Minggu, 22 Jul 2018
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Penipu Naker Divonis Dua Tahun

Kamis, 12 Jul 2018 08:41 | editor : Ebiet A. Mubarok

VONIS DUA TAHUN: Para pelaku penipuan naker proyek JTB dalam sidang pembacaan di Pengadilan Negeri kemarin.

VONIS DUA TAHUN: Para pelaku penipuan naker proyek JTB dalam sidang pembacaan di Pengadilan Negeri kemarin. (Bhagas Dani Purwoko/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO – Amar putusan kasus penipuan tenaga kerja PEPC Proyek Jambaran Tiung Biru (JTB) telah dibacakan oleh Hakim Ketua Betsji Siske Manoe di ruang sidang Kartika, Pengadilan Negeri (PN) Bojonegoro rabu (11/7). Namun, satu dari empat terdakwa dalam kasus tersebut belum menerima putusan berupa vonis pidana penjara selama dua tahun. Terdakwa yang bernama Endy Bayu Rianto Alias Irwan tersebut masih pikir-pikir dulu hingga tujuh hari ke depan.

Adapun tiga terdakwa lainnya yaitu Wahab Aziz, Purwadi, dan Sentot Widiarto telah menerima putusan hakim ketua dengan vonis pidana penjara selama dua tahun enam bulan. Ada keringanan atas vonis keempat terdakwa, karena tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) pidana penjara selama tiga tahun.

Menurut keterangan Humas PN Bojonegoro Isdaryanto, kasus pasal 378 KUHP yang menelan delapan korban itu tiap terdakwa memiliki peran masing-masing. Berdasarkan pertimbangan majelis, otak penipuannya dari tiga terdakwa yang sudah menerima putusan. “Sedangkan terdakwa Endy berperan sebagai pendamping korban dan memberi pembekalan berupa wawasan di tempat kos sebelum para korban yang niatnya akan kerja itu,” jelasnya.

Sebelumnya, saat pembacaan pledoi (pembelaan), terdakwa Endy merasa dijebak dan tidak termasuk dalam rangkaian penipuan tersebut. Namun, setelah majelis hakim bermusyawarah, apabila terdakwa Endy merasa dijebak, seharusnya masih punya banyak waktu untuk tidak meneruskan tindakan melanggar hukum tersebut. “Sehingga, vonis hukuman dua tahun tetap dijatuhkan kepada terdakwa Endy, fakta dan saksi juga yang menguatkan putusan tersebut,” tuturnya.

Kemudian terkait sikap terdakwa, Endy pikir-pikir dahulu terhadap vonis tersebut, sehingga majelis hakim akan memberi waktu kepada terdakwa selama tujuh hari apakah akan menerima putusan atau mengajukan banding. “Ya, kami tunggu bagaimana keputusan terdakwa selama tujuh hari ke depan, terhitung besok (hari ini Red),” jelasnya.

Sementara itu, pertimbangan majelis hakim terhadap putusan tersebut berdasarkan hal-hal yang memberatkan serta meringankan terdakwa. Hal-hal yang memberatkan terdakwa, tindakan terdakwa dapat menimbulkan keresahan masyarakat, selain itu, terdakwa Wahab Aziz dan Purwadi pernah ditahan.

“Sedangkan hal-hal yang meringankan di antaranya semua terdakwa merasa bersalah, menyesal, dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya lagi. Selain itu, terdakwa memiliki tanggungan keluarga dan selama persidangan semua terdakwa bertindak sopan dan kooperatif,” jelasnya.

Sebelumnya, kronologi penipuan tersebut berawal pada (20/11/2017) silam. Para korban diiming-imingi pekerjaan di PEPC Proyek JTB oleh empat terdakwa tersebut dengan membayar uang dengan jumlah yang berbeda-beda, mulai dari Rp 24 juta hingga Rp 30 juta dengan sistem pembayaran secara bertahap.

Janjinya terdakwa, korban bisa bekerja pada (25/12/2017), namun kenyataannya tidak ada kejelasan. Karena merasa adanya kejanggalan, korban pun berusaha mengecek pada perusahaan PEPC Bojonegoro. Ketika mengecek langsung, ternyata pihak PEPC menjelaskan bahwa tidak ada penerimaan karyawan.

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia