Oleh:
Oryz Setiawan
Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (The Indonesian Public Health Union /IPHU) Cabang Bojonegoro
Di tengah kemeriahan dan euforia lebaran, masyarakat harus tetap waspada terhadap potensi penularan berbagai penyakit. Mobilitas penduduk dan berbagai keramaian tentu menjadi salah satu media transmisi penyakit terutama yang tergolong air borne disease atau penyakit yang menular melalui media udara seperti batuk pilek, influenza, cacar air, gondongan, campak, batuk rejan (pertussis), TBC, difteri termasuk Covid-19. Selain itu salah satu potensi penyakit yang patut diwaspadai adalah penyakit Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau penyakit tangan kaki mulut adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dari genus Enterovirus. HFMD saat ini disebut juga disebut Flu Singapura dimana karakteristik penyakit ini mudah menular dan sering menyerang bayi juga anak-anak di bawah usia lima tahun atau bahkan anak-anak usia 5–10 tahun. Walaupun lebih sering menyerang anak-anak, flu Singapura juga bisa menyerang orang dewasa. Virus penyebab flu Singapura hidup di cairan hidung dan tenggorokan, air liur, tinja, serta cairan dari lepuh pada kulit. HFMD umumnya diawali dengan demam, nyeri tenggorokan atau menelan, nafsu makan yang menurun, dan nyeri/tidak enak badan.
Setelah demam satu sampai dua hari, timbul bintik-bintik merah di rongga mulut (umumnya berawal di bagian belakang langit-langit mulut) yang kemudian pecah menjadi sariawan. Kemudian, 1-2 hari timbul juga ruam-ruam kulit dan bintik-bintik merah di telapak tangan dan kaki. Meskipun kelainan selaput lendir dan kulit pada HFMD terutama melibatkan rongga mulut, telapak tangan dan kaki, namun ruam dapat juga timbul di tungkai, lengan, bokong dan kulit sekitar kemaluan. Orang dewasa dan orang dengan sistem kekebalan tubuh baik mungkin saja terinfeksi virus HFMD namun tidak menunjukkan gejala sama sekali (asimtomatik). Oleh karena itu masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan dan kebersihan selama perjalanan mudik dengan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menerapkan etika batuk atau bersin. Selain itu, masyarakat diminta menghindari kontak langsung dengan orang yang terinfeksi serta tetap menjaga kebersihan di kampung halamannya untuk mengurangi risiko adanya demam berdarah dengue, sebab saat ini kondisi perubahan cuaca sangat memungkinkan terjadinya perkembangbiakan nyamuk aedes aegypty yang menjadi vector penularan demam berdarah terutama pada kelompok rentan seperti bayi, balita dan anak-anak.
Tetap Bugar Pasca Lebaran
Usai sudah aktivitas ritual tahunan yakni mudik dan lebaran dimana kini harus kembali menjalani aktivitas sediakala dan melaksanakan rangkaian pekerjaan keseharian, sekolah, kuliah, hingga rutinitas sehari-hari. Sudah 1-2 minggu berlebaran bersama dikampung halaman dengan berbagai cerita dengan sanak saudara, keluarga besar, tetangga maupun teman sepermainan dulu. Intinya berreuni, berbagai cerita selama di perantauan hingga mengukur sederet parameter kesuksesan. Perjalanan mudik, berlebaran hingga kembali ke kota (balik) memerlukan stamina dan kebugaran yang prima baik fisik maupun psikis. Hiruk pikuk mudik misalnya, perlu kecermatan dalam persiapan mudik terutama transportasi yang digunakan. Menggunakan kendaraan pribadi, angkutan umum dan fasilitas transportasi lain juga memerlukan perhitungan yang matang baik sisi finansial, stamina semua personil, perbekalan selama diperjalanan hingga oleh-oleh ke kampung dan pada akhirnya juga kembali ke kota lagi.
Di sisi lain terdapat aneka makanan, jajanan tersaji ketika momen lebaran bahkan sentra-sentra kuliner tengah menjamur menawarkan berbagai menu yang menarik, terjangkau dan beraroma kelezatan. Memang perlu mewaspadaan terutama pada kelompok rentan seperti usia lanjut, komorbid dan mereka yang memiliki resiko kesehatan seperti kolesterol, gula, asam urat dan tekanan darah tinggi dimana harus lebih mengendalikan konsumsi dan selektif. Saat ini diduga banyak makanan yang beredar di pasaran memiliki kadar komposisi gula, tinggi minyak, garam, kolesterol yang tinggi. Hal ini muncul ketika makanan yang dijual tidak memperhatikan kebersihan, keamanan dan standarisasi komposisi makanan. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa makanan yang dijual pada umumnya memiliki resiko menimbulkan penyakit yang lebih tinggi daripada membuat makanan secara mandiri.
Proses pembuatan apakah memenuhi standart kebersihan dan keamanan juga tidak sepenuhnya dapat dijamin. Murah dan enak seakan menjadi jargon penjual makanan dewasa ini. Selain itu meski sudah terstandar namun bila mengkonsumsi secara berlebihan juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan baik skala ringan (sebah, mual) hingga berskala sedang-mengarah ke gangguan yang kronis (muntaber, asam urat, kolesterol naik hingga dapat juga berpotensi gangguan jantung. Kondisi tersebut tentui tidak diinginkan bersama. Dalam Agama Islam disunnahkan menjalankan ibadah puasa Syawal. Bahwa puasa Syawal itu dilakukan selama enam hari (boleh berurutan maupun tidak). Lafazh hadits di atas adalah: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim No. 1164). Semoga kita semua dapat menjalankan aktivitas lebaran termasuk Ketika balik dari kampung halaman dengan tetap sehat dan Kembali beraktivitas seperti sedia kala. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana