Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Opini: Ramadan di Bawah Bayang-Bayang Pasar

M
Penulis: Muhammad Suaeb❯

Teori Troli Belanja.
Teori Troli Belanja.


Advertisement

 

Oleh:
Suprapto Estede
Dosen STIEKIA Bojonegoro

 

SETIAP Ramadan, grafik konsumsi nasional menanjak. Belanja bahan pokok meningkat, pusat perbelanjaan dipadati pengunjung, diskon “Ramadan Sale” berseliweran di berbagai platform digital, dan industri kuliner meraup omzet yang signifikan. Di satu sisi, ini menggembirakan karena roda ekonomi bergerak. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang tak sederhana: apakah lonjakan konsumsi ini menandakan spiritualitas yang menguat, atau justru Ramadan sedang direduksi oleh logika pasar?

Puasa mengajarkan pengendalian hasrat, kesederhanaan, dan empati kepada mereka yang kekurangan. Secara spiritual, Ramadan adalah momentum tazkiyah, proses penyucian jiwa. Lapar bukan tujuan, melainkan sarana untuk menata orientasi hidup.

Advertisement

Namun realitas sosial memperlihatkan paradoks. Bulan yang seharusnya melatih pengurangan justru kerap menjadi bulan penambahan. Menu berbuka lebih mewah dari biasanya. Pakaian baru menjadi semacam kewajiban sosial. Hampir semua sektor bisnis memanfaatkan simbol-simbol religius untuk memperkuat daya tarik produk. Ayat dan hadis menghiasi iklan. Nuansa islami menjadi kemasan yang menjual.

Di sinilah muncul fenomena yang bisa disebut sebagai kapitalisasi Ramadan: ketika nilai sakral bertemu dengan strategi komersial. Simbol agama tidak lagi hanya mengandung pesan spiritual, tetapi juga nilai tukar. Ramadan menjadi momentum musiman yang dirancang dalam kalender pemasaran.

Apakah ini berarti agama kalah oleh pasar? Jawabannya tidak sesederhana itu.

Advertisement

Islam tidak pernah memusuhi aktivitas ekonomi. Perdagangan adalah bagian dari sejarah peradaban Muslim. Keuntungan bukan sesuatu yang tabu. Bahkan, Ramadan bisa menjadi berkah ekonomi bagi pedagang kecil, pelaku UMKM, hingga pekerja sektor informal. Banyak keluarga menggantungkan harapan pada meningkatnya permintaan selama bulan ini.

Masalahnya bukan pada aktivitas ekonominya, melainkan pada orientasinya. Ketika konsumsi didorong oleh kesadaran berbagi, memperkuat ekonomi rakyat, dan menjaga proporsionalitas, maka pasar bisa berjalan seiring dengan spiritualitas. Tetapi ketika konsumsi berubah menjadi ajang pamer, pelampiasan nafsu setelah seharian menahan lapar, atau sekadar mengikuti tekanan sosial, maka yang terjadi adalah reduksi makna.

Ramadan pada akhirnya adalah ujian kesalehan sosial. Kesalehan tidak berhenti pada ritual individual seperti shalat dan tilawah. Ia diuji dalam cara kita membelanjakan uang, menentukan prioritas, dan memperlakukan sesama dalam transaksi ekonomi.

Apakah kita menaikkan harga secara tidak wajar karena permintaan tinggi? Apakah kita berbelanja secara berlebihan sementara di sekitar kita banyak yang kesulitan kebutuhan pokok? Apakah zakat dan sedekah kita sekadar menggugurkan kewajiban, atau sungguh menjadi instrumen pemberdayaan?

Lonjakan konsumsi bisa dibaca sebagai cermin. Ia memantulkan kondisi batin kolektif kita. Jika peningkatan belanja diiringi dengan peningkatan empati, distribusi yang lebih adil, dan penguatan solidaritas, maka itu adalah tanda kehidupan sosial yang sehat. Tetapi jika yang meningkat hanya pengeluaran tanpa kesadaran, maka ada yang perlu dievaluasi.

Paradoks Ramadan terletak pada pertarungan halus antara pengendalian diri dan dorongan pasar. Iklan, media sosial, dan budaya populer bekerja tanpa henti membentuk persepsi tentang “Ramadan ideal”: meja penuh hidangan, busana seragam keluarga, hampers berharga tinggi, dan perayaan yang serba estetis. Tanpa disadari, standar spiritual pun bergeser menjadi standar visual. Padahal, inti Ramadan bukan pada apa yang tampak, melainkan pada apa yang berubah di dalam diri. Ramadan mengajarkan bahwa manusia tidak boleh sepenuhnya tunduk pada logika pasar. Ada nilai yang lebih tinggi dari sekadar permintaan dan penawaran, yakni keadilan, keseimbangan, dan keberkahan.

Yang lebih mendesak adalah menata kesadaran. Konsumsi bukan untuk dilarang, tetapi untuk dikendalikan. Perayaan bukan untuk dihapuskan, tetapi untuk dimaknai ulang. Ramadan seharusnya menjadi momen ketika etika mengoreksi ekonomi, bukan sebaliknya.

Di tengah gegap gempita promosi, Ramadan tetap menghadirkan satu ujian mendasar: siapa yang memimpin hidup kita? nilai atau nafsu, kesadaran atau konsumsi? Jawaban atas pertanyaan ini tidak ditentukan oleh pasar, melainkan oleh pilihan kita sendiri. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kepribadian Seseorang Bisa Berubah? Ini Penjelasan dari Sisi Psikologi

Kepribadian Seseorang Bisa Berubah? Ini Penjelasan dari Sisi Psikologi

Kepribadian sering dianggap sebagai sesuatu yang melekat pada diri seseorang sejak lama. Orang yang dikenal pendiam, misalnya, kerap dianggap akan selalu menjadi pribadi yang tertutup.

Mengenal Beragam Tipe Kepribadian dan Karakter yang Dimiliki Setiap Orang

Mengenal Beragam Tipe Kepribadian dan Karakter yang Dimiliki Setiap Orang

Setiap orang memiliki kepribadian dan karakter yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat terlihat dari cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, berkomunikasi, merespons masalah hingga berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

BPJS Ketenagakerjaan Bojonegoro Peduli Lingkungan: Gelar Employee Volunteering Tanam 60 Pohon Alpukat

BPJS Ketenagakerjaan Bojonegoro Peduli Lingkungan: Gelar Employee Volunteering Tanam 60 Pohon Alpukat

Konsep Employee Volunteering menjadi salah satu program sosial lingkungan yang dijalankan BPJS Ketenagakerjaan di berbagai daerah di Indonesia. Penanaman puluhan pohon alpukat dipilih karena memiliki manfaat ganda. 

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer