BLORA, Radar Bojonegoro – Tempat pengisian bahan bakar minyak (BBM) di kantor Pertamina EP Field Cepu Zona 11 terbakar, Kamis (3/10). Sehingga, dua unit mobil pemadam kebakaran (damkar) diturunkan untuk menjinakkan si jago merah tersebut.
Setelah api padam, tiga karyawan menjadi korban. Tubuhnya lunglai dan menderita luka-luka. Para petugas pun segera mengevakuasi ketiga korban tersebut menggunakan mobil ambulans dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Selanjutnya, kebakaran tersebut ternyata memberikan dampak terhadap lingkungan sekitar. Akibatnya, puluhan warga kampung menyatroni kantor Pertamina EP Field Cepu Zona 11 untuk demonstrasi. Para warga menuntut ganti rugi.
Tak lama suasana demonstrasi memanas dan ricuh. Petugas dari TNI, Polri, dan Satpol PP Kecamatan Cepu saling dorong dengan warga. Bahkan, petugas memasang barikade untuk mengadang warga yang ingin merangsek masuk kantor.
Namun, akhirnya setelah dua kali audiensi dan mediasi, sejumlah tuntutan warga untuk mendapatkan pertanggungjawaban dampak bencana kepada Pertamina itu dikabulkan. Kejadian kebakaran dan demonstrasi tersebut merupakan simulasi sekaligus mitigasi keadaan darurat yang digelar Pertamina EP Field Cepu Zona 11. ’’Penanganan kebakaran dan aksi demonstrasi ini adalah kesatuan (simulasi keadaan darurat). Biasanya dalam kejadian ini, ada efek atau dampak kerugian di masyarakat,” ujar Field Manager Pertamina EP Field Cepu Dody Tetra Atmadi.
’’Guna mengantisipasi keadaan darurat dan menguatkan koordinasi dengan stakeholder sekitar wilayah kerja Pertamina EP Field Cepu zona 11,” tambahnya. Pihaknya menjelaskan, simulasi tersebut melatih petugas dan masyarakat bila terjadi keadaan darurat.
Terutama di ring satu Pertamina. Supaya bisa mengambil langkah tepat, agar tidak menimbulkan dampak meluas.
Pihaknya menyadari selain simulasi kedaruratan, masih perlu sosialisasi dan edukasi lebih lanjut kepada masyarakat. Misalnya kalau terjadi kondisi kebocoran bagaimana langkah yang harus dilakukan masyarakat. ’’Laporkan ke siapa, karena namanya bahaya bencana tidak bisa diprediksi,” jelasnya. (luk/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana