih, ibunya yang ditahan di Lapas Tuban. (Dwi Setiawan/Radar Tuban)

Share this      

Pertengkaran kecil mengantar Kamisih, 39, dan Musriati, 45, yang miskin dan tak pernah mengenyam pendidikan formal, ke penjara. Kasus ini menggambarkan potret hukum yang tak berpihak kepada orang yang lemah. Selama menjalani proses hukum, kedua warga Desa Pliwetan, Kecamatan Palang yang tertindas ini nyaris tak mendapat pembelaan.

-------------------------------------

NURTITIA terus merengek. Bocah enam tahun ini meminta diantar ke ibunya, Kamisih yang ditahan di Lapas Tuban sejak Senin (16/10) lalu.

Mendengar rengekan anak semata wayangnya itu, Kasmuji, 42, bapaknya tak bisa berbuat banyak.

Dia hanya bisa menghibur. Sekali waktu, dia  mengalihkan perhatian dengan membicarakan hal lain.

Ya, upaya Aji, panggilan akrab Kasmuji untuk menemukan si kecil dengan ibunya, untuk sementara ini tak mungkin bisa dipenuhi.

Sebelum seminggu menjalani hukuman, tahanan lapas tak boleh dibesuk. ''Kasihan anakku. Dia sangat menderita selama ibunya ditahan,'' kata Aji.

Ditahannya Kamisih benar-benar membuat bocah bertubuh mungil ini menderita.

Dituturkan Aji, sejak Selasa (17/10) atau sehari setelah ibunya ditahan, siswi kelas 1 SDN Pliwetan, Palang ini enggan sekolah. Makan tak didoyan. Juga selalu murung. 

Di rumah, dia hanya bisa meratapi ibunya yang sebelumnya selalu menunggui. Bocah ini memang tak bisa dilepaskan dari sang ibu. ''Kangen ibu....kangen ibu,'' kata dia ketika ditanya Jawa Pos Radar Tuban. 

Karena Nurtitia tak mau lepas, Kasmuji tak bisa menarik becak. Pekerjaan serabutan pun ditinggalkan demi menjaga dan menenangkan si kecil. 

Keluarga Kasmuji adalah potret keluarga yang papa. Kasmuji hanya mencicipi bangku SD hingga kelas empat.

Sementara Kamisih yang tak pernah sekolah, buta huruf. Keluarga ini tak memiliki rumah. Tempat tinggal yang dihuni sekarang adalah pinjaman dari temannya yang iba.  

Rumah di tengah perkampungan padat Pliwetan tersebut jauh dari kata layak. Rumah berukuran 8x4 meter (m) tersebut berlantai tanah lembek.

Dindingnya campuran gedhek guling dan papan. Tempat hunian ini juga tanpa perabot meja-kursi tamu. Ketika bertandang, wartawan koran ini didudukkan pada gelaran terpal di ruang tamu.   

Kondisi Musriati yang juga tinggal di Pliwetan kurang lebih sama. Sehari-harinya, perempuan yang drop out SD ini berjualan rujak keliling. Suaminya, Mitro hanya bekerja serabutan. 

Kasus hukum yang dihadapi dua perempuan malang ini sangat sepele. Pada 14 Juli lalu, Kamisih cekcok mulut dengan tetangganya bernama Munik.

Kabarnya, perselisihan tersebut dipicu dari cemburu. Cekcok mulut tersebut memicu perkelahian ala perempuan. Munik mengalami luka cakaran ringan pada leher kiri.

Sementara Kamisih juga terluka pada dada kiri. Ketika pertikaian berlangsung, datang Musriati untuk melerai. Di tengah pergumulan tersebut, Musriati terdorong dan akhirnya terjatuh. Dia mengalami luka pada punggung. Karena kesakitan, dia spontan mengambil sapu dan memukulkan gagang sapu pada lutut Munik. 

Entah, mengapa perkelahian kecil ala ibu rumah tangga ini berbalik. Kamisih dan Musriati yang juga terluka berubah status menjadi terlapor.

Ketika didamaikan di balai desa dan disaksikan kepala desa dan perangkat setempat, kedua perempuan melarat nan lemah ini berupaya meminta maaf.

Bahkan, keduanya sempat bersimpuh kepada korban. ''Drama'' permohonan maaf kedua perempuan ini sempat dipotret sejumlah warga setempat.

Musriati yang mengiba permintaan maafnya tidak diterima, sempat pingsan. Upaya perdamaian tersebut tak membuat kasus tersebut selesai.

Diam-diam, Munik yang juga kakak kandung kepala desa setempat melapor ke Polsek Palang. Kabarnya, ada ''kekuatan besar'' yang memaksakan kasus remeh-temeh tersebut  ke ranah pidana.

Karena kasusnya sepele, polsek juga berusaha memediasi. Ngototnya pelapor menjadikan polisi terpaksa menyidik.

Kedua terlapor pun hanya dikenakan wajib lapor. Mereka dijerat pasal 170 KUHP atas tuduhan pengeroyokan.

Ketika berkas perkara kasus tersebut dilimpahkan ke kejaksaan, Kamisih dan Musriati justru ditahan. 

Kapolsek Palang AKP Simoen mengatakan, pihaknya sudah berupaya memediasi agar kasus tersebut tidak diproses hukum.

Namun, karena pelapor yang didampingi penasihat hukumnya Sujono Ali menolak mediasi, dia tidak bisa berbuat banyak. ''Ya, akhirnya kita proses,'' tegas dia.

Simoen tidak menjelaskan hasil visum luka korban. Mantan kanitreskrim Polsek Sukolilo Surabaya ini hanya mengakui kalau yang bersangkutan tidak dirawat.

Yuniarti Undarti, jaksa yang menangani perkara tersebut mengatakan, dirinya menangani kasus tersebut sesuai prosedur setelah polisi melimpahkan berkas perkaranya. 

Mengacu hasil visum dan foto korban, dia mengakui kalau korban hanya mengalami luka ringan dan tidak menyebabkan yang bersangkutan mendapat perawatan medis.

Namun, karena terlapornya dua orang, menurut dia, sudah tepat kalau tindak pidana yang menjerat pasal 170 KUHP.

Karena kasus tersebut tergolong ringan, dia sempat menyarankan agar kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan.

Undarti, panggilan akrabnya menambahkan, berkas kasus tersebut sudah dilimpahkan ke pengadilan. ''Sekarang menunggu jadwal sidang,'' ujar dia.

Sujono Ali, penasihat hukum pelapor  hingga berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi.

Ponselnya yang berkali-kali yang dihubungi tak terdengar nada sambung.

Istri Sujono yang ditemui di rumahnya Graha Regency Tuban mengatakan, suaminya ke Purwokerta, Jateng bersama kliennya.

(bj/ds/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia