Minggu, 23 Jan 2022
Radar Bojonegoro
Home / Pembaca
icon featured
Pembaca

INTOLERANSI GURU, BOOM WAKTU DISINTEGRASI BANGSA

Jerry Puspitasari, S.Pd., M.Pd. *

01 Januari 2022, 12: 39: 26 WIB | editor : Mohammad Yusuf Purwanto

INTOLERANSI GURU, BOOM WAKTU DISINTEGRASI BANGSA

Jerry Puspitasari, S.Pd., M.Pd. (Istimewa)

Share this      

MASYARAKAT Indonesia sangatlah heterogen, terdapat banyak perbedaan dalam berbagai bidang, seperti suku, bangsa, ras, keyakinan, dan antargolongan. Keberagaman di Indonesia harus diimbangi dengan sikap toleransi pada warganya untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang majemuk.

Sikap toleransi dikembangkan untuk menghormati perbedaan pendapat, kepentingan baik dalam hal perbedaan agama, perbedaan ras, dan perbedaan budaya yang dimiliki kelompok atau individu. Keberagaman dalam masyarakat Indonesia yang kurang dipahami inilah menyebabkan sikap intoleransi. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, intoleransi adalah paham atau pandangan yang mengabaikan seluruh nilai-nilai dalam toleransi.

PPIM UIN melalui proyek Convey Indonesia mengumumkan survei terbarunya mengenai guru. Berjudul “Pelita yang Meredup: Potret Keberagaman Guru di Indonesia”, survei tersebut menegaskan sebagian besar guru di Indonesia memiliki kecenderungan intoleran dan radikal, sehingga dapat memengaruhi tren intoleransi pada generasi muda.

Baca juga: Bintang Remang-Remang

Kurangnya pemahaman mengenai toleransi oleh guru tentu saja berdampak besar bagi siswanya. Sangatlah berbahaya jika guru tidak mempunyai sikap toleransi kepada sesama manusia. Contohnya ketika seorang guru menjadi figur siswanya namun bersikap intoleran, ketika ada orang meninggal di belakang gedung sekolah berada. Salah seorang oknum guru tidak memberi akses untuk membantu meringankan beban keluarga korban dengan cara memberi akses masuk halaman sekolah yang menjadi satu-satunya akses untuk mobil keluarga almarhum menurunkan kardus air minum yang jumlahnya tidak seberapa. Bahkan karena sikap intolerannya oknum guru tersebut bahkan memarahi keluarga korban untuk memarkir mobil yang digunakan oleh keluarga almarhum jauh dari lingkungan sekolah.

“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” tentu saja peribahasa ini sangat tidak patut ditiru, karena siswanya akan berbuat hal yang sama, bahkan lebih intoleran dari yang dilakukan oknum guru. Menjadi guru tentu bukan hanya sekadar pekerjaan mudah, karena setiap tindakan pasti akan ditiru oleh siswanya. 

Dampak negatif intoleransi dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dampak negatif kurangnya pemahaman atas keberagaman, yaitu: Adanya perpecahan bangsa yang terjadi karena konflik sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Bisa karena ekonomi, status sosial, ras, suku, agama, dan kebudayaan. Sikap mementingkan kelompok dan kebudayaan sendiri lebih baik, akan menimbulkan sikap merendahkan kebudayaan lainnya. Sikap ini mendorong konflik antarkelompok yang bisa membuat disintegrasi bangsa. 

Seorang guru yang intoleran, apalagi radikal, tentu sesekali tanpa sadar akan mentranfer pengetahuan mereka kepada peserta didik. Dalam model pembelajaran yang teacher center, yakni posisi guru utama, bukan hal yang mengherankan jika siswa akan menelan mentah-mentah apa yang disampaikan gurunya. Sebagai guru yang sosoknya cenderung dihormati peserta didik, tentu apa yang mereka sampaikan akan dikonstruksi sebagai kebenaran. Hampir bisa dipastikan guru yang intoleran akan menghasilkan peserta didik yang intoleran pula.

Cara menghindari sikap intoleransi, dalam buku Pluralisme, Konflik, dan Perdamaian (2002) oleh Elga Sarapung, beberapa cara menghindari sikap intoleransi adalah tidak memaksakan kehendak pribadi kepada orang lain, peduli terhadap lingkungan sekitar, tidak mementingkan suku bangsa sendiri atau sikap yang menganggap suku bangsanya lebih baik, tidak menonjolkan suku, agama, ras, golongan, maupun budaya tertentu, tidak menempuh tindakan yang melanggar norma untuk mencapai tujuan, tidak mencari keuntungan diri sendiri daripada kesejahteraan orang lain.

Intoleransi di sekolah bisa diminimalisir dengan peran kepala sekolah sebagai leader dan penentu perubahan di sekolah. Kepala sekolah harus mempunyai trik agar praktik intoleransi tidak berkembang, misalnya dengan mengirim guru yang di bawahinya untuk mengikuti diskusi, seminar tentang toleransi, memberikan briefing tentang penguatan toleransi.

Dalam proses belajar-mengajar, sudah lazim terjadi di kelas guru tidak selalu menyampaikan materi kurikulum saja. Dalam rangka mengisi waktu dan memberikan penjelasan di kelas, tidak terhindarkan jika guru akan menyelipkan nasihat dan berbagai penjelasan lain yang dirasa penting di sela mereka mengajar. Nasehat yang baik tentus aja yang diharapkan, namun jika guru mempunyai sikap intoleran dan tersampaikan kepada siswanya maka hal inilah BOOM WAKTU yang akan menjadi ancaman disintegrasi bangsa. Coba renungkan dari sekarang!!!!

*) Peraih Medali Emas Olimpiade Nasional Guru 2016

Guru SMAN 1 Jepon

Email: ceery_ps@ymail.com

(bj/*/min/JPR)

 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia