Selasa, 13 Nov 2018
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Setelah 10 Tahun, Akhirnya Kang Yoto Raih Doktor

Minggu, 24 Sep 2017 06:00 | editor : Ebiet A. Mubarok

PRESTASI AKADEMISI: Bupati Suyoto memaparkan desertasinya dihadapan para penguji dan promotor di UMM kemarin.

PRESTASI AKADEMISI: Bupati Suyoto memaparkan desertasinya dihadapan para penguji dan promotor di UMM kemarin. (Anas A.G / Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Setelah hampir 10 tahun akhirnya Bupati Suyoto meraih gelar doktor.

Gelar tersebut diraih setelah berhasil mempertahankan desertasinya di hadapan para penguji dan promotor di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kemarin (22/9). 

Kang Yoto, sapaan akrabnya, mempertahankan desertasinya yang berjudul Konstruksi Pemaknaan Ritual Kematian sebagai Perwujudan

Nilai-Nilai Kebajikan Sosial dalam Persepektif Bergerian. Desa Pajeng Kecamatan Gondang menjadi obyek penelitian desertasinya. 

Di hadapan sembilan pengujinya, Kang Yoto mengungkapkan, lembaga rukun kematian di Desa Pajeng menjadi contoh kebajikan sosial bukan hanya bagi Bojonegoro tapi juga Indonesia.

"Bagaimana warga Desa Pajeng  mengubah trauma konflik masa lalu menjadi kebajikan sosial," kata pria asal Kecamatan Kanor ini. 

Dia bercerita, pada 1955 pemilu pertama di Indonesia, Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi pemenang di Desa Pajeng.

Ketika peristiwa 1965, hampir semua perangkat desa setempat menjadi korban konflik. "Konflik bisa diselesaikan karena warga bisa saling  memaafkan dengan tulus dan kejujuran,"ujarnya.

Kang Yoto melanjutkan, lembaga rukun kematian berawal dari ada warga miskin yang meninggal dunia. Warga yang mendapatkan musibah harus menyembelih minimal seekor kambing untuk selamatan.

Dari situ muncullah kesadaran dari warga agar musibah itu menjadi tanggung jawab bersama warga dusun. "Dalam proses menjadikan rukun kematian, semua warga dilibatkan,"tukasnya. 

Karena itu, rukun kematian di Desa Pajeng bisa menjadi contoh pengelolaan dana desa yang saat ini gencar disalurkan pemerintah. "Ini bisa contoh bagi Indonesia,"tegasnya.

Hampir semua penguji memberikan apresiasi atas desertasinya Kang Yoto. Bahkan desertasinya Kang Yoto layak untuk dijadikan buku agar bisa dibaca luas oleh masyarakat.

(bj/nas/rij/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia