alexametrics
29.9 C
Bojonegoro
Thursday, May 19, 2022

Mundzar Fahman *

SE Menteri Agama dan Afwaja

SURAT edaran (SE) Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas memicu reaksi beragam dari kalangan umat Islam. Ada pro dan kontra. SE Menag Nomor 5/2022 itu masih gres. Tertanggal 18 Februari 2022. Isinya tentang pedoman penggunaan pengeras suara di masjid dan musala.

 

Umat yang pro menganggap tidak ada perlu dipermasalahkan. Tetapi, umat yang kontra, menganggap SE membatasi kebebasan penggunaan pengeras suara di masjid atau di musala. Mereka memprotes keras ucapan Menag yang mereka anggap membandingkan suara azan dengan gonggongan anjing.

 

Karena ada pro-kontra tajam itu saya lalu mencoba mencermati isi SE Menag. Menurut saya, isinya ternyata biasa-biasa saja. Tidak berbeda jauh dengan apa selama ini sudah menjadi kebiasaan di kalangan sebagian wong Islam. SE hanya mengatur agar penggunaan pengeras suara di masjid dan musala dapat lebih baik. Dan mampu menciptakan suasana lebih tenang di dalam lingkungan.

 

Sebagai salah satu contoh isi SE Menag. Penggunaan pengeras suara untuk azan dan iqamah boleh saja dipancarkan keluar masjid. Bahkan, sebelum azan, jika biasanya dilakukan tarhiman, ya disilakan. Waktunya antara 5 hingga 10 menit sebelum azan dikumandangkan. Bukankah itu sudah cukup? Apakah tarhiman 10 menit sebelum azan masih kurang lama?

 

Almarhum Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid, ketua umum PB NU) pernah mengkritik penggunaan pengeras suara di masjid. Kritik dimuat dalam Majalah Tempo edisi 20 Februari 1982. Sudah amat lama. Empat puluh tahun lalu. Kemudian dipublis kembali di NU Online (nu.or.id).

 

Menurut Gus Dur, jika tarhim dengan pengeras suara dimaksudkan membangunkan orang-orang sedang tidur, itu sangat tidak perlu. Kata beliau, pertama, orang tidur tidak terkena kewajiban syariat. Ora usah ditangeni.  Kedua, orang tidak tidur juga tidak ada kewajiban membangunkan orang lagi tidur. Kecuali, jika ada alasan (illat) tertentu. Misal, kiai atau guru membangunkan santri-santrinya untuk pembentukan karakter disiplin. Atau, istri membangunkan suaminya agar si suami dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Baca Juga :  MENELISIK FLEKSIBILITAS KURIKULUM MERDEKA

 

Ketiga, umat Islam di sekitar masjid juga belum tentu saat itu semua terkena kewajiban menunaikan Salat Subuh. Misal, wanita-wanita sedang berhalangan (udzur syar’i). Atau, anak-anak kecil belum baligh. Belum dewasa. Atau, orang-orang sedang sakit tertentu sangat butuh istirahat. Butuh suasana tenang.

 

Intinya, menurut Gus Dur, tidak perlu berlama-lama tarhiman sebelum Subuh dengan menggunakan pengeras suara. Apalagi, volumenya dipoll-no. Dikhawatirkan bisa mengganggu ketenangan sebagian warga.

 

Saya menduga, reaksi keras terhadap SE Menag disebabkan beberapa faktor. Pertama, mungkin mereka  tidak/belum membaca isi SE tersebut. Atau, baru membaca sekilas dan belum memahami isinya secara benar.

 

Kedua, mungklin mereka terprovokasi oleh isi video diduga sudah dipotong-potong oleh orang-orang tertentu itu. Video berisi pernyataan Menag Yaqut, dikesankan seolah-olah pak menteri membandingkan suara azan dengan gonggongan anjing.

 

Ketiga, mungkin mereka yang protes keras itu sudah telanjur tidak suka pada Menag. Beberapa waktu lalu Menag sudah melontarkan pernyataan yang mereka anggap kontroversial. Misal, pernyataan Menag bahwa Kementerian Agama bukan hadiah negara untuk umat Islam Indonesia seluruhnya, melainkan hadiah untuk Nahdlatul Ulama. Juga, pernyataan Menag tentang perayaan Natal dan Tahun Baru.

Baca Juga :  Aji Mumpung, Pungli, dan Korupsi

 

Saya sangat prihatin menyaksikan hiruk-pikuknya hujatan dari kalangan wong Islam terkait SE Menag itu. Ada yang menghujat dengan kata-kata. Ada yang sampai menuntut agar Menag Yaqut diberhentikan dari jabatannya. Juga, ada yang mendesak Kapolri mengadili pak menteri. Jika Menag Yaqut tidak diadili, atau tidak diberhentikan, mereka menganggap pejabat yang berwenang sama dengan Menag Yaqut. Ngeri dehhh…

 

Saya menduga, munculnya hujatan mereka yang amat keras itu lebih karena diprovokasi oleh isi video sudah dipalsukan itu. Konon, video asli berdurasi 2.50 (hampir tiga menit, atau 170 detik). Sedangkan video yang banyak beredar di medsos hanya berdurasi sekitar 30 detik.

 

Karena itu, sadarlah wahai saudara-saudaraku! Mengubah ataupun memotong isi video yang asli kemudian menyebarkannya, itu hukumannya berat. Hukuman dari undang-undang maupun hukuman dari Tuhan. Janganlah kita yang beragama menjadi penyebar fitnah. Kita jangan menjadi ahli fitnah wal jamaah (afwaja). Dalam pandangan Tuhan, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Ancaman pidananya juga tidak ringan.

 

Wahai saudara-saudaraku! Janganlah kita ini mudah percaya sebuah informasi. Apalagi di zaman now. Saat ini makin sulit mencari informasi yang benar. Yang sering terjadi adalah berita-berita hoaks. Perlu tabayun (klarifikasi). Perlu konfirmasi. Janganlah kita malah menjadi pembuat dan penyebar berita hoaks. Jangan pula menjadi konsumen kabar bohong. Jangan gampang dihasut. Jangan muda diprovokasi oleh kabar-kabar  sesat dan menyesatkan (dhalla wa adhalla). Naudzubillahi…

 

* Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro.

SURAT edaran (SE) Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas memicu reaksi beragam dari kalangan umat Islam. Ada pro dan kontra. SE Menag Nomor 5/2022 itu masih gres. Tertanggal 18 Februari 2022. Isinya tentang pedoman penggunaan pengeras suara di masjid dan musala.

 

Umat yang pro menganggap tidak ada perlu dipermasalahkan. Tetapi, umat yang kontra, menganggap SE membatasi kebebasan penggunaan pengeras suara di masjid atau di musala. Mereka memprotes keras ucapan Menag yang mereka anggap membandingkan suara azan dengan gonggongan anjing.

 

Karena ada pro-kontra tajam itu saya lalu mencoba mencermati isi SE Menag. Menurut saya, isinya ternyata biasa-biasa saja. Tidak berbeda jauh dengan apa selama ini sudah menjadi kebiasaan di kalangan sebagian wong Islam. SE hanya mengatur agar penggunaan pengeras suara di masjid dan musala dapat lebih baik. Dan mampu menciptakan suasana lebih tenang di dalam lingkungan.

 

Sebagai salah satu contoh isi SE Menag. Penggunaan pengeras suara untuk azan dan iqamah boleh saja dipancarkan keluar masjid. Bahkan, sebelum azan, jika biasanya dilakukan tarhiman, ya disilakan. Waktunya antara 5 hingga 10 menit sebelum azan dikumandangkan. Bukankah itu sudah cukup? Apakah tarhiman 10 menit sebelum azan masih kurang lama?

 

Almarhum Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid, ketua umum PB NU) pernah mengkritik penggunaan pengeras suara di masjid. Kritik dimuat dalam Majalah Tempo edisi 20 Februari 1982. Sudah amat lama. Empat puluh tahun lalu. Kemudian dipublis kembali di NU Online (nu.or.id).

 

Menurut Gus Dur, jika tarhim dengan pengeras suara dimaksudkan membangunkan orang-orang sedang tidur, itu sangat tidak perlu. Kata beliau, pertama, orang tidur tidak terkena kewajiban syariat. Ora usah ditangeni.  Kedua, orang tidak tidur juga tidak ada kewajiban membangunkan orang lagi tidur. Kecuali, jika ada alasan (illat) tertentu. Misal, kiai atau guru membangunkan santri-santrinya untuk pembentukan karakter disiplin. Atau, istri membangunkan suaminya agar si suami dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Baca Juga :  Aji Mumpung, Pungli, dan Korupsi

 

Ketiga, umat Islam di sekitar masjid juga belum tentu saat itu semua terkena kewajiban menunaikan Salat Subuh. Misal, wanita-wanita sedang berhalangan (udzur syar’i). Atau, anak-anak kecil belum baligh. Belum dewasa. Atau, orang-orang sedang sakit tertentu sangat butuh istirahat. Butuh suasana tenang.

 

Intinya, menurut Gus Dur, tidak perlu berlama-lama tarhiman sebelum Subuh dengan menggunakan pengeras suara. Apalagi, volumenya dipoll-no. Dikhawatirkan bisa mengganggu ketenangan sebagian warga.

 

Saya menduga, reaksi keras terhadap SE Menag disebabkan beberapa faktor. Pertama, mungkin mereka  tidak/belum membaca isi SE tersebut. Atau, baru membaca sekilas dan belum memahami isinya secara benar.

 

Kedua, mungklin mereka terprovokasi oleh isi video diduga sudah dipotong-potong oleh orang-orang tertentu itu. Video berisi pernyataan Menag Yaqut, dikesankan seolah-olah pak menteri membandingkan suara azan dengan gonggongan anjing.

 

Ketiga, mungkin mereka yang protes keras itu sudah telanjur tidak suka pada Menag. Beberapa waktu lalu Menag sudah melontarkan pernyataan yang mereka anggap kontroversial. Misal, pernyataan Menag bahwa Kementerian Agama bukan hadiah negara untuk umat Islam Indonesia seluruhnya, melainkan hadiah untuk Nahdlatul Ulama. Juga, pernyataan Menag tentang perayaan Natal dan Tahun Baru.

Baca Juga :  DPKCK Tak Mampu Tuntaskan Pembangunan Trotoar Tahun Ini

 

Saya sangat prihatin menyaksikan hiruk-pikuknya hujatan dari kalangan wong Islam terkait SE Menag itu. Ada yang menghujat dengan kata-kata. Ada yang sampai menuntut agar Menag Yaqut diberhentikan dari jabatannya. Juga, ada yang mendesak Kapolri mengadili pak menteri. Jika Menag Yaqut tidak diadili, atau tidak diberhentikan, mereka menganggap pejabat yang berwenang sama dengan Menag Yaqut. Ngeri dehhh…

 

Saya menduga, munculnya hujatan mereka yang amat keras itu lebih karena diprovokasi oleh isi video sudah dipalsukan itu. Konon, video asli berdurasi 2.50 (hampir tiga menit, atau 170 detik). Sedangkan video yang banyak beredar di medsos hanya berdurasi sekitar 30 detik.

 

Karena itu, sadarlah wahai saudara-saudaraku! Mengubah ataupun memotong isi video yang asli kemudian menyebarkannya, itu hukumannya berat. Hukuman dari undang-undang maupun hukuman dari Tuhan. Janganlah kita yang beragama menjadi penyebar fitnah. Kita jangan menjadi ahli fitnah wal jamaah (afwaja). Dalam pandangan Tuhan, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Ancaman pidananya juga tidak ringan.

 

Wahai saudara-saudaraku! Janganlah kita ini mudah percaya sebuah informasi. Apalagi di zaman now. Saat ini makin sulit mencari informasi yang benar. Yang sering terjadi adalah berita-berita hoaks. Perlu tabayun (klarifikasi). Perlu konfirmasi. Janganlah kita malah menjadi pembuat dan penyebar berita hoaks. Jangan pula menjadi konsumen kabar bohong. Jangan gampang dihasut. Jangan muda diprovokasi oleh kabar-kabar  sesat dan menyesatkan (dhalla wa adhalla). Naudzubillahi…

 

* Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro.

Previous articlePencari Kroto
Next articleSentuhan Baru Barongan

Artikel Terkait

Harmonisme Puasa

Demo dan Pengeroyokan Armando

Most Read

Artikel Terbaru


/