Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mom, Waspadai Ledakan Tumbuh Kembang Si Kecil: Tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasi Growth Spurt

Hakam Alghivari • Jumat, 23 Mei 2025 | 14:00 WIB
Ilustrasi si Kecil yang menjadi lebih sensitif dan mudah marah, karena sedang mengalami fase growth spurt
Ilustrasi si Kecil yang menjadi lebih sensitif dan mudah marah, karena sedang mengalami fase growth spurt

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dalam tahun pertama kehidupan si Kecil, perubahan fisik dan perilaku terjadi sangat cepat. Banyak orang tua terkejut ketika bayi yang biasanya tenang dan teratur tiba-tiba menjadi lebih sering menyusu, rewel, atau sulit tidur. Salah satu penyebab umum dari perubahan ini adalah growth spurt, yaitu fase lonjakan pertumbuhan yang wajar namun intens.

Fase ini bisa menjadi momen penuh tantangan karena melibatkan perubahan besar dalam tubuh dan emosi bayi. Namun dengan pemahaman yang tepat, mom dapat menghadapi situasi ini dengan lebih tenang dan penuh kesiapan. Growth spurt bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari proses alami menuju tumbuh kembang yang sehat.

Dikutip dari laman ibudanbalita.com, artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai apa itu growth spurt, tanda-tandanya pada bayi, faktor penyebab yang memicu terjadinya, hingga berbagai cara efektif yang bisa dilakukan mom untuk mengatasi dan mendampingi si Kecil selama melewati fase penting ini.

Tanda-Tanda Bayi Mengalami Growth Spurt

Fase growth spurt umumnya ditandai dengan perubahan perilaku dan fisik bayi yang cukup mencolok. Mengenali tanda-tanda ini akan membantu mom dalam memahami kebutuhan si Kecil selama fase pertumbuhan pesat berlangsung.

1. Nafsu Makan Bertambah

Saat pertumbuhan bayi sedang melonjak, kebutuhan energinya juga meningkat. Akibatnya, si Kecil akan tampak jauh lebih sering menyusu dan tidak puas dengan waktu menyusu yang biasa.

Menurut penelitian dari American Academy of Pediatrics, bayi yang mengalami growth spurt bisa meningkatkan frekuensi menyusu hingga 50% lebih sering dibanding hari-hari biasanya. Hal ini terjadi karena tubuhnya memerlukan energi ekstra untuk mendukung pembentukan jaringan baru dan pembesaran organ-organ vital.

2. Tidur Menjadi Tidak Teratur

Bayi mungkin tidur lebih lama, namun bisa juga lebih sering terbangun di malam hari. Ini karena hormon pertumbuhan dilepaskan saat bayi tidur nyenyak, dan tubuhnya secara otomatis menyesuaikan dengan kebutuhan tersebut.

Sebuah studi dari University of Washington menunjukkan bahwa bayi mengalami peningkatan tinggi badan yang signifikan dalam 48 jam setelah peningkatan durasi tidur—membuktikan bahwa tidur memiliki hubungan langsung dengan percepatan pertumbuhan tubuh.

3. Lebih Rewel dari Biasanya

Selama growth spurt, bayi bisa menjadi lebih sensitif dan mudah marah. Rasa lapar yang terus-menerus, ketidaknyamanan fisik akibat peregangan otot, serta perubahan pola tidur bisa membuat si Kecil lebih rewel dari biasanya.

Ahli perkembangan anak dari Stanford University menyebutkan bahwa perubahan suasana hati ini bukan hanya disebabkan oleh rasa lelah, tetapi juga oleh sinyal neurologis yang sedang aktif memperkuat koneksi otak selama fase pertumbuhan pesat.

4. Rewel Saat Menyusu

Bayi bisa jadi tampak bingung atau gelisah saat menyusu karena keinginan untuk menyusu lebih banyak belum terjawab oleh tubuh mom yang sedang menyesuaikan produksi ASI.

Selain itu, berdasarkan temuan dari Journal of Human Lactation, bayi yang mengalami gangguan tidur saat growth spurt akan memiliki waktu menyusu yang lebih pendek namun lebih sering, sebagai cara alami tubuhnya dalam mengompensasi kebutuhan energi dan kenyamanan emosional.

5. Berat Badan dan Tinggi Badan Meningkat Cepat

Pertumbuhan fisik merupakan indikator paling jelas dari growth spurt. Dalam beberapa hari setelah fase ini, mom akan melihat peningkatan signifikan pada berat badan, tinggi badan, hingga ukuran kepala si Kecil.

Studi dari Harvard Medical School bahkan mencatat bahwa dalam fase growth spurt, bayi bisa tumbuh lebih dari 1 cm hanya dalam satu malam—suatu fenomena biologis yang menggambarkan kecepatan luar biasa dari proses tumbuh kembang awal kehidupan.

Penyebab Growth Spurt pada Bayi

Fase ini tidak terjadi tanpa alasan. Ada beberapa faktor biologis dan lingkungan yang memicu lonjakan pertumbuhan secara mendadak.

1. Hormon Pertumbuhan yang Aktif

Hormon pertumbuhan bekerja maksimal saat tubuh bayi siap memperbesar ukuran fisik. Selama masa-masa tertentu, tubuh mengatur pelepasan hormon ini dalam jumlah besar, menyebabkan percepatan pertumbuhan yang terlihat nyata dalam waktu singkat. Menurut penelitian di Journal of Endocrinology, puncak aktivitas hormon pertumbuhan bayi biasanya terjadi saat malam hari, terutama ketika bayi tidur nyenyak.

2. Genetik dari Orang Tua

Kecenderungan bayi mengalami growth spurt juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Bila mom dan ayah memiliki pola pertumbuhan yang cepat saat masih kecil, besar kemungkinan si Kecil juga akan mengalami hal serupa pada periode usia yang hampir sama.

Ahli genetika dari University of Cambridge menjelaskan bahwa lebih dari 60% variasi dalam tinggi dan pertumbuhan anak ditentukan oleh genetik, sementara sisanya dipengaruhi oleh lingkungan dan pola makan.

3. Asupan Nutrisi Berkualitas

ASI menjadi komponen vital dalam mendukung pertumbuhan bayi. ASI mengandung berbagai nutrisi penting seperti protein, lemak, dan hormon bioaktif yang mendukung pembelahan sel serta pertumbuhan jaringan tubuh.

Penelitian dari World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama memiliki perkembangan fisik dan kognitif yang lebih optimal dibanding yang tidak.

Cara Mengatasi Growth Spurt dengan Bijak

Meski bisa melelahkan, growth spurt adalah fase penting yang harus dijalani dengan kesiapan fisik dan emosional. Berikut beberapa tips yang bisa mom terapkan untuk membantu si Kecil melewati masa ini dengan lebih nyaman.

1. Menyusui Sesuai Permintaan

Selama growth spurt, jangan terpaku pada jadwal menyusui. Bayi membutuhkan ASI lebih sering dari biasanya. Menyusui sesuai permintaan tidak hanya mencukupi kebutuhan bayi, tetapi juga membantu meningkatkan produksi ASI secara alami. Sebuah riset dari La Leche League menunjukkan bahwa frekuensi menyusui yang meningkat selama growth spurt mempercepat penyesuaian produksi ASI dalam 24 hingga 48 jam.

2. Pertahankan ASI Eksklusif

Mom disarankan untuk tetap memberikan ASI eksklusif hingga usia bayi 6 bulan. Memberikan susu tambahan bisa membuat bayi kenyang lebih lama, tapi tidak selalu memberikan manfaat yang sama dengan ASI, terutama dalam mendukung sistem imun dan perkembangan otak. Fakta dari WHO menyebutkan bahwa bayi yang diberi ASI eksklusif memiliki risiko infeksi yang jauh lebih rendah dalam tahun pertama kehidupannya.

3. Curi Waktu Tidur Bersama Bayi

Tidur yang cukup penting agar mom tetap sehat dan kuat selama masa menyusui. Usahakan untuk beristirahat setiap kali bayi tertidur, terutama saat malam hari terasa lebih melelahkan. Selain menjaga energi, studi dari American Psychological Association menunjukkan bahwa kualitas tidur ibu menyusui berdampak langsung terhadap suasana hati dan kestabilan produksi ASI.

4. Hindari Makanan Penghasil Gas

Selama menyusui, sebaiknya mom menghindari makanan seperti kol, jengkol, atau durian, yang dapat menghasilkan gas. Gas ini bisa terbawa ke dalam ASI dan membuat bayi merasa tidak nyaman, sehingga membuatnya lebih sering menangis. Fakta dari Breastfeeding Medicine Journal menunjukkan bahwa beberapa komponen dalam makanan ibu memang bisa memengaruhi kenyamanan sistem pencernaan bayi melalui ASI.

5. Libatkan Peran Ayah

Mom tidak perlu menghadapi semuanya sendiri. Mintalah bantuan ayah untuk menimang, menenangkan, atau memberikan ASI perah. Interaksi dengan ayah juga berkontribusi positif dalam perkembangan emosional bayi. Penelitian dari National Institutes of Health (NIH) membuktikan bahwa bayi yang sering berinteraksi dengan ayah memiliki perkembangan sosial dan kognitif yang lebih cepat.

6. Kelola Emosi dan Hindari Stres

Stres bisa mengganggu produksi ASI dan kondisi psikologis mom. Usahakan untuk tetap berpikir positif dan sadar bahwa growth spurt adalah pertanda baik—si Kecil sedang berkembang. Dapatkan dukungan dari orang terdekat agar fase ini terasa lebih ringan. Studi dari Yale University menemukan bahwa dukungan emosional dari pasangan atau keluarga dapat meningkatkan hormon prolaktin yang memicu produksi ASI. (nnd/mgg)

Editor : Hakam Alghivari
#pertumbuhan anak #anak #orang tua #pertumbuhan #parenting