Minggu, 23 Jan 2022
Radar Bojonegoro
Home / Pembaca
icon featured
Pembaca

Catatan Harian Sang Mayoret

Oleh : Nurkholis *

06 Desember 2021, 07: 10: 59 WIB | editor : Mohammad Yusuf Purwanto

Catatan Harian Sang Mayoret

Ilustrasi (SRI AGUSTINI/RDR.BJN)

Share this      

Senin, 10 Maret  
    AKU berangkat sekolah memakai kaos kaki putih yang sudah longgar. Aku selalu memberinya karet agar tetap rapi. Sepatu mulai ada yang berlubang. Aku baru  kelas lima. Nanti ketika masuk SMP  semoga bisa dibelikan.
    Hari ini aku senang sekali. Sekolahku membeli perlengkapan drum band. Aku lihat ketika upacara di alun-alun maupun di televisi, menjadi pemain drum band sangat mengasyikan.
    Apakah  aku diajak untuk main drum band? Tahu sendiri keadaaan orang tuaku. Sehari - hari ibu  harus mengumpulkan rosokan di sepanjang jalan. Kadang sampai di  rumah - rumah penduduk, sementara  bapakku sudah tua, sudah tidak sanggup bekerja.
    
Selasa, 11 Maret
    Jika ditanya ingin menjadi apa? Aku akan jawab menjadi mayoret.  Aku sering menirukan gaya mayoret ketika di rumah. Bahkan latihan tersenyum di depan cermin lemari usangku.
     Aku menjatuhkan tongkat mayoret ketika latihan di sekolah. Pak Kokohmenyuruh latihan  menggunakan gagang sapu dulu.
    Aku dibuatkan tongkat mayoret dari sapu lidi dan diberi gagang yang panjang oleh bapak. Aku berlatih menggunakan sapu itu. Tiap hari  menyapu membersihkan sampah, sesekali aku memainkan gagang sapu itu.
    Aku mencoba gaya butterflay seperti kupu-kupu yang sedang terbang. Caranya  bergantian mengambil ujung tongkat yang berputar. Aku berkali-kali gagal. Sapu lidi itu jatuh. Aku pelan memutarnya. Akhirnya bisa berputar semakin cepat.
    Aku harus menunjukkan pada Pak Kokoh dan yang lain bahwa aku mampu. Aku bisa seperti teman-teman mayoret lain. Kata guruku, modal menjadi mayoret dan gitapati memang kebanyakan tinggi dan cantik. Semua masih kurang bila wajahnya cemberut atau datar.
    Selain itu, ada satu lagi yaitu bisa tanggap memimpin pasukan.  Pak Kokoh memberikanku semangat dan petunjuk menggunakan tongkat mayoret serta cara menyiapkan pasukan.
    Sudah ada sepuluh wali murid yang ingin anaknya menjadi  mayoret drum band Syafana Al Ulum. Pak Catur yang masih berseragam polisi  juga ikut  mendaftarkan anaknya. Anak guruku juga ikutan daftar. Bu Kepala Desaku juga baru saja turun dari mobilnya mendaftar. Aku hanya bisa pasrah. Aku harus rajin berlatih itulah yang terpenting.

Rabu , 12 Maret
    Latihan drum band memang setiap sore selama seminggu ini karena akan ada perlombaan di kabupaten. Kami semangat ingin tampil. Rasanya capek sekali. 
    Hubunganku dengan mayoret lain masih kaku. Mbak Sinta dan Devina  tidak mau aku menjadi mayoret seperti mereka. Tiap aku ajak latihan dan main bersama, pasti mereka menolak.
    “Sini, kita berlatih bersama!” Dinda mendekatiku.
    “Ayo, Dinda!”
    Dinda meminta aku mengajarinya memutar tongkat mayoret. Aku mengajarinya sebisaku.
    “Ternyata sulit juga, ya Bel?” Dinda mengusap keringat di dahinya.
    Aku menggangguk cepat. Aku harus lebih sabar dan terus semangat latihan. Di depan gerbang sekolah, penonton ternyata banyak berjubel. Wali murid setiap sore hari juga ikut melihat latihan. Ramai dan seru pokoknya.
    

Kamis, 13 Maret
    Hari ini latihan lagu baru setelah lagu Bangun Pemudi Pemuda, lagu wajib yang penuh semangat. Baru beberapa kali latihan dari pagi sampai malam, kami sudah bisa dan ganti lagu dari Wali Band.
    Kami disuruh berkumpul di dalam kelas. Pak Kokoh dan pembina drum band memberi pengarahan. Semua diam menyimak penjelasan beliau. Udara sore ini sangat sejuk. Keringat di baju kami sudah mulai mengering, tersapu angin sore ini.
    Kostum mayoret sungguh indah. Aku membayangkan memakainya dan berjalan bersepatu hak tinggi. Melenggak-lenggok memainkan tongkat. Pasti  kostum itu harganya mahal. Lalu bagaimana? Ah, sudahlah. Penting latihan!
    Aku tidak berani bilang pada ibuku. Aku kasihan jika demi menjadi mayoret harus mencari uang untuk membeli baju itu. Tapi aku sangat ingin menjadi mayoret. Pipiku mengalir air bening. Aku segera mengusapnya agar ibu tidak melihat air mataku.
    “Apa yang kamu lakukan, Bella?”
    “Aku baik-baik saja, Bu.”
    “Cepat selesaikan cuci piringnya! Ibu mau ke warung sebelah dulu.”
    “Ya, Bu.”

Jumat, 14 Maret
    Hari ini aku belum bisa menjawab pertanyaan Pak Kokoh atau teman-teman. Apakah aku jadi ikut lomba di kabupaten. Aku masih menunggu untuk minta doa restu ibu.
    Senja berganti malam. Aku menutup jendela dan memeriksa air di kamar mandi berupa bak besar seperti gentong terbuat dari plastik. Airnya sudah penuh. Aku melihat pintu rumah untuk memastikan ibu pulang.
    “Assalamu’alaikum?”
    “Waalaikum salam warohmatullohi wabarokatuh.”
    Ibuku baru pulang dari memulung sampah botol. Aku segera menghampiri dan mencium tangannya. Beberapa hari  ini ibu pulang larut. Entah apa yang dilakukannya. Aku tidak tega menyampaikan berapa harga kostum mayoret yang akan aku pakai besok Minggu pagi.
    “Tenanglah, ibu tahu kamu memikirkan baju mayoret dan rias, kan?” Ibu membelai rambutku.
    Aku hanya menggangguk. Ibu mengeluarkan beberapa lembar pecahan berwarna merah. Ibu sudah menabung demi cita-citaku sebagai mayoret. Aku memeluk tubuh ibu semakin erat.
    
Sabtu, 15 Maret
    Hari ini latihan terakhir di jalanan sekitar sekolah. Wali murid banyak yang ikut berjalan dan sekedar melihat anak-anaknya main. Mbak Davina dan Sinta sudah atraksi memainkan tongkatnya. Aku dengan sedikit malu-malu  mengikuti gerakan mereka.
    Sebenarnya aku sudah berlatih beberapa kali melempar tongkat dan kemungkinan bila tongkat jatuh, apa yang harus dilakukan. Aku memilih diam saja untuk latihan kali ini.
    Malamnya aku tidak bisa tidur membayangkan bagaimana besok pagi. Mulai pukul 02.00 dini hari kumpul di sekolah karena banyak yang dirias. Meski masih gelap dan dingin, kami ingin tampil cantik dan antre menunggu perias datang.

Minggu, 16 Maret
    Aku sudah dirias, banyak yang mengajak foto karena katanya aku cantik dan berubah dari sebelumnya. Aku yang biasanya berkulit hitam kusam sekarang  putih bersih seperti puteri.
    Aku mencari ibuku yang datang membawa bekal sarapan. Aku cicipi sedikit saja telur mata sapi yang dimasak ibu seperti biasanya. Aku takut  lipstiknya hilang di bibirku. Maklum baru pertama dirias cantik.
    Mobil datang. Anak laki-laki naik truk bersama alatnya. Aku mau naik mobil rombongan mayoret. Perutku mual, kepalaku pusing. Keringat dingin membasahi riasanku. Aku mencoba naik mobil dengan ragu.
    Baru beberapa saat, aku meminta tisu dan kantong plastik pada Dinda.
    “Bu Mun, Bella mau mabuk, Bu!” kata Dinda di sampingku.
    Mobil behenti. Bu Mun menyuruh aku untuk minum dan memijit tengkukku.
    “Itu ada Pak Kokoh di belakang, Bu!”
    “Kamu panggil, Dinda! Bilang jika Bella  mabuk agar dibonceng saja.”
    Bu Mun membantu aku  turun dari mobil.Untungnya Pak Kokoh datang membawa motor. Bulu mata palsuku seakan mau terbang terkena angin. Aku menutupi mataku agar bulu mata itu tidak lepas. Pak Kokoh mengendarai motor pelan menuju ke alun-alun kota.
    Nomor  sudah terpasang di dadaku, entahlah Pak Kokoh yang menyuruh untuk memakainya. Sempat aku lihat mata Mbak Sinta menatapku. Nomor  gitapati diberikan pada Dinda. Semua penonton memadati tribun Alun-alun Bojonegoro. Jantungku berdetak cepat.
    “Nomor 13 grup drum band Syafana Al Ulum. Gitapati, sudah siapkah satuan Anda?” Tanya pembawa acara dengan lantang.
    “Siap.. graaaaaaak!”
    Pak Kokoh menyuruh kami menarik napas panjang. Tetap tersenyum tulus penuh percaya diri. Acungan jempol beliau berikan untuk kami. 
    “Band hand Up, “ kata Dinda lantang. Dijawab tu wa, sambil menurunkan stik pemukul.
    Beni membunyikan trio yang dipegangnya. Anak laki-laki sejumlah enam orang memainkan senar drumnya. Tepuk tangan membahana ketika dengan genitnya Dinda menyemangati pasukan.
    Pasukan bendera yang terdiri dari anak perempuan kelas dua sangat lucu dan menggemaskan. Mereka menari dengan kompak dan lincah. Tepuk tangan membahana. Kami semakin bersemangat menampilkan yang terbaik.
    Aku hampir melakukan kesalahan ketika baru mulai. Tongkatku jatuh. Aku harus konsentrasi dan  penuh percaya diri. Aku ambil  tongkat dengan  kaki dan kutendang  ujungnya. Tongkat naik, lalu  aku lemparkan ke udara. Aku dengan tenang menangkap tongkat mayoret itu. Aku tersenyum lega. Penonton  memberi tepuk tangan.
        Syafana Al Ulum baru pertama kali muncul dari desa sudah mencuri perhatian. Pak Kokoh sepanjang jalan mengingatkan untuk menjaga jarak barisan dan menyamakan langkah kaki. 
    Rasanya sulit digambarkan. Bahagia dan terharu. Tidak menyangka kami bisa tampil bersama grup drum band dari kota yang bagus –bagus.
    Di tanganku kini tergenggam piala juara 1 mayoret dan Dinda memegang juara 2 Gitapati. Pasukanku juga juara 1 kategori nonbrass tanpa terompet. Kami mengungguli  juara bertahan SD  kabupaten tahun lalu.  
    Aku lihat ibuku di antara penonton. Topi dari bambu itu yang selalu dipakainya. Ibu memungut botol minuman sambil mengusap air matanya. Aku berlari menuju ibuku yang berada di dekat lapangan tenis.  Aku tidak peduli lagi  ketika semua mata memandangku.  Aku peluk  tubuh ibu.
     “ Bella, kamu jadi mayoret cantik sekali.”
    

*) Penulis adalah Guru MI Al Ulum Guyangan, Trucuk, Bojonegoro.

Baca juga: Makna Sebuah Takdir, Resensi dari Berdamai dengan Takdir

(bj/*/min/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia