Rabu, 08 Dec 2021
Radar Bojonegoro
Home / Pembaca
icon featured
Pembaca

Melihat ke Depan

DEWA PUTRA

22 November 2021, 08: 45: 59 WIB | editor : Mohammad Yusuf Purwanto

Melihat ke Depan

Ilustrasi (SRI AGUSTINI/RDR.BJN)

Share this      

KEN adalah anak yang tidak mempunyai banyak teman. Ketika jam istirahat, ia selalu pergi ke perpustakaan. Ia suka membaca cerita-cerita percintaan, dan bermimpi bahwa akan ada orang yang ditakdirkan untuknya.
Pada suatu hari ada anak baru yang masuk ke sekolahnya. Anak itu bernama Rin. Anak tersebut mempunyai gangguan stamina yang membuat ia tidak dapat berolahraga keras. Karena itu, Rin juga selalu pergi ke perpustakaan pada saat jam istirahat. Dari situlah mereka berkenalan dan berteman baik. Mereka pun sering pulang bareng karena rumahnya searah. Dan semakin dekat muncul benih- benih cinta di antara mereka.
Empat tahun kemudian saat mereka pulang bersama, mereka membahas tentang rencana SMP. Ken ingin Rin masuk di SMP yang sama dengannya di dekat rumahnya. Rin pun ingin begitu namun keluarganya akan pindah ke Jakarta. Dan ia mungkin melanjutkan pendidikan di sana. Ken pun sedih karena jarak Jakarta dan Surabaya sangat jauh.
Saat perpisahan, Rin berjanji pada Ken untuk mengirimkan surat setibanya di Jakarta. Ken pun setuju untuk berkomunikasi lewat surat. Ken juga berjanji untuk mengunjunginya saat ia sudah besar. Saat Rin berangkat, Ken berlari mengejar mobil Rin sambil mengayunkan tangannya. Dan perlahan mobil Rin pun menghilang dari pandangan Ken.
Masa SMP, Ken sama sekali tidak bertemu dengan Rin. Namun mereka masih berkomunikasi lewat surat tiga bulan sekali. Di dalam surat mereka selalu membicarakan tentang hal-hal yang terjadi di tempat mereka, hal sedih maupun senang selalu mereka tulis di dalam surat.
Namun, saat menjelang SMA, Ken menerima kabar bahwa orang tuanya dipindah tugaskan ke Lombok. Ia pun segera menulis surat ke Rin bahwa ia akan pindah ke tempat yang lebih jauh lagi. Ia pun berinisiatif untuk pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Rin, sebelum lebih susah untuk menemuinya.
Ia pun menuliskan bahwa ia akan datang ke terminal Jakarta pada tanggal 1 Juni, persisnya jam 7 malam. Pada tanggal 1 Juni, Ken cepat-cepat bangun pagi dan segera ke terminal. Ia membeli tiket untuk bus Surabaya-Jakarta yang berangkat pada jam 10 pagi. Namun karena sopir busnya telat bus itu akhirnya berangkat pada jam 10.30. Di jalan terjadi kecelakaan sehingga jalanan menjadi macet.
Ken pun sangat cemas. Pada jam 5 bus yang dinaiki Ken masih baru setengah jalan. Ken pun menyadari bahwa ia akan telat. Lalu pada jam 8 Ken pun berpikir bahwa Rin sudah tidak menunggunya lagi.
Akhirnya Ken tiba di terminal Jakarta pada jam 11 malam. Suasana terminal pada saat itu sangat sepi dan suram. Ken memutuskan bermalam di terminal. Namun saat ia masuk ke bangunan terminal, betapa terkejutnya dia, ternyata Rin masih menunggunya. Rin membawakan makanan untuknya. Ken pun menangis terharu dan berlari secepat kilat ke arah Rin dan memeluknya.
Setelah menghabiskan makannya mereka pun pergi ke sebuah bangunan tua di tengah lembah yang hijau. Mereka menghabiskan malam tersebut dengan menatap langit dihiasi banyak bintang. Ken bercerita tentang posisi bintang yang tidak berubah. Ken ingin hubungan mereka juga tidak berubah seperti bintang-bintang tersebut. Mereka juga berjanji untuk tetap mengingat satu sama lain dan akan bertemu saat besar.
Malam pun berlalu dengan cepat. Mereka terbangun saat sang surya menyinari wajah mereka. Di depan terminal, Rin memberi kecupan di pipi, dan mengatakan” aku tidak akan melupakanmu”. Ken mengangguk dan berpikir bahwa ia pasti akan bertemu dengan Rin saat besar. Mereka pun akhirnya berpisah dengan tangisan.
Saat SMA, Ken tidak pernah berpacaran dengan siapa pun meski banyak perempuan menaksirnya. Ia juga selalu mengetikan pesan di handphone namun tidak pernah ia kirimkan, karena ia tidak tahu nomor Rin. Ken belajar dengan giat hingga ia mendapat beasiswa di universitas ternama.
Delapan tahun kemudian Ken berhasil bekerja sebagai iluslator di sebuah perusahaan di Jakarta. Ia juga sudah berpacaran dengan banyak orang, tetapi selalu kandas karena Ken tidak pernah serius dengan suatu hubungan. Sedangkan, Rin sudah bertunangan dengan orang yang menerimanya meski Rin masih memikirkan Ken.
Suatu sore, yang tenang Ken berjalan melewati terminal, ia selalu mengenang janjinya dengan Rin. Dan saat itu Rin juga berada di dekat terminal. Mereka pun berpapasan di zebra cross namun mereka tidak menyadarinya. Tetapi setelah menyeberang mereka berdua menyadari sesuatu dan mencoba berpaling. Namun malang sebuah bus berhenti tepat di depan mereka, dan menghalangi pandangan mereka. Ken menunggu hingga bus itu pergi, sayangnya Rin langsung pergi dari tempat itu sehingga Ken tidak dapat menemukan Rin.
20 tahun berlalu, Ken telah berumur 44 tahun, dan telah menjadi ilustraator ternama. Memiliki banyak penggemar. Namun ia belum memiliki pasangan hidup karena ia masih belum melupakan Rin. Suatu hari ada penggemarnya yang ingin tanda tangannya.
Saat melihat muka penggemarnya ia melihat wajah yang mirip dengan wajah Rin saat terakhir bertemu dengannya. Ken pun menanyakan nama anak itu. Dan anak itu ternyata memiliki nama belakang yang sama dengan Rin. Ken terkejut, lalu ia meneteskan air mata. Ia akhirnya menyadari bahwa ia bukan merupakan tokoh utama dalam sebuah cerita percintaan. Ia pun menerima kenyataan yang pahit tersebut dan memulai hidup baru dengan merelakan semua hal yang terjadi di masa lalu.

Dewa Putra Pratama Indra,
Lahir di Kochi, Jepang 18 Januari 2005. Saat ini sedang menempuh pendidikan di SMA Santo Carolus Surabaya.

Baca juga: Pentingnya Peran Masyarakat Dalam Pemulihan Ekonomi Dimasa Pandemi

(bj/*/rij/min/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia