Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Rukyatul Hilal Wilayah Bojonegoro Digelar Besok di Wonocolo

Hakam Alghivari • Senin, 16 Februari 2026 | 07:30 WIB
PEMANTAUAN: Tim Rukyatul Hilal dari Kemenag Bojonegoro melakukan pemantauaan hilal di Bukit Teksas Wonocolo, Minggu sore (10/3). (YUAN EDO RAMADHANA/RADAR BOJONEGORO)
PEMANTAUAN: Tim Rukyatul Hilal dari Kemenag Bojonegoro melakukan pemantauaan hilal di Bukit Teksas Wonocolo, Minggu sore (10/3). (YUAN EDO RAMADHANA/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro akan menggelar rukyatul hilal di bukit Wonocolo, besok (17/2). Pemantauan ini untuk penetapan awal Ramadan 2026 oleh pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU). Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan jatuh pada Rabu (18/2).

Pelaksana Tugas (Plt) Kasi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro, Sun'an menyampaikan, pelaksanaan rukyatul hilal akan digelar besok (17/2) di Wonocolo.

Selain tim, dalam pelaksanaan rukyatul hilal ini juga turut mengundang Organisasi Masyarakat (Ormas), akademisi, dinas terkait, seperti Pengadilan Agama (PA) dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkab Bojonegoro. Juga, Bupati Bojonegoro.

"(Rukyatul hilal dilaksanakan) 17 Februari (2026) di Wonocolo. Sampai lokasi pukul 16.00 WIB," ujarnya. Berbeda dengan metode penetapan awal Ramadan pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah dengan resmi telah menetapkan awal Ramadan jatuh pada Rabu (18/2).

Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro Sholikin Jamik mengatakan, Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan 2026 pada 18 Februari 2026. Penetapan awal ramadan Muhammadiyah mungkin ada perbedaan dengan beberapa negara atau organisasi lain yang memulai puasa pada 19 Februari 2026.

Hal ini karena mereka mensyaratkan bulan harus bisa terlihat secara fisik di wilayah masing-masing (rukyat lokal). Namun, Muhammadiyah menekankan bahwa di era modern ini, Hisab adalah cara yang paling pasti dan objektif untuk memberi kepastian tanggal bagi umat jauh-jauh hari, sekaligus meminimalisir perbedaan hari raya yang sering membingungkan.

"2026 adalah tahun dengan kondisi astronomis yang unik, di mana kemungkinan perbedaan awal puasa sangat besar terjadi," jelasnya.

Sebelumnya, meski menunggu hasil rukyatul hilal yang akan dilaksanakan besok (17/2) di Bukit Wonocolo. Lembaga Falakiyah PCNU Bojonegoro memprediksi awal Ramadhan 1447 Hijriah bagi warga Nahdlatul Ulama akan dimulai pada 19 Februari 2026.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Lembaga Falakiyah PCNU Bojonegoro, Mochammad Charis. Berdasarkan perhitungan Lembaga Falakiyah PCNU Bojonegoro, ijtima’ (konjungsi) bulan terjadi pada 17 Februari 2026, setelah matahari terbenam.

“Ijtima’ terjadi setelah ghurubus syamsi. Pada saat matahari terbenam, posisi hilal sudah lebih dulu terbenam, sehingga belum bisa ditetapkan sebagai bulan baru,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, lanjutnya, bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari. Yakni, hingga 18 Februari 2026. “(Jika demikian) Awal Ramadhan dimulai tanggal 19 Februari 2026,” pungkasnya. (kam/bgs)

Baca Juga: Mengapa Penetapan 1 Ramadan oleh Pemerintah RI dan Muhammadiyah Bisa Berbeda? Begini Penjelasannya

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#KemenagKabBlitar #ramadan #hilal #nahdlatul ulama #rukyatul hilal #wonocolo #awal ramadan #Kemenag Bojonegoro #islam #bojonegoro #muhammadiyah #nu #pengadilan agama