Selasa, 12 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Kolom
Zahidin

Jalan Jalan ke Turki (6)

09 Oktober 2017, 11: 27: 46 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

zahidin

zahidin (Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

USAI melihat  Masjid Agung Ulu Camii, Bursa, saya dan rombongan menuju Pamukkale. Jaraknya cukup jauh. Sekitar 649 kilometer. Hemm, cukup bikin pantat panas dan pinggang pegal.

Untung kendaraan yang kita tumpangi cukup keren: Minibus merek Mercedes Benz. Sudah begitu jalan raya menuju Pamukkale bak jalan tol. Lebar dan mulus.  Kendaran pun mentul-mentul, tanpa geronjalan berarti. Bisa tidur pulas setelah ditrack naik pesawat 13 jam, keliling kota Istanbul dan Bursa, serta istirahat sejenak di Kervansaray Hotel.

Meski bisa pulas dalam beberapa jam, perjalanan Bursa-Pamukkale cukup menyenangkan. Kita bisa menyaksikan betapa Turki sangat perhatian terhadap pertanian. Bahkan, sektor ini menjadi prioritas utama penggerak ekonomi setelah perdagangan, wisata, dan otomotif.

BENTENG KAPAS: Direktur Radar Bojonegoro Zahidin berpose di Pamukkale, Turki.

BENTENG KAPAS: Direktur Radar Bojonegoro Zahidin berpose di Pamukkale, Turki. (Zahidin/Radar Bojonegoro)

Hutan zaitun, ladang gandum, jagung, labu, dan jug anggur. Pertanian itu terhampar-hampar di lahan yang luas beribu-ribu hektar. Mulai pinggir jalan, lereng-lereng, bukit dan gunung-gunung. Diselingi dengan peternakan domba dan lembu.

Sementara itu, di atas berbagai gunung terdapat baling-baling raksasa sebagai sumber listrik alami. Alias Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). Sungguh megah dan indah pemandangannya. Sedangkan di pelbagai lereng terdapat juga panel-panel surya untuk pembangkit listrik. Angin gunung dan panas matahari di lereng-lerengnya dimanfaatkan betul untuk menghemat energi listrik. 

Silo-silo raksasa juga berserakan di bangun di lereng-lerang dan tepi jalan. Berfungsi untuk menyimpan hasil pertanian. Turki menerapkan betul model managemen pangan ala Nabi Yusuf. Panen sebesar-besarnya, dikeluarkan seperlunya, dan disimpan sebanyak-banyaknya.

Maklum, masa tani di Turki cukup pendek karena mengalami empat kali musim. Panas, hujan, gugur dan dingin. Ketika musim panas tetap bertani. Dibuatlah berbagai upaya hujan buatan agar tanaman bersemi. Kala hujan digenjor juga. Sedangkan saat musim gugur juga tetap bertani. 

Hasil panen lantas disimpan dalam silo-silo raksasa itu. Agar saat musim dingin tiba, ketika sebagian besar lahan tertutup salju, Turki bisa tetap ‘’panen’’. Tak kekurangan suatu apapun dari hasil pertanian.

Hampir seharian kita melihat pemandangan pertanian yang menakjubkan di antara Bursa-Pamukkale. Bahkan, saat mendekati Pamukkale kita disuguhi tanaman delima. Buah-buahnya bergelantungan merah merona. Delima tumbuh subur dan dipakai pagar lahan-lahan dan halaman rumah mereka. Merupakan pemandangan langka di Tanah Air Beta.

Sampailah di Pamukkale. Jam menunjukkan pukul 15.30. Matahari masih terik bak jam 13.00. Maklum, magrib di Turki pukul 19.00. Kendati demikian, udara sangat sejuk. Memasuki musim gugur, jalan-jalan keliling Turki sangat menyenangkan.

Pamukkale sendiri berasal dari bahasa turki yang artinya cotton castle. Bermakna istana kapas atau benteng kapas. Sebuah gunung yang berwarna putih bak kapas. Membentuk stalaktit dan stalakmit. Umumnya, ini berada di gua. Tapi, di Pamukkale di atas gunung, bahkan gunung itu sendiri. Dalam bahasa ilmiahnya disebut travertines atau batuan kapur atau gunung kapur (dolomit).

Di sini sebenarnya ada dua obyek wisata pegunungan. Tapi, sudah menjadi satu. Yakni, hierapolis dan travertines.  Untuk naik ke gunung ini ada dua pintu masuk. Yakni dari bagian bawah dekat dengan travertines dan bagian atas dekat dengan hierapolis.

Saya masuk lewat Hierapolis. Lewat atas. Sehingga jalannya tidak terlalu menanjak seolah naik gunung. Meski, sebenarnya lewat bawah pemandangannya lebih indah.

Hierapolis adalah sebuah kota kuno di Turki yang menjadi situs warisan dunia UNESCO sejak 1988. Hierapolis terletak di atas mata air panas Pamukkale. Lokasinya 18 kilometer dari kota Danizli, Turki. 

Di masa lalu, hal yang umum untuk membangun kuil dan tempat-tempat suci di sekitar fenomena alam seperti air panas. Pada awal abad ke-3 SM, sebuah kuil dibangun oleh orang Phrygia di lokasi tersebut yang didedikasikan untuk Hieron. Lokasi pembangunan kuil ini di kemudian hari menjelma menjadi Hierapolis. 

Pada abad ke-2 SM, Hierapolis dikembangkan menjadi tempat spa yang dipersembahkan kepada Raja Pergamon, Eumenes II, oleh Roma. Asal nama Hierapolis masih diperdebatkan. Sebagian percaya nama Hierapolis diambil dari kuil Hieron yang didirikan di tempat tersebut. Sebagian lain berpendapat Hierapolis diambil untuk menghormati Hiera, istri Telephos, yang telah mendirikan dinasti Attalid.

Hierapolis cepat populer sebagai resor pengobatan, dengan mata air panas yang dipercaya memiliki berbagai khasiat penyembuhan. Kolam-kolam air panas dari sumber thermal dibangun di sekitar kuil.

Hingga kini, bekas kolam itu masih ada. Dan, menjadi jujukan para turis bermandi ria. Pengunjung yang datang memanfaatkan air panas Pamukkale sebagai tempat spa atau pun terapi. Mereka percaya, dengan berendam di kolam yang kaya akan kandungan mineral, bisa mengobati penyakit rematik, kulit dan kelelahan syaraf. 

Bekas-bekas kota tua Hierapolis masih bisa kita saksikan. Sisa-sisa reruntuhan bangunan, katedral, kuil, tembok-tembok, pilar, amphiteather, dan kuburan-kuburan tua. Hierapolis ini begitu luas, kami pun harus berjalan selama lebih dari 2 jam untuk menjelajahi tempat bersejarah ini.

Di sinilah salah satu tempat yang dipakai syuting film Ghost Rider 2: Spirit of Vengeance yang dibintangi Nicholas Cage dan Idris Elba.

Dalam sejarah, kota ini lantas hancur setelah diterpa gempa beberapa kali. Usai gempa terjadi, menyebabkan retakan-retakan pada tanah. Dari situlah muncul air panas. Sumber air panas ini berasal dari puncak gunung. Air pada sumber mata air masih sangat panas, mulai dari 100 derajat sampai 350 derajat celsius.

Tetapi setelah mengalir kemana-mana, suhu air semakin turun dan menjadi hangat.  Mata air panas yang mengandung kalsium karbonat keluar dan menguap.  Akhirnya, membentuk lapisan-lapisan kapur.

Posisinya di bawah reruntuhan Hierapolis. Inilah yang disebut Pamukkale. Berupa travertines atau batuan kapur atau gunung kapur yang terbentuk dari deposit kalsium karbonat. Batuan putih ini terbentuk secara alami sejak ribuan tahun yang lalu. 

Dari kejauhan travertines terlihat seperti kolam bertingkat dengan air panas di dalamnya. Air itu meluncur dari atas gunung ke berbagai aliran. Jatuh ke bawah membentuk danau-danau. Sebagain lain membentuk kolam-kolam air panas.

Jika dilihat dari bawah, lapisan kapur itu tampak seperti es. Tetapi banyak juga yang bilang  kalau Pamukkale ini mirip istana kapas. Lihat saja warnanya yang putih seperti kapas dan bentuknya yang bertingkat seperti istana atau benteng.

Kompleks air panas ini memiliki panjang 2.700 meter dan lebar 600 meter. Sumber air panas berasal dari 17 sumber air panas yang bergabung menjadi satu.  Saat musim dingin, air di Pamukkale tidak membeku dan masih terasa hangat.  Kolam air panas Pamukkale memiliki kandungan mineral yang tinggi, dan mampu mengobati banyak penyakit, misalnya rematik, kulit, dan kelelahan syaraf.

Daya tarik Pamukkale yang paling kuat adalah tebing putihnya yang terbentuk dari kandungan air panas, kemudian membeku dan membentuk seperti air terjun beku. Kecantikan inilah yang sukses menjadikan Pamukkale sebagai jujukan wisata.

Menyusuri Pamukkale saya teringat Alquran surat Albaqarah ayat 74. “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal, di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai. Di antaranya terbelah lalu keluarlah mata air. Di antaranya juga sungguh ada yang meluncur jatuh; karena takut kepada Allah.’’ (bersambung)

(bj/*/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia