RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kecamatan Cepu memiliki dinamika perkembangan wilayah yang menarik, dari wacana menjadi kota administratif hingga munculnya gagasan baru tentang "Kawasan Cepu Raya". Gagasan besar yang butuh kolaborasi dengan kabupaten-kabupaten tetangga.
Sejak zaman kolonial, Cepu telah menjadi simpul penting. Lokasinya yang strategis, di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta keberadaan ladang minyak dan gas alam, menjadikannya pusat ekonomi dan aktivitas yang ramai.
Keberadaan PPSDM Migas, serta rel kereta api tua, semakin menguatkan identitas Cepu sebagai kota industri dan pendidikan di sektor migas. Potensi ekonomi Cepu tak hanya terbatas pada sektor migas.
Perdagangan, jasa, dan bahkan pertanian di sekitarnya turut menopang denyut nadi kota ini. Kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi yang tinggi seringkali menimbulkan persepsi bahwa Cepu lebih layak disebut kota daripada sekadar kecamatan.
Pada era 1980-an hingga 1990-an, wacana pembentukan kota administratif cukup populer di Indonesia, sebagai langkah awal pemekaran wilayah yang dinilai memiliki potensi perkotaan kuat.
Cepu menjadi salah satu daerah yang santer diusulkan untuk menjadi kota administratif. Tepatnya pada era kepemimpinan H. Soekardji Hardjoprawiro, yang menjabat 1989-1999. Saat itu, pembangunan gendung calon kota administratif dipersiapkan di Jalan Ronggolawe, saat ini dekat hotel Mega Bintang dan SDN Balun.
Namun, seperti banyak wacana kota administratif lainnya, usulan Cepu ini tidak kunjung terealisasi. Setelah Pilkada 1999 yang melahirkan pasangan Basuki Widodo, dari Cepu dan Yudhi Sancoyo.
Dinamika politik mempengaruhi rencana tersebut, hingga memasuki tahun 2000 an rencana itu seperti hanyut disapu angin, namun masih terdengar sayup di telinga masyarakatnya. Meskipun status kota administratif tidak tercapai, gagasan untuk mengembangkan Cepu tidak surut.
Justru, melalui wacana dari mantan Mensesneg Pratikno yang saat ini menjabat Menteri PMK. Muncul konsep yang lebih besar yakni Cepu Raya. Konsep ini disambut oleh Bupati Blora saat ini, Arief Rohman dalam beberapa kali pertemuan dengan Pratikno, memproyeksikan Cepu menjadi kota vokasi, dengan menambah kuota pelajar yang menimba ilmu di PPSDM Cepu.
Dari sanalah efek domino ekonomi cepu raya bisa bergeliat. Sekiranya, pengusungan konsep cepu raya tidak hanya berfokus pada wilayah administratif Cepu saja, melainkan melibatkan kawasan di sekitarnya yang memiliki keterkaitan erat secara geografis, ekonomi, dan sosial, bahkan melintasi batas provinsi antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Tapi, ada sedikit pekerjaan rumah yang tampak rumit yang mesti diurai benang kusutnya, sebab dari sekian banyak dengungan tentang konsep cepu raya, yang paling antusias silaturahmi ke kabupaten tetangga untuk menggagas cepu raya ini hanya dari kabupaten Blora.
Upaya yang serius itu nampak saat kunjungan Bupati Blora Arief Rohman ke Bupati Ngawi hingga Bojonegoro beberapa waktu terakhir. Selain itu, apakah sinergisitas lintas kabupaten yang diupayakan itu akan mengakar di tatanan sosial masyarakat bawah, untuk mewujudkan itu butuh daya ikatan yang menafikan egosentrisme kewilayahan dan perekat sosial yang melembaga di hati para warganya baik Bojonegoro, Blora, dan Ngawi. (luk/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko