Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

11 Rumah Terdampak Longsor di Sungai Tidu dan Bengawan Solo Bojonegoro

D
TERGERUS: Petugas saat memantau rumah warga yang terancam longsor karena tergerus arus sungai.
TERGERUS: Petugas saat memantau rumah warga yang terancam longsor karena tergerus arus sungai.

 


Advertisement

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Longsor di bantaran Sungai Tidu, Desa Dukohkidul, Kecamatan Ngasem, mulai ditangani. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro sekaligus memetakan kejadian longsor di tiga aliran sungai, yakni Sungai Tidu, Bengawan Solo, dan Sungai Gandong, dengan total 11 rumah tercatat terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro Heru Wicaksi menyampaikan, asesmen lapangan dilakukan pada Senin (26/1) untuk memastikan kondisi terkini di lokasi kejadian. “Personel BPBD sudah mendatangi lokasi guna melaksanakan asesmen,” terangnya.

Dari hasil pendataan, tebing Sungai Tidu yang mengalami amblas memiliki panjang sekitar 50 meter, lebar 8 meter, dan kedalaman mencapai 5 meter. Empat rumah warga terdampak langsung, masing-masing milik Yairin, Nurhayati, Budiono, dan Sumirah.

Advertisement

BPBD juga mencatat kebutuhan penanganan darurat di lokasi tersebut. “Menyarankan pemerintah desa untuk membuat surat tembusan ke BPBD, PU PSDA, dan BBWS terkait kebutuhan penanganan,” jelas Heru.

Adapun kebutuhan awal yang diusulkan meliputi 50 lembar sesek, 40 lembar bronjong, serta 200 lembar sandbag untuk pengamanan sementara tebing sungai.

Selain di Dukohkidul, BPBD Bojonegoro juga melakukan asesmen longsor di bantaran Sungai Bengawan Solo, tepatnya di Dukuh Karangwaru RT 12 RW 03, Desa Sarirejo, Kecamatan Balen. Di lokasi tersebut, tujuh rumah warga tercatat terdampak akibat longsoran tebing sungai.

Advertisement

Sementara itu, kejadian tanah amblas juga ditemukan di Sungai Gandong, Desa Ngrejeng, Kecamatan Purwosari. Longsor menyebabkan tembok penahan tanah (TPT) sepanjang sekitar 50 meter mengalami kerusakan. Meski demikian, akses jalan di sekitar lokasi masih dapat dilalui kendaraan roda dua.

BPBD Bojonegoro memastikan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan instansi, terutama di wilayah bantaran sungai yang rawan terdampak longsor susulan. (dan/msu)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Terungkap Alasan Kenapa Bojonegoro Mendadak Jadi Kota Mati Usai Proyek Raksasa Solo Valley Mangkrak

Terungkap Alasan Kenapa Bojonegoro Mendadak Jadi Kota Mati Usai Proyek Raksasa Solo Valley Mangkrak

Penasaran kenapa banyak bangunan mangkrak di Bojonegoro era kolonial? Intip arsip majalah Belanda tahun 1925 yang membongkar sejarah gagalnya proyek irigasi raksasa Solo Valley.

Jipang Wilayah Strategis Jaringan Politik, Ekonomi, dan Pemerintahan

Jipang Wilayah Strategis Jaringan Politik, Ekonomi, dan Pemerintahan

WILAYAH Jipang merupakan kawasan yang dapat dikategorikan sebagai daerah sub-pantai. Tepatnya wilayah penghubung antara pedalaman dan pesisir. Sehingga memiliki berperan strategis dalam jaringan politik, ekonomi, dan pemerintahan.

Menelusuri Jejak Sejarah Masjid Tua dan Makam Ulama di Bojonegoro

Menelusuri Jejak Sejarah Masjid Tua dan Makam Ulama di Bojonegoro

Di sepanjang kawasan yang terhubung dengan sungai ini, terdapat masjid bersejarah dan makam tokoh agama yang menyimpan cerita tentang dakwah, perjalanan ulama, serta tumbuhnya pusat-pusat kehidupan keagamaan masyarakat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer