Minggu, 17 Nov 2019
radarbojonegoro
icon-featured
Bojonegoro

Robohnya Rumah Kami

24 Agustus 2017, 07: 40: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

UNIK : Bangunan rumah joglo yang di dalamnya terdapat ukiran

UNIK : Bangunan rumah joglo yang di dalamnya terdapat ukiran (Dokumen Pribadi)

Share this      

Cerita ini sebenarnya sekitar dua tahun lalu. Sebuah rumah kayu yang sangat kokoh dipoles lagi. Rumah itu berbentuk joglo. Dibuat sekitar akhir abad 18. Dibeli dari salah satu warga di Balen. Konon, rumah tersebut adalah milik salah satu penggede di Pelem. Dimana Pelem? Pelem adalah sebutan wilayah Bojonegoro sebelum Rajekwesi. 

Rumah joglo itu sekarang sudah berpindah tangan. Dibeli oleh penggemar barang antik di luar negeri. Harganya kira-kira Rp 1 miliar lebih. 

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata saat itu ingin membelinya. Namun sayang, kabarnya tak ada dana untuk membelinya. 

Di Desa Jono, Kecamatan Temayang, justru kerap menjadi langganan artis dari Jakarta membeli rumah joglo. Rumah-rumah joglo khas Bojonegoro tersebut kini banyak berpindah tangan ke luar daerah. 

Bojonegoro adalah salah satu surga bagi pemburu rumah lawas. Salah satunya di Desa Wadang, Kecamatan Ngasem. Kini, hanya segelintir orang saja yang masih memiliki rumah joglo di Desa Wadang. Rumah joglo yang menjadi simbol kebudayaan kini hampir punah. 

UNIK : Bangunan rumah joglo yang di dalamnya terdapat ukiran

UNIK : Bangunan rumah joglo yang di dalamnya terdapat ukiran (Dokumen Pribadi)

Setelah ratusan tahun berlalu, rumah-rumah joglo khas Bojonegoro kian terkikis. Khususnya rumah-rumah joglo khas Bojonegoro di Desa Wadang, Kecamatan Ngasem. Kini, jumlahnya pun tinggal beberapa, menurut pengakuan warga sekitar desa tersebut. Salah satu pengusaha bahan-bahan untuk rumah joglo di Desa Wadangm Kecamatan Ngasem, Nurchozin, mengungkapkanm rumah joglo khas Bojonegoro sudah sangat langka sekali di desanya.

Padahal, konon dulunya di setiap gang di desa tersebut selalu ada rumah joglo khas Bojonegoro. Kata dia, di Desa Wadang, Kecamatan Ngasem, dulu banyak sekali rumah-rumah joglo, kini tinggal cerita. ’’Di desa saya ini mungkin tersisa kurang dari 10 rumah joglo khas Bojonegoro, karena memang rata-rata sudah dijual oleh pemilik atau ahli warisnya untuk membeli rumah atau tanah lagi,” jelasnya.

Dia pun mengatakan, konsumen rumah-rumah joglo di Desa Wadang berasal dari Bali dan Yogyakarta. Dia biasanya yang membantu para pembeli sebagai perantara. ’’Saya posisinya hanya sebagai perantara, karena memang semua tinggal kecocokan harga antara penjual dan pembeli,” katanya. Dia mengungkapkan, pasarannya rumah joglo Rp 200 jutaan. Para peminat rumah joglo memang cukup tinggi, karena memang rumah joglo khas Bojonegoro identik dengan kualitas kayu jatinya yang sangat unggul.

Apabila dibandingkan dengan rumah joglo di kawasan Jawa Tengah, rumah joglo khas Bojonegoro memang tidak terlalu menonjolkan ukir-ukiran cantik. Namun, ukuran kayu jati yang sangat besar. Kualitas kayu jati di Bojonegoro sangat unggul dan para pembeli pasti tertarik dengan rumah joglo yang sudah berumur ratusan tahun itu. ’’Pembeli itu suka sekali dengan kayu jati yang kadar airnya nol, jadi sangat kuat dan keras,” ungkapnya. Lanjut dia, rumah-rumah joglo khas Bojonegoro di Desa Wadang itu sudah dihuni oleh 3-4 keturunan. ’’Perkiraan usia rumah joglo di sini sekitar 300-an tahun,” ungkapnya.

Sebenarnya ada kekhawatiran dalam benak Nurchozin, sebab rumah joglo khas Bojonegoro di desanya semakin langka. Sehingga, kebudayaan asli Bojonegoro tersebut praktis akan punah begitu saja. Tetapi, di lain sisi, juga tidak bisa dipungkiri, para penghuni rumah joglo di masa kini belum tentu orang kaya. ’’Alasan dijual tentu karena desakan ekonomi untuk kebutuhan yang lebih penting lainnya, jadi terlalu ketinggian kalau bicara kebudayaan di kalangan masyarakat,” ujarnya. 

Bahkan, baru-baru ini, Kapolres Bojonegoro AKBP Wahyu Sri Bintoro, membeli satu rumah joglo di desa tersebut. ’’Rabu (9/8) lalu baru dibongkar, rumah joglo yang dibeli sekitar Rp 200 jutaan,” tuturnya.

Usaha yang digeluti oleh Nurchozin secara langsung ingin menghidupkan rumah-rumah joglo. Dia kerap mencari bahan dari desa-desa lain di Bojonegoro untuk dibangun menjadi rumah joglo. Dia menjual bahan dalam bentuk asli, belum mengarah untuk reproduksi. ’’Bahan-bahan ini biasanya saya jual hitungannya kubikasi, namun masih tergantung kualitas, ukuran, dan tebal kayu, jadi harga pastinya susah ditentukan,” katanya.

Sementara itu, menurut pandangan sastrawan sekaligus budayawan Jawa asal Bojonegoro, JFX Hoery, rumah joglo, khususnya di Bojonegoro, saat ini benar-benar tergerus oleh rumah-rumah bergaya modern. Sebab, era globalisasi kerap menganggap rumah joglo sudah terlalu kuno, sehingga rumah-rumah joglo tersebut terjual. ’’Perkembangan zaman memang tidak bisa dibendung, modernisasilah yang membuat rumah joglo khas Bojonegoro semakin langka,” ujarnya. Selain itu, perawatan rumah joglo juga tidak mudah. Sehingga, lanjut dia, banyak orang yang mengambil praktisnya saja. 

Dia mengatakan, rumah joglo yang benar-benar khas Bojonegoro memang menonjolkan sisi gagahnya bangunan dengan ukuran kayu yang sangat besar. Sebab, Bojonegoro memang terkenal kualitas kayu jatinya nomor wahid. ’’Kalau rumah joglo khas Bojonegoro pasti kayu jatinya berukuran besar dan kualitasnya unggul. Oleh karena itu, pemilik rumah joglo zaman dulu pasti golongan priyayi, semacam lambang status,” ungkapnya. Namun, karena zaman terus berubah dan nasib pun tidak sama, sehingga rumah-rumah joglo itu dijual oleh entah keturunan ke berapa.

(bj/gas/nas/bet/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia