Minggu, 23 Jan 2022
Radar Bojonegoro
Home / Pembaca
icon featured
Pembaca

Mulutmu Harimaumu

Oleh: Mundzar Fahman*

10 Januari 2022, 07: 10: 59 WIB | editor : Mohammad Yusuf Purwanto

Mulutmu Harimaumu

Ilustrasi (Istimewa)

Share this      

LISANMU harimaumu. Ungkapan itu sudah lama dikenal masyarakat luas. Tetapi, hingga kini masih relevan. Banyak peristiwa terjadi membuktikan bahwa ungkapan itu benar adanya.

Lisanmu hariamaumu. Dari lisan baik, seseorang dapat sanjungan dari orang lain. Sebaliknya, dari lisan kotor, seseorang dapat hujatan dari orang lain. Dari lisan baik, seseorang menyanjung tinggi junjungannya. 

Tetapi, dari lisan tidak terkontrol, seseorang dapat menistakan dan melecehkan orang atau pihak lain. Lisanmu dapat menjadi harimau melindungi dirimu. Sebaliknya, lisanmu juga dapat menjadi harimau yang memangsa (menghancurkan) dirimu sendiri.

Baca juga: INTOLERANSI GURU, BOOM WAKTU DISINTEGRASI BANGSA

Saat ini sudah banyak tokoh masyarakat dan tokoh agama di-bully warga gegara ungkapan lisannya kontroversial. Bahkan, beberapa di antara mereka sedang diperiksa pak polisi. Sebagian lainnya dipenjara atau diisolasi di tahanan.

Jika yang bikin pernyataan kontroversial, atau salah, itu orang awam, mungkin bisa dimaklumi. Mungkin itu karena ketidaktahuan mereka sebagai wong cilik. Selain itu, dampak omongan kawula alit tentu tidak seluas dampak dari ucapan kaum elite di sebuah negeri.

Celakanya, yang terjadi di negeri ini, yang kontroversial adalah ucapan golongan elite. Ada oknum pejabat, ada tokoh agama, dan ada tokoh masyarakat. Karena yang ngomong orang-orang besar, omongan-omongan tersebut menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Masing-masing punya pengikut. Dan, mereka ini menjadi saling bersitegang. Jare wong Jowo, abang-abangan mata. Jika ini dibiarkan, bisa-bisa meningkat menjadi konflik serius antarkelompok, antarpemeluk agama di negeri ini. Ngeri deh...

Para elite seharusnya sudah faham betul bahwa hal-hal yang berbau SARA (suku, agama, dan ras) janganlah dilontarkan secara sembarangan. Itu wilayah sensitif. Pemeluk agama cepat merasa terusik jika ajaran agamanya dilecehkan. Pemeluk agama ibadahnya bolong-bolong pun, akan marah jika agamanya dihinakan pemeluk agama lain. 

Tidak beda sensitivitasnya antara sebutan sumbu pendek ataupun sumbu panjang. Hanya beda cara penyikapan dan waktunya. Sumbu pendek bisa cepat meledak. Sumbu panjang lama-lama ya meledak juga. Cuma mungkin beda ledakannya.

Saat ini ramai di media-media online ucapan seorang mantan tokoh partai. Ucapannya tentang eksistensi Tuhan dianggap melecehkan keagungan dan kebesaran Tuhan. Sejumlah pengurus KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) sudah mengadukan masalah tersebut kepada penegak hukum. Juga beberapa pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Gerakan Pemuda Ansor pusat melakukan hal sama.

Sadarilah, wahai kaum elite, cuitan Anda menyinggung agama tertentu, itu hanya merugikan diri Anda dan agama Anda sendiri. Orang-orang seagama dengan Anda, belum tentu suka dengan ucapan Anda tersebut. Tidak ada jaminan bahwa ucapan Anda itu membuat orang lain menjadi tertarik dan kemudian masuk ke dalam agama Anda. Sebaliknya, yang pasti adalah bahwa ucapan itu memicu kegaduhan di negeri ini. 

Pemeluk agama di luar agama Anda pasti banyak tidak rela. Dan, kasus-kasus tertentu, ujaran pelecehan terhadap agama tertentu justru bisa menjadi penyebab pengucapnya dipenjara. Itulah wujud dari ungkapan lisanmu harimaumu. Gegara lisanmu liar dan berbisa, membuat dirimu dijerumuskan ke dalam penjara. 

Ironisnya, konflik akibat lisan kontroversial tidak hanya terjadi antarpemeluk agama. Misal, antara pemeluk agama A dengan agama B. Tetapi, sudah sering terjadi di internal satu agama. Hanya karena berbeda pemahaman, berbeda imam panutan, mereka bersitegang dan saling hujat. Ada mudah mengafirkan orang lain tidak sealiran. Agamanya sama tetapi saling olok. Sak dulur dewe ora iso akur. 

Hari-hari ini yang sedang viral dan hangat adalah kasus lisan dari Habib Bahar Smith (BS). Maaf, saya belum mengenal beliau. Saya belum pernah ketemu. Tetapi saya sudah beberapa kali menonton ungkapan-ungkapannya melalui video di channel YouTube. Media-media menyebut dia salah satu habib. Ungkapannya panas-panasan. Tensi tinggi.

BS menjalani proses pemeriksaan pak polisi. Di antara pernyataan-pernyataannya ada diduga hoaks, dan penyebaran berita bohong. Juga dinilai sebagai ujaran kebencian dan permusuhan. Wallahu a’lamu bishowab...

Saya sangat berharap, kegaduhan demi kegaduhan di masyarakat selama ini dapat segera berakhir. Mudah-mudahan tidak terus muncul lisan-lisan tidak terkontrol dengan baik. Terutama, di kalangan internal umat Islam.

Ajaran Islam sangat jelas. Islam tegas melarang umatnya berdusta. Karena dusta merupakan salah satu ciri dari sifak munafik. Orang munafik diancam neraka jahannam paling bawah. Saya yakin, mayoritas umat Islam sudah mengerti soal itu.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW tegas mengingatkan, barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir (Kiamat) hendaklah bertutur kata yang baik. Yang sopan. Jika tidak bisa sopan, ya lebih baik diam. Falyaqul khoiron au liyashmut.

Saya haqqulyaqin, Islam memerintahkan berdakwah dengan cara baik. Sopan santun dan ramah. Tidak dengan menghujat orang-orang berseberangan. Dakwah dalam Islam tidak dengan memprovokasi (ngompori jamaah) melawan pihak lain. Dakwah kok selalu teriak-teriak, tensi tinggi, menghujat dan mencaci maki sana-sini. 

Maaf, menurut saya, cara berdakwah seperti itu jauh dari ajaran Islam. Jauh dari apa sudah dicontohkan oleh Kanjeng Rasul Muhammad SAW. Juga, bertolak belakang dari apa sudah dilakukan para ulama (masyayikh) terdahulu, khususnya Wali Sanga.

*Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojongoro.

(bj/*/min/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia