Jumat, 22 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Kolom
Zahidin

Jalan Jalan ke Turki (3)

05 Oktober 2017, 07: 22: 32 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

zahidin

zahidin (Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Share this      

Kalau di Istanbul ada Masjid Biru (Blue Mosque), di Bursa ada Masjid Hijau (Green Mosque). Bahkan, Masjid Hijau inilah menjadi cikal-bakal arsitektur seluruh masjid di Turki sekarang ini. 

Di hari pertama itu, kami selanjutnya menuju Kota Bursa. Ini adalah tempat kelahiran Ustman Gazi (Osman Gazi), bapak pendiri Dinasti Ustmaniyah. Di kota berjarak 194 kilometer selatan Istanbul itulah Kerajaan Ustmaniah pertama kali berdiri.  Menuju ke kota harus melalui jembatan gantung Osman Gazi.

Jembataan ini adalah jembatan gantung keempat di Turki yang melewati selat Bosphorus.  Jembatan untuk mengenang pendiri Kerajaan Ustmaniyah (Ottoman) ini panjangnya 2.682 meter atau 2,6 kilometer. Diresmikan pada 1 Juli 2016. Setahun lalu.

Masjid Hijau (kiri), Pancuran akustik (kanan)

Masjid Hijau (kiri), Pancuran akustik (kanan) (Zahidin/Radar Bojonegoro)

Sebelum ini, Turki punya tiga jembatan gantung bak jembatan gantung Golden Gate San Fransisco (2.727 meter), Amerika. Yakni, Jembatan Sultan Muhammad Alfatih (1.510 meter), Jembatan Bospohorus (1.560 meter),  dan Jembatan Sultan Salim (2.164 meter). Jembatan Osman Gazi juga diklaim sebagai jembatan gantung terpanjang keempat di dunia.

Melewati jembatan ini punya sensasi tersendiri. Kita bisa melihat Istanbul dan Bukit Marmara seakan dari atas gunung. Maklum, tinggi jembatan ini 234 meter. Jarak ke bawah 64 meter. Selat Bosphorus pun dapat kita lihat bak lautan membiru. Kapal-kapal ferry, tanker, dan kapal lain terlihat lalu lalang. Perkotaan Istanbul dan Marmara tampak menarik seperti melihat memakai drone. 

Pemandangan itu tidak lama. Sebab, dalam kecepatan kendaran 80 km/perjam, melewati jembatan ini hanya beberapa menit saja.

Perjalanan menuju Bursa sekitar 1,5 jam. Lebih cepat dibanding tiga tahun silam sebelum jembatan Osman Gazi beroperasi. Inilah kota teramai keempat di Turki setelah Ankara, Istanbul dan Izmir. Penduduk kota ini 33 juta. Menjadi pusat ekonomi keempat di Turki. Di kota ini pabrik mobil Fiat dan Hyundai berdiri. 

Terdapat pula cable car setinggi 8.800 meter. Salah satu cable car tertinggi dan tercepat di dunia. Naik setinggi itu hanya memakan waktu 22 menit. Pada musim dingin, Bursa menjadi jujukan para pelancong. Utamanya dari Saudi Arabia.  Bermain ski di atas gunung Bursa.

Selain industri otomotif, Bursa adalah penghasil zaitun. Tanaman zaitun bukan sekedar dalam bentuk tegal dan sawah, namun sudah seperti hutan. Bukit-bukit, lereng-lereng, dan dataran-dataran penuh dengan hutan zaitun. Selain zaitun, Bursa juga penghasil sutra, madu, dan agribisnis lain.

Bursa adalah ibukota pertama kesultanan Ustmaniyah. Didirikan Ustman Gazi  pada tahun 1326. Bursa dijuluki Yesil Bursa;  bursa yang hijau. 

Setiba di Bursa kita tidak langsung masuk hotel. Namun, menuju Masjid Hijau, makam Sultan Mehmet I, dan mengunjungi Rumah Sutra. 

Begitu turun dari mobil Mini Van Mercy kita langsung disambut oleh bangunan berwana merah berlantai dua. Ditulis dengan huruf menonjol berwarna hijau: Rumah Sutra. Ahai, berbahasa Indonesia? Pemiliknya dari Indonesia kah? Jangan-jangan benar. Sebab, usai turun dari pesawat di Istanbul, kita diajak sarapan pagi di Warung Nusantara. Pemiliknya orang Turki. Tapi, istrinya dari Padang, Sumatra.

Apakah Rumah Sutra juga demikian? Tak da jawaban. Kita disambut lelaki Turki dan SPG warga Turki juga. Disilahkan masuk lewat pintu yang diatasnya bertulis Silk House. Sedangkan tulisan Rumah Sutra berada kiri pintu.

Ah, rupanya itu trik dagang saja. Itu untuk mendekatkan diri kepada pelancong dari Indonesia yang berjibun masuk Turki.  Turki adalah salah satu destinasi wisata favorit bagi turis asal Indonesia. Bahkan, paket-paket umroh pun sekarang banyak yang menjual dengan wisata ke Turki.

Ibu-ibu – dan juga bapak-bapaknya—sering memburu sutra produksi Turki. Di Rumah Sutra itu bejibun aneka pakaian, mantel, sandal, kerudung, syal, pashmina, jilbab, taplak meja, rukuh, hiasan dinding, dompet, tas, sepatu, dan berbagai aksesoris berbahan sutra. Sutra Turki terkenal berkualitas. Dibanding di China, sutra Turki lebih dipercaya originalitasnya.

Maka, tak heran, untuk melayani tamu asal Indonesia yang gemar belanja, pengusaha di Bursa rela memberi nama tokonya dengan nama Rumah Sutra. Eh ini juga. Para SPG-nya ternyata juga fasih berbahasa Indonesia.

Rumah Sutra ini berada persis di bawah Masjid Hijau dan makam Sultan Mehmet I. Sangat strategis. Siapapun turis yang ingin berkunjung ke Masjid Hijau pasti melewatinya. Siapapun yang turun dari makam Sultan Mehmet I juga melewatinya.

Hari itu, kita diminta melewati Rumah Sutra. Prioritasnya adalah mengunjungi Masjid Hijau dan ziarah ke Makam Sultan Mehmet I. 

Dalam bahasa Turki, Masjid Hijau disebut Yesil Camii. Yesil artinya hijau. Camii bermakna masjid. Disebut juga masjid agung (masjid jamik). Ada juga sebutan di Turki: Mescit. Kalau dengan logat Indonesia dilafal masjid. Tapi, bahasa Turki Mescit berarti musala atau masjid kecil.

Disebut Masjid Hijau karena interior masjid didominasi warna hijau dan toska. Warna hijau juga melambangkan warna Islam. 

Masjid Hijau mulai dibangun pada 1419. Di masa pemerintahan Sultan Celebi Mehmed atau juga disebut Mehmed I. Kakek Sultan Muhammad Alfatih, penakluk Konstantinopel.Masjid ini indah sekali. Salah satunya jejak-jejak peralihan bangunan dari zaman Seljuk Turki ke zaman Utsmaniyah Turki. Ciri utamanya kubah besar dan menara tinggi. Di kemudian hari, itulah yang menjadi ciri khas bangunan masjid di seluruh Dinasti Ustmaniyah.

Desain Masjid Hijau menjadi multifungsi. Tak sekedar masjid. Namun, menjadi madrasah/pesantren dan tempat memutuskan perkara masyarakat . Ada tujuh ruangan dalam masjid itu. Ruang utama berfungsi sebagai tempat salat. Letaknya berada di tengah setelah pintu masuk. 

Di sayap kiri dan kanan tempat salat sekitar mihrab dan mimbar terdapat  dua ruangan. Dipakai untuk madrasah atau pondok tempat para santri mengaji. Sedang dua ruangan lagi untuk menyidangkan perkara.

Di antara kedua ruang sidang perkara itu ada satu pancuran air. Terdiri dari bahan batu pualam. Kalau airnya dipancurkan terdengar suara gemericik air yang nyaring. Selain berfungsi untuk berwudu, juga meredam suara dari empat serambi tersebut. Pancuran itu juga sebagai AC alam saat musim panas.

Di atas pintu masuk terdapat balkon yang dipakai khusus salat Sultan dan keluarganya. Sultan sebenarnya ingin salat berjamaah di saf depan. Namun, lantaran faktor keamanan, mereka beribadah di dalam balkon itu. Balkon ini juga dipakai iktikaf Sultan dan keluarga pada 10 hari terakhir Ramadan.

Yang menarik juga. Di bawah balkon itu terdapat dua ruangan kecil. Tempat ini dikhususkan bagi jamaah masbuk (tertinggal salat). Jamaah masbuk dilarang langsung memasuki saf bersama jamaah lain. Tapi, harus salat ‘’menyendiri’’ di dalam ruangan kecil itu. 

Mengapa? Tujuannya ternyata sederhana. Agar mereka tidak mengganggu jamaah yang ingin keluar masjid begitu usai salat. (bersambung)

(bj/*/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia