alexametrics
24.4 C
Bojonegoro
Thursday, June 30, 2022

Siti Rohwa

Anak Desa Harus Semangat Kuliah

KETERBATASAN sarana pendidikan dan menjadi anak buruh tani tidak menjadikan Siti Rohwati putus asa menempuh pendidikan. Mahasiswi asal Desa Kepoh, Kecamatan Jati, Blora, ini akhirnya menjadi wisudawan terbaik di IAIN Kudus.

Memperoleh IPK 3,83 dengan predikat cum laude. Semangat itu ia tularakan kepada anak-anak desa. “Bapak bekerja sebagai buruh tani, menggarap sawah orang lain. Saya masih ingat saat SD kalau hujan selalu digendong bapak, karena susah tidak bisa membeli sepatu,” ujar Siti dengan raut muka menahan tangis.

Mahasiswi mengambil program studi Pengembangan Islam tersebut menceritakan perjuangan orang tuanya ketika menjual satu satunya sapi. Kejadiannya setelah lulus SD, Siti ingin belajar di pondok pesantren, dengan dana penjualan sapi. “Beberepa bulan setelah masuk, alhamdulilllah mendapatkan beasiswa,” paparnya.

Baca Juga :  Tugas Berat Berantas Nyamuk

Setelah lulus SMA, Siti berusaha meyakinkan orang tuanya agar merestui kuliah meski terkendala dana. “Saat itu diantar bapak naik motor muter kampus, sedangkan ibu di rumah berjualan nasi jagung keliling desa,” ungkapnya

Praktis dua semester, Siti dibiayai orang tua dengan berbagai macam usaha. Selain buruh tani, bapaknya menjadi buruh mengurus sapi tetangga, karena sapi satu-satunya sudah dijual. “Akhirnya semester tiga saya dapat beasiswa, saya yakin itu karena doa orang tua,” jelasnya.

Setelah diundang Bupati Blora Arief Rohman ke pendapa kamis (19/5), ia bahagia dijanjikan mendapatkan beasiswa. “Saya ingin mengabdikan diri di desa setelah lulus S2 nanti,” ucapnya. (luk/rij)

KETERBATASAN sarana pendidikan dan menjadi anak buruh tani tidak menjadikan Siti Rohwati putus asa menempuh pendidikan. Mahasiswi asal Desa Kepoh, Kecamatan Jati, Blora, ini akhirnya menjadi wisudawan terbaik di IAIN Kudus.

Memperoleh IPK 3,83 dengan predikat cum laude. Semangat itu ia tularakan kepada anak-anak desa. “Bapak bekerja sebagai buruh tani, menggarap sawah orang lain. Saya masih ingat saat SD kalau hujan selalu digendong bapak, karena susah tidak bisa membeli sepatu,” ujar Siti dengan raut muka menahan tangis.

Mahasiswi mengambil program studi Pengembangan Islam tersebut menceritakan perjuangan orang tuanya ketika menjual satu satunya sapi. Kejadiannya setelah lulus SD, Siti ingin belajar di pondok pesantren, dengan dana penjualan sapi. “Beberepa bulan setelah masuk, alhamdulilllah mendapatkan beasiswa,” paparnya.

Baca Juga :  Ramah Berbagi Pengalaman

Setelah lulus SMA, Siti berusaha meyakinkan orang tuanya agar merestui kuliah meski terkendala dana. “Saat itu diantar bapak naik motor muter kampus, sedangkan ibu di rumah berjualan nasi jagung keliling desa,” ungkapnya

Praktis dua semester, Siti dibiayai orang tua dengan berbagai macam usaha. Selain buruh tani, bapaknya menjadi buruh mengurus sapi tetangga, karena sapi satu-satunya sudah dijual. “Akhirnya semester tiga saya dapat beasiswa, saya yakin itu karena doa orang tua,” jelasnya.

Setelah diundang Bupati Blora Arief Rohman ke pendapa kamis (19/5), ia bahagia dijanjikan mendapatkan beasiswa. “Saya ingin mengabdikan diri di desa setelah lulus S2 nanti,” ucapnya. (luk/rij)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/