Minggu, 23 Jan 2022
Radar Bojonegoro
Home / Pembaca
icon featured
Pembaca

Keajaiban Kecil Abadi

Oleh: Muhammad Abadi

29 November 2021, 07: 25: 59 WIB | editor : Mohammad Yusuf Purwanto

Keajaiban Kecil Abadi

Ilustrasi (SRI AGUSTINI/RDR.BJN)

Share this      

DALAM perjalanan hidupku di masa lalu aku pernah mengalami keajaiban kecil yang aku sendiri tidak tahu mengapa keajaiban kecil itu berpihak kepadaku. Keajaiban kecil itu terjadi beberapa kali dalam hidupku. Memang ketika masih remaja gelora hidupku meluap-luap yang baru aku sadari sendiri di hari ini. Ketika masih kuliah di Universitas Negeri Jember dan ketika baru pindah ke kota Banyuwangi keajaiban kecilku itu menghampiri hidupku. Sangat indah untuk dikenang dan diingat kembali kejadian keajaiban di masa lalu itu. Semuanya ini aku sadari memang berasal dari kebesaran, keagungan dan kekuasaan dari Allah SWT semata. Allah SWT selalu melindungi hidupku selama ini. Aku sangat bersyukur kepada Allah SWT karena masih melindungi hidupku hingga saat ini.
Aku dibelikan vespa oleh ayahku keluaran tahun 1980. Ayahku pun punya vespa keluaran tahun 1986. Ketika masih di Jember aku pernah naik vespa berboncengan dengan teman-temanku sebanyak tiga orang. Ketika malam hari aku pergi ke toko buku Gramedia dan bertemu dengan teman-temanku dan ketika mau pulang aku mengajak teman-temanku itu naik vespa. Alhamdulillah, tidak ada polisi yang mencegatku saat itu. Perjalanan pulang ke rumahku berjalan mulus tanpa hambatan berarti. Aku mengantarkan tiga orang teman-temanku itu ke tempat sekretariat komisariat HMI ( Himpunan Mahasiswa Islam ) Sastra Universitas Negeri Jember tempat mereka tinggal.
Pernah juga ada keajaiban kecilku di Jember saat itu aku hendak menghampiri temanku yang waktu itu meminjam vespaku yang belum dikembalikan. Dengan naik vespa milik ayahku aku menyulut sebatang rokok menuju tempat temanku itu. Di perjalanan di pertigaan jalan aku melihat ada seseorang naik sepeda motor berhenti di tengah jalan. Tiba-tiba vespaku yang aku naiki ini menabrak sepeda motor itu. Aku jatuh terpelanting di aspal. Tapi, anehnya waktu itu aku masih memegang rokok yang aku sulut tadi tidak ikut jatuh ke tanah. Akhirnya aku pulang dengan berjalan kaki memberitahukan kepada teman-temanku yang saat itu sedang ada di rumahku.
Pernah aku di akhir tahun 2000 mengikuti acara diklat pers mahasiswa tingkat nasional di kota Solo. Saat itu aku berada di Universitas Muhammadiyah Solo ( UMS ). Ketika di sela-sela waktu acara salah seorang temanku yang membawa sepeda motor GL Pro dari Jember aku naiki bersama dua orang peserta laki-laki. Ketika itu tidak ada kunci atau kontak sepeda motor kemudian aku pakai sekeping koin uang untuk menghidupkan sepeda motor itu. Dan akhirnya aku bisa menghidupkannya dengan sekeping koin yang aku putar kontaknya di sepeda motor itu. Aku mengajak dua anak laki-laki untuk berboncengan keliling kota Solo. Saat itu waktu menjelang sore hari. Aku berjalan-jalan tanpa kontak dan helm menuju kampus UNS ( Universitas Negeri Surakarta ).
Saat ingin pulang ke UMS aku bersama dua anak itu sempat kesasar menuju Sragen dan akhirnya putar haluan menuju kota. Alhamdulillah, ketika malam tiba aku sampai juga di UMS dan di perjalanan aku tidak menemui polisi untuk mencegat saat itu. Ketika hendak pulang sepeda motor yang aku naiki itu disalip atau didahului seseorang laki-laki berboncengan dengan dua orang wanita tanpa mengenakan helm saat itu. Aku terkejut dibuatnya dan sungguh keajaiban kecilku menghampiri diriku. Sesampai di UMS temanku yang memiliki GL Pro itu tidak memarahiku saat itu.
Pernah ketika aku baru pindah ke kota Banyuwangi waktu itu aku ingin melamar kerja di kantor Radar Banyuwangi menaiki vespa tanpa membawa SIM dan STNK. Ketika itu di perjalanan hampir mendekati kantor Radar Banyuwangi ternyata di perbatasan jalan selamat datang ada cegatan polisi. Aku pun diberhentikan oleh salah seorang polisi untuk meannyai diriku perihal surat-surat jalan SIM dan STNK. Aku berkata kepadanya kalau aku tidak membawa surat-surat SIM dan STNK karena ada di rumah. Saat itu polisi itu meminta kepadaku untuk mengambil SIM dan STNK di rumahku. Polisi itu meminta aku pulang menaiki angkutan umum dan aku berkata kepadanya jika aku tidak membawa uang sepersen pun. Saat itu polisi itu berkata kalau aku tidak usah membayar ongkos pulang naik angkutan umum karena dia yang akan meminta sopir angkutan umum untuk mengantarkanku pulang ke rumah.
Seketika itu juga datang angkutan umum dan aku pun menaiki angkutan umum tersebut dan polisi itu berkata kepada sang sopir untuk mengantarkanku pulang ke rumah mengambil SIM dan STNK. Sesampai di rumah aku berkata kepada ayahku jika ada cegatan polisi dan aku diminta untuk mengambil SIM dan STNK. Dan seketika itu juga ayahku bersamaku naik vespa menuju ke tempat cegatan itu. Setelah sampai aku memperlihatkan SIM dan STNK itu kepada pak polisi yang sedang bertugas itu. Dan saat itu juga SIM dan STNK itu dikembalikan kepadaku. Aku ditanyai oleh pak polisi itu jika aku ingin melamar pekerjaan di kantor Radar Banyuwangi dan pak polisi itu berkata mau melamar ke kantor Radar Banyuwangi mengapa kok tidak membawa SIM dan STNK. Akhirnya setelah berkas lamaranku aku serahkan di kantor itu aku pulang dengan perasaan lega.
Pernah pula ada kejadian menarik dan tidak boleh ditiru tapi sebagai pelajaran berharga dalam hidupku selamanya. Saat malam tahun baru di kota Banyuwangi ketika sudah berlangsung malam tahun baru aku hendak pulang ke rumah menaiki vespa bersama sepupuku. Saat itu aku tidak langsung pulang tapi masih ingin berputar arah di lampu merah di dekat terminal bus. Saat itu ada pak polisi berjumlah banyak menutup jalan yang ingin aku lewati berputar arah. Saat itu aku ingin menerabas kumpulan pak polisi itu yang menutup jalan. Aku bertanya kepaada salah seorang di antara mereka mengapa jalan ditutup dan bapak itu berkata kalau tidak boleh masuk melewati jalan karena ditutup. Akhirnya vespaku aku mundurkan beberapa langkah dan akhirnya vespaku pun menerabas jalan itu dan kumpulan pak polisi itu menahan laju vespaku dan akhirnya aku pun memutar vespaku dan berlari ke arah terminal bus. Aku selamat dan vespaku masuk gang kecil menuju jalan besar yang ditutup oleh kumpulan pak polisi itu.


Muhammad Abadi,
Cerpenis dan penulis buku. Menetap di Jalan Agus Salim, Kauman, Bojonegoro.

Baca juga: Melihat ke Depan

(bj/*/min/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia