Selasa, 12 Nov 2019
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Popularitas Sono Keling Kalahkan Jati

09 Agustus 2017, 08: 15: 04 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Kayu Sono Keling

Kayu Sono Keling (M. Nurkhozim/Radar Bojonegoro)

Share this      

BOJONEGORO – Kayu jati kini cukup meredup. Sebab, saat ini yang sedang populer adalah kayu sono keling. 

’’Yang lagi hits saat ini adalah kayu sono keling. Kayu jati sedang redup,’’ ungkap Kepala Tempat Penampungan Kayu (TPK) KPH Perhutani Bojonegoro Tarjan kemarin (8/8).

Kayu sono keling tidak ada di Bojonegoro. Kayu tersebut banyak terdapat di Jawa Tengah. Sebab, hutan di Bojonegoro mayoritas adalah jati. ’’Kalau sono itu banyak di Jawa Tengah,’’ jelasnya.

Sono keling memiliki warna hitam di bagian tengah kayu. Warna hitam itulah yang menjadi daya tarik pembeli. Sebab, memiliki kualitas yang bagus. ’’Itu kayu istimewa,’’ jelasnya.

Menurut dia, penjualan kayu jati tersebut meredup sekitar satu bulan terakhir. Pihaknya tidak mengetahui apa penyebabnya. Namun, sepinya penjualan kayu jati tersebut juga karena imbas permintaan produk di pasaran. ’’Mungkin penjualan produk seperti ukiran dan sejenisnya lagi sepi,’’ jelasnya.

Menurut pria asli Lamongan itu, menurunnya penjualan kayu jati tidak mempengaruhi harga. Namun, mengenai harga, dia tidak menyebutkan. Dia memastikan, harga kayu jati masih sama dengan harga sebelumnya. ’’Harganya tidak berubah. Lebih jauh itu ditangani oleh KBM,’’ jelasnya.

Sementara itu, Adm KPH Perhutani Bojonegoro Daniel Budi Cahyono mengatakan, wilayah KPH Perhutani di Bojonegoro rawan terjadi illegal logging. Hingga Juli lalu, Perhutani dan kepolisian sudah mengamankan 11 pembalak liar. Tiga di antara sebelas pembalak itu adalah pegawai Perhutani. ’’Ini sangat disayangkan. Namun, kami tetap bertindak tegas,’’ ungkap Daniel saat ditemui di kantornya kemarin.

Menurut Daniel, kesadaran masyarakat akan pentingnya hutan harus ditingkatkan. Sebab, hutan bukan hanya untuk kepentingan Perhutani. Namun, juga untuk kepentingan masyarakat dan generasi selanjutnya. Jika hutan tidak ada, maka sumber air juga akan habis. 

(bj/zim/nas/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia