Sabtu, 23 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Ekonomi Dan Bisnis

Fashion Lokal Tetap Prospek

05 September 2017, 07: 05: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

RAMAI: Salah satu toko pakaian yang menyediakan pakaian lokal ditengah persaingan pasar busana impor.

RAMAI: Salah satu toko pakaian yang menyediakan pakaian lokal ditengah persaingan pasar busana impor. (Yudha Satria Aditama/Radar Tuban)

Share this      

TUBAN – Meski diserbu fashion impor, busana lokal masih mempunyai pasarnya tersendiri. Terbukti toko pakaian produk lokal masih ramai pelanggan meskipun banyak outlet baju impor yang berdiri di Bumi Wali. Pakaian lokal kini bersaing karena segi kualitas juga tak diragukan. Terlebih harganya lebih miring jika dibandingkan busana dari luar negeri.

Helena Pramitha, pemilik salah satu butik di Tuban mengatakan, busana lokal dan impor mempunyai pasarnya tersendiri. Busana lokal yang banyak diburu konsumen adalah batik, kemeja dan kaus produk distro. Sementara produk impor yang banyak diminati seperti long dress, gamis, dan baju wanita lainnya. ‘’Busnaa impor banyak pada jenis pakaian wanita. Soalnya pria lebih banyak minat produk lokal,’’ tutur dia.

Lebih lanjut Mitha menjelaskan, pakaian couple atau sarimbit juga menjadi nilai jual tersendiri bagi produk lokal. Sebab, produk impor jarang mengeluarkan pakaian pasangan.  Dikatakan Mitha, tren fashion terus berputar. Meski ada massanya tren pakaian tertentu kurang diminati, beberapa tahun kedepan pasti pakaian tersebut kembali ramai diburu konsumen. 

Mitha menuturkan, memang beberapa jenis fashion terus ngetren dan tidak tertinggal zaman. Seperti halnya kemeja kotak-kotak dan celana jeans. Dua setelan pakaian tersebut tidak pernah meredup meskipun tren fashion lainnya silih berganti. ‘’Fashion impor diminati karena lebih cepat update mode baru biasanya. Fashion lokal pun gak mau kalah karena harganya lebih murah,’’ tambah dia. 

Pemilik butik lain, Rena mengatakan, selain murah, fashion lokal juga lebih banyak pilihan. Sebab, kini pemasok busana yang banyak diminati tidak hanya dari Bandung saja. Banyak diantara lainnya dari Semarang, Solo, dan Jakarta. Selain dijual offline, pasar busana lokal juga terdongkrak pemasaran online. ‘’Dengan online pasar lebih luas dari mana saja,’’ ujar dia.

(bj/yud/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia