RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bojonegoro yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung tembakau terbesar di Jawa Timur kini menghadapi ironi pahit. Harga tembakau rajang yang seharusnya menjadi penopang ekonomi ribuan petani justru ambruk hingga nyaris tak bernilai.
Dari harga stabil Rp 45.000–Rp 50.000 per kg pada musim lalu, kini tembakau hanya dihargai Rp 20.000–Rp35.000 per kg. Situasi ini membuat petani merugi besar, sebab biaya produksi di tingkat petani jauh di atas harga jual yang berlaku.
“Biaya pupuk, tenaga kerja, dan pengolahan sudah melambung. Harga jual segini sama saja rugi,” keluh seorang petani tembakau asal Kecamatan Margomulyo.
Data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian setempat menunjukkan luas tanam tembakau Bojonegoro tahun ini mencapai lebih dari 11 ribu hektar. Sebagian besar di wilayah Kedungadem, Sugihwaras, hingga Baureno. Namun panen melimpah itu tak sejalan dengan pendapatan. Petani justru mengaku semakin terhimpit, karena stok melimpah dan kualitas daun menurun akibat cuaca tidak menentu.
Masalah tak berhenti di lahan pertanian. Rantai industri rokok lokal pun ikut terguncang. Mitra Produksi Sigaret (MPS) Padangan,salah satu pabrik rokok besar di Bojonegoro, terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Tercatat 596 pekerja diberhentikan dalam beberapa gelombang efisiensi. Dampaknya akan langsung terasa di masyarakat: warung makan, kos-kosan, hingga pedagang kecil di sekitar pabrik kehilangan banyak pelanggan.
Kondisi ini memperlihatkan betapa rawannya struktur ekonomi Bojonegoro yang bertumpu pada dua komoditas besar: Migas dan tembakau. Jika harga migas turun, APBD terguncang. Jika harga tembakau jatuh, rakyat kecil yang merana.
Sebuah ironi di Bojonegoro. Tembakau yang dulu disebut “emas hijau” kini menjadi beban berat. Petani merugi, buruh kehilangan kerja, dan ekonomi pedesaan tersedak. Jika tak segera ada langkah konkret, Bojonegoro bukan hanya kehilangan kejayaan tembakaunya, tetapi juga menghadapi krisis sosial-ekonomi berkepanjangan. Upaya pengentasan kemiskinan, yang jumlahnya masih cukup besar di Bojonegoro, akan terkendala. Bukan semakin menurunkan angka kemiskinan, sebaliknya justru akan semakin meningkatkan. (feb)
Editor : Yuan Edo Ramadhana